YMH : Evaluasi Program Pencegahan HIV/AIDS Bagi PSP

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID –
Yayasan Mitra Husada (YMH) selaku Sub-Sub Recepient (SSR) program pencegahan HIV pada komunitas pekerja seks perempuan (PSP) menggelar pertemuan kordinasi dengan stakeholder mulai dari civil society organizations (CSO), OPD terkait, serta pendamping ODHA.
Pertemuan itu berlangsung di R.M.Lokarasa, Jl. Pengayoman, Makassar, Selasa, 14 November 2023.
Dari pertemuan tersebut seluruh pemangku kepentingan berbagi pengetahuan, dan merumuskan strategi yang komprehensif dan efektif, termasuk pada capaian jangkauan (Outreach) PSP.
Diketahui Outreach merupakan salah satu metode pendampingan ODHA yang digunakan oleh pendamping dari berbagai lembaga untuk mencegah penularan HIV dan menanggulangi infeksi HIV.
Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulsel Andi Iskandar Harun menjadi pembicara pada forum ini. Ia mengatakan perlu menggunakan metode baru yakni Virtual Outreach (VO) untuk meningkatkan capaian.
“Pendampingan pekerja seks itu sebenarnya kan sejak program ini dirintis, Outreach itu sebuah aktivitas yang sangat baik dan efektif, tetapi belakangan ini sejak dunia tekhnologi berkembang, itu juga kita punya adaptasi bagaimana kita menjangkau komunitas PSP salah satunya dengan VO,” kata Iskandar.
Iskandar menjelaskan dari metode pendekatan VO ini dinilai sangat efektif dalam proses pendampingan, tujuannya ialah bagaimana PSP mau melakukan testing HIV. Terlebih PSP banyak yang menggunakan aplikasi media sosial.
“VO ini hanya menemukan klien (PSP) yang sekarang main di dunia maya digital, nah dari situ kemudian baru kita mampu melakukan perubahan perilaku secara daring juga misalnya pemberian informasi, membangun kepercayaan, meningkatkan pengetahuannya, memberikan informasi tentang akses layanan, sampai pada menggiring mereka kepada perubahan perilaku dengan menggiring mereka untuk mengetahui status HIV nya,” terangnya.
Menurutnya para pendamping menggunakan metode lama Outreach dengan face to face untuk menjangkau PSP sudah tidak efektif sebab memerlukan cost atau biaya yang tinggi.
“Kenapa saya sarankan metode VO ini karena teman-teman penjangkau masih mengandalkan metode lama, artinya pertemuan tatap langsung face to face, ini kalau menurut saya sudah tidak efektif, pertama karena biaya terlalu tinggi, harus menyamar jadi pelanggan,” paparnya.
Dirinya menuturkan banyak PSP masih usia muda, sudah tentu gadget menjadi sahabat mereka setiap hari.
“Jadi itu yang saya sarankan untuk pendamping untuk memanfaatkan tekhnologi yang ada, tetapi tidak terlepas dari mekanisme bagaimana teori Outreach itu dijalankan jadi mulai dari membangun kepercayaan, memberi pengetahuan, membangun attitude kelompok dampingan, sampai pada membangun sikap perilaku untuk bisa memgetahui status HIV nya,” ujar Iskandar.
Tugas atau tantangan pendamping harus meyakinkan PSP untuk mengetahui status dirinya apakah terpapar HIV. Jika hal itu terjadi maka PSP wajib menggunakan alat kontrasepsi agar tidak terjadi penularan.
“Kalau statusnya terbuka maka profesinya terancam, ini yang perlu kita yakinkan ke mereka, ketika anda ketahui statusnya maka anda nanti dalam bekerja bisa lebih aman artinya tidak melukai orang lain atau tidak menginfeksi orang lain,” imbuhnya.
“Ini yang perlu kita yakinkan ke PSP, untuk menggugah keinginan bahwa ternyata saya punya hasil positif maka saya harus melindungi pelanggan saya dengan baik dari penularan, harus diberi pemahaman 100 persen kondom di aktivitas seksualnya,” Ulas Iskandar.
Iskandar menyampaikan pemerintah sudah menyiapkan layanan kesehatan diberi nama ‘Labbiri’ yang waktunya mudah diakses dan ramah bagi komunitas PSP.
“Dinas kesehatan sudah menyediakan klinik bukanya jam 4 sore sampai jam10 malam tidak ada lagi alasan untuk tidak periksa kesehatan, itu senin-minggu, jadi klinik ini yang kemudian menjadi solusi keluhan teman-teman pendamping terkait dengan waktu pelayanan, kalau sudah ada alternatif seperti ini seharusnya angka tes untuk perempuan itu semakin tinggi,” kata Iskandar. (Shahibul Firdaus)



