Dialog Jumat Spesial Ramadhan Kedua di YIC Al-Markaz Al-Islami: “Filantropi dalam Bingkai Spirit Ramadhan”
MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Yayasan Islam Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami kembali menggelar “Dialog Jumat” Spesial Ramadhan yang kedua pada Jumat, 14 Maret 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian acara rutin yang digelar setiap Jumat sepanjang bulan Ramadhan.
Mengusung tema “Filantropi dalam Bingkai Spirit Ramadhan”, acara ini menghadirkan dua narasumber penting. Moderator Andi Mangara memandu dialog yang dihadiri oleh Muh Nawir dari Yayasan Lembaga Konsumen Sulsel, dan Prof. Barsihannor, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.
Muh Nawir, dari Yayasan Lembaga Konsumen Sulsel, membuka diskusi dengan mengungkapkan pentingnya filantropi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa filantropi, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kedermawanan atau sedekah, berasal dari kata Yunani yang berarti kecintaan terhadap sesama manusia.
“Filantropi ini adalah bentuk kecintaan material kepada sesama manusia, yang di dalam agama kita dikenal sebagai kewajiban, namun juga menjadi hak bagi orang lain,” ujar Nawir.
Ia menambahkan, dalam sepuluh tahun terakhir, terdapat peningkatan signifikan dalam perilaku berbagi, yang terlihat melalui berbagai bentuk tradisi seperti Jumat Berkah di jalanan dan di pagar-pagar rumah.
Nawir juga membagi filantropi dalam tiga kategori, yaitu tradisional, modern, dan pasca-modern.
“Filantropi tradisional lebih mengutamakan kesadaran pribadi dalam bersedekah, dengan zakat, infaq, dan sedekah yang sudah diatur dalam agama,” terangnya.
Ia menekankan bahwa filantropi tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga berkembang dalam bentuk organisasi seperti yayasan dan LSM.
Sementara itu, Prof. Barsihannor, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar, mengaitkan filantropi dengan ajaran Islam. Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” yang berarti memberi kepada orang lain memberikan kebahagiaan yang lebih besar dibandingkan menerima.
Hal ini menggambarkan konsep spiritual happiness, di mana kebahagiaan sejati datang dari memberi.
Prof. Barsihannor menekankan bahwa dalam Islam, meskipun tidak ada kewajiban agama untuk bersedekah, semangat berbagi harus tetap ada dalam diri setiap umat Muslim.
“Filantropi dalam Islam mengajarkan kita untuk membangun kesadaran berbagi, meskipun tanpa paksaan agama,” ujarnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umatnya untuk mengambil sebagian dari harta mereka dan menjadikannya sebagai sedekah untuk membersihkan dan mensucikan harta yang mereka peroleh.
Kata Prof. Barsihannor Filantropi dalam Islam bukan hanya tentang banyaknya harta yang diberikan, tetapi tentang niat dan keikhlasan dalam berbagi.
Untuk mengetahui pemabahasan lebih lengkap, Dialog Jumat ini bisa disaksikan kembali melalui Channel YouTube Masjid Al-Markaz.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi umat untuk lebih mendalami konsep filantropi dan meningkatkan semangat berbagi selama bulan suci Ramadhan.



