Wujudkan Ending AIDS 2030, Dinkes Sulsel Tingkatkan Temuan Kasus HIV

MAKASSAR, RAZFM – HIV/AIDS merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi, sehingga penyakit ini menjadi salah-satu penyakit paling berbahaya di dunia.
Ditambah lagi, secara sosial Diskriminawi orang yang diketahui terjangkit HIV/AIDS masih sangat tinggi karena penyakitnya yang dapat menular.
Dari data Dinkes sampai bulan November 2022, kasus positif HIV di Sulsel berjumlah 16.428 dan AIDS mencapai 5.940 kasus.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) ditargetkan untuk bebas dari HIV/AIDS pada tahun 2023.
Hal ini dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Rosmini Pandin dalam acara Press Release Situasi Epidemologi HIV AIDS Prov. Sulsel Tahun 2022 bersama Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAP) Sulsel di Upnormal Coffe Roasters Jl. Perintis Kemerdekaan, Kamis (22/12/2022).
“Sulsel ditargetkan untuk bebas dari HIV/AIDs di 2030,” tegas Rosmini Pandin kepada awak media.
Untuk itu, telah banyak intervensi yang dilakulan oleh Dinkes bersama KPAP Sulsel yaitu orientasi pengembangan layanan mampu tes dan mampu pengobatan di 24 Kab/kota, hingga mentoring klinis untuk Rumah Sakit dan Puskesmas.
“Kami juga melakukan pelatihan kader HIV dan TBC, melakukan pemeriksaan Viral Load ODHIV (Orang dengan HIV), juga melakukan monitoring dan evaluasi HIV AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual) di Kabupaten kota di Sulsel,” sambungnya.
Rosmini juga menuturkan akan terus melakukan pengembangan strategi notifikasi pasangan dalam menemukan Kasus di Layanan Pengobatan ODHIV.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Sulsel Ardadi mengatakan ada tiga program dalam mengatasi HIV/AIDS.
“Jadi program kita itu sebenarnya intinya itu ada tiga yang pertama temukan, Obati, dan pertahankan kondisi kesehatan. Nah di Sulawesi Selatan kita ada target ODHA itu, 27.359 di Sulawesi Selatan, dari angka itu kita baru menemukan 46%, nah jadi ada kurang lebih 11,025 ribu. dari angka itu baru 51,4% (5.672) yang mendapatkan pengobatan ARV sehingga kita punya target dari yang ditemukan kemudian baru 50% yang berobat,” terang Ardadi
Lanjut Ardadi, untuk yang sudah berobat sebanyak 85% dari 1626 yang diperiksa untuk mendapatkan pengobatan dengan terus mempertahankan kondisinya.
“Jadi kalau kita lihat ada peningkatan jumlah itu karena program kita berjalan, yakni program menemukan, kemudian yang sudah ditemukan itu kita terapi dengan treatment pengobatan Antiretroviral atau ARV,” terangnya.
Ardadi mengungkapkan pihaknya akan terus meningkatkan capaian penemuan kasus sehingga bisa dilakukan pengobatan.
“Dari yang sudah saja kita temukan itu kurang lebih 46% jadi kurang lebih kisaran 11.000 itu kita baru dapat, kurang lebih 51% yang kita obati sehingga menurut saya ke depan kita terus dorong ini capaian-capaian ini jadi perbanyak kita temukan kemudian perbanyak yang mendapatkan pengobatan,” harapnya.
Melalui pengobatan ARV kata Ardadi, virus di tubuh pasien menghambat perburukan infeksi oportunistik, bahkan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.
“Karena ketika sudah mendapatkan ARV virus itu bisa tidak terbaca lagi sehingga kondisi tubuh masyarakat kita yang terkena HIV itu bisa tetap produktif, bisa tetap sehat sehingga penting menemukan kemudian setelah ditemukan kita tereatment,” tutur Ardadi.
Lebih lanjut Ardadi menambahkan, keterlibatan seluruh pihak baik pemerintah maupun non pemerintah sangat dibutuhkan guna mencegah penularan penyakit HIV/AIDS sehingga Ending AIDS 2030 bisa terwujud.
“Tentu kita tidak bisa bekerja sendiri karena ini tidak terdeteksi dimana, sehingga kita butuh dukungan NGO dukungan media ketika mendapati seseorang yang kita tahu terkana HIV, segera dilaporkan,” jelasnya
“Karena Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) ini tidak mau berobat nah kita melakukan pendekatan-pendekatan humanis kita dorong untuk mendapatkan obat dengan kondisi dimana privasinya tetap terjaga sehingga orang tidak sungkan lagi, tidak malu lagi untuk mengakses pengobatan,” tutup Ardadi.



