Masjid Al-Markaz Al-Islami Gelar Dialog Jumat Spesial Ramadan Pekan Ketiga, Usung Tema Urgensi Toleransi dan Kebinekaan
MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Masjid Al-Markaz Al-Islami kembali menggelar Dialog Jumat Spesial Ramadan pada Jumat, 21 Maret 2025. Dialog ini memasuki pekan ketiga Ramadan dan rutin diadakan setiap hari Jumat selama bulan suci ini.
Tema yang diangkat dalam dialog kali ini adalah “Urgensi Toleransi dan Kebinekaan” dengan menghadirkan dua narasumber ternama, yakni Guru Besar UIN Makassar, Prof. Dr. H. Qasim Mathar, MA, dan Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag.
Dalam penyampaiannya, Prof. Qasim Mathar mengungkapkan refleksi sejarah mengenai konflik sosial dan pentingnya toleransi. Ia mengingat kembali peristiwa kerusuhan di Poso dan Ambon pada periode 1998-2001 dan bagaimana ia mengajak berbagai pihak untuk merenungkan makna kedamaian.
“Saat itu, saya mengatakan kepada teman-teman Muslim dan Kristen di sana bahwa Tuhan di Poso dan Ambon seakan telah mati, karena jika Tuhan masih hidup, Dia tidak akan membiarkan umat-Nya saling berperang. Tuhan yang saya yakini adalah Tuhan yang mencintai kedamaian dan menolak pembunuhan tanpa alasan yang benar,” ujar Prof. Qasim.
Ia juga mengutip keteladanan Paus Yohanes Paulus II yang menolak berbagai bentuk kekerasan dan tetap menunjukkan sikap memaafkan meskipun pernah menjadi korban penembakan. Menurutnya, Paus Yohanes Paulus II telah mewakili pesan Al-Qur’an tentang kemanusiaan dan perdamaian bagi seluruh umat manusia.
Lebih lanjut, ia menyoroti sejarah Hagia Sophia di Turki, yang dulunya merupakan gereja Bizantium dan kemudian menjadi masjid oleh Kesultanan Utsmani. Meski demikian, ornamen Kristen di dalamnya tetap dipertahankan sebagai wujud toleransi Islam.
“Orang-orang Islam saat itu bisa melaksanakan shalat meskipun ada salib dan ornamen Kristen di sekitar mereka. Sikap inilah yang menjadikan Istanbul sebagai destinasi wisata religi dunia,” jelasnya.
Prof. Qasim menegaskan bahwa toleransi mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Ia mengingatkan bahwa sebagai mubaligh, ia bisa berbicara panjang lebar tentang toleransi, tetapi saat dihadapkan pada kasus nyata, banyak yang sulit menerapkannya.
Sementara itu, Prof. Arifuddin Ahmad menyoroti bahwa perbedaan agama telah menjadi bagian dari sunnatullah. Menurutnya, meskipun Islam adalah ajaran yang datang dari Allah, ada variasi dalam praktik keagamaan dari satu generasi ke generasi lainnya.
“Allah menciptakan keberagaman dalam kecenderungan beragama. Dalam konteks aqidah, ada batasan jelas ‘untukmu agamamu dan untukku agamaku’. Namun, dalam urusan muamalah, Islam mengajarkan kita untuk hidup berdampingan,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa sikap toleran harus diterapkan secara adil, tanpa standar ganda.
“Kadang kita lebih permisif terhadap hal-hal yang dilakukan oleh sesama Muslim, tetapi menjadi sensitif ketika hal yang sama dilakukan oleh pemeluk agama lain. Contohnya, kita tidak mempermasalahkan suara musik dalam pesta pernikahan Muslim, tetapi merasa terganggu ketika ada kebaktian meskipun volumenya tidak besar,” ujarnya.
Prof. Arifuddin juga menyebutkan tiga hal yang dapat meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama:
1. **Membaca (Iqra’)** – Memperbanyak literasi agar tidak mudah salah paham terhadap keyakinan orang lain.
2. **Bergaul** – Membangun hubungan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda agar lebih memahami karakter dan perspektif mereka.
3. **Bepergian** – Menjelajahi berbagai tempat untuk melihat keberagaman dalam praktik keagamaan dan budaya di berbagai wilayah.
“Jika kita memiliki pemahaman yang luas, kita akan lebih mampu bersikap moderat (wasatiyah) dalam menghadapi perbedaan,” pungkasnya.
Dialog ini mendapat respons positif dari jemaah yang hadir dan menjadi ajang refleksi untuk memperkuat toleransi dan kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dialog ini juga data disaksikan kembali melalui chanel Youtube Masjid Al-Markaz.



