Banner

46 Negara Hadir, IGIC 2026 Bentuk Organisasi Imam Masjid Dunia

 46 Negara Hadir, IGIC 2026 Bentuk Organisasi Imam Masjid Dunia
Banner
Banner

JAKARTA, Radioalmarkaz.co.id – International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 melahirkan wadah baru bagi para imam besar dunia melalui pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI).

Forum yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026 tersebut juga mempercayakan Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sebagai presiden pertama IAMI.

Pembentukan IAMI menjadi salah satu hasil utama pertemuan yang diikuti imam besar, mufti, dan delegasi dari berbagai negara. Forum tersebut membahas penguatan peran masjid dan imam dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, mulai dari konflik, intoleransi, kemiskinan, isu lingkungan hingga tantangan di ruang digital.

Nasaruddin Umar mengatakan, keberadaan IAMI diharapkan dapat menjadi wadah permanen bagi para imam dunia untuk bertukar gagasan dan membangun kerja sama lintas negara.

Ia pun meminta dukungan para imam besar dunia dalam menjalankan amanah sebagai presiden pertama IAMI.

“Saya merasa tidak pantas untuk dipilih menjadi pimpinan imam besar; saya takut mengecewakan harapan dari sini. Karena itu, jika ini memang kehendak-Nya memilih saya sebagai pimpinan, saya harap agar dapat memahami kelemahan saya dan membantu saya mengatasi kelemahan itu,” kata Nasaruddin di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

IAMI dirancang sebagai platform internasional yang tidak hanya membahas persoalan keagamaan, tetapi juga mendorong masjid menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, solidaritas sosial, pembangunan perdamaian dan kemanusiaan.

Nasaruddin menilai, fungsi masjid perlu dikembalikan pada peran strategisnya dalam kehidupan masyarakat.

“Selama ini umat yang memberdayakan masjid, tetapi kita harus membalik, masjidlah yang harus memberdayakan umat,” ujarnya.

Menurut dia, pada masa Rasulullah SAW, masjid memiliki fungsi yang luas. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga berperan sebagai ruang pendidikan, konsultasi, pertemuan masyarakat hingga pusat pemberdayaan umat.

Dalam struktur IAMI, presiden memiliki masa jabatan tiga tahun dan dapat diperpanjang satu kali. Presiden bertugas mewakili IAMI dalam forum internasional, memimpin Dewan Tertinggi, serta mengoordinasikan keterlibatan diplomatik dan keagamaan organisasi.

Sekretariat permanen IAMI akan berkedudukan di Jakarta. Organisasi ini juga menyiapkan kantor wilayah di Kuala Lumpur untuk kawasan Asia, Kairo untuk Timur Tengah, Nairobi untuk Afrika, London untuk Eropa, New York untuk Amerika Utara, Rio de Janeiro untuk Amerika Selatan, serta Canberra untuk kawasan Australia dan Pasifik.

IAMI memiliki lima pilar strategis, yakni keharmonisan masjid, kepemimpinan imam, diplomasi keagamaan, perdamaian global dan aksi kemanusiaan, serta masjid dan komunitas yang berkelanjutan.

Para imam besar dunia nantinya juga akan menggelar pertemuan virtual setiap bulan untuk membahas berbagai persoalan keumatan secara bersama.

Selain pembentukan IAMI, IGIC 2026 menghasilkan kesepakatan yang disebut Jakarta Understanding.

Kesepakatan tersebut menegaskan pentingnya peran imam sebagai mediator konflik, pemersatu keberagaman dan penuntun moral masyarakat. Para imam juga didorong untuk memperkuat pendidikan karakter, moderasi, toleransi, literasi digital serta perlindungan terhadap kelompok rentan.

Jakarta Understanding turut mendorong diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman sebagai bagian dari upaya mencegah konflik dan membangun rekonsiliasi.

Dalam deklarasi tersebut, para imam juga menyerukan penolakan terhadap ekstremisme, kekerasan, penyalahgunaan agama, hoaks dan ujaran kebencian.

Isu lingkungan turut menjadi perhatian. Para imam didorong membangun kesadaran ekoteologis serta menjadikan masjid dan umat beragama sebagai bagian dari gerakan menjaga keberlanjutan bumi.

Jakarta Understanding juga memuat dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, perlindungan warga sipil, penegakan hukum internasional, serta terwujudnya kemerdekaan, keadilan, perdamaian dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.

Nasaruddin mengatakan, kerja sama yang dibangun melalui IAMI ke depan tidak diarahkan pada politik praktis. Menurutnya, forum tersebut lebih ditujukan untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai kemanusiaan.

“Kita tidak akan berbicara politik praktis atau hal-hal yang mengganggu kenyamanan bersama, melainkan menyamakan wawasan bahwa kemanusiaan itu satu,” tuturnya.

Ia berharap IAMI pada tahap berikutnya dapat membuka ruang dialog yang lebih luas dengan pemimpin rumah ibadah dari berbagai agama untuk membahas persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup.Organisasi Imam Masjid Dunia

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *