Banner

SPPG Tamalanrea 14 Disiapkan Jadi Pusat Riset Gizi dan MBG

 SPPG Tamalanrea 14 Disiapkan Jadi Pusat Riset Gizi dan MBG
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Universitas Hasanuddin (Unhas) tidak hanya ingin berperan sebagai penyedia dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamalanrea 14.

Lebih dari itu, Unhas berkomitmen menjadikan program tersebut sebagai laboratorium nasional untuk riset dan pengembangan gizi.

Komitmen tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof. dr. Veny Hadju, dalam diskusi yang digelar di Redaksi Harian Fajar, Kamis (4/6/2026).

Menurut Prof. Veny, program MBG melibatkan banyak aspek dan disiplin ilmu sehingga sangat potensial dijadikan pusat pembelajaran, penelitian, dan pengembangan kebijakan gizi.

“Kami ingin menjadikan SPPG ini sebagai laboratorium MBG. Program ini tidak hanya soal penyediaan makanan, tetapi juga melibatkan banyak unsur yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.

Ia berharap laboratorium MBG yang dikembangkan Unhas dapat menjadi model percontohan nasional, khususnya bagi kawasan Indonesia Timur.

“Harapan kami, Unhas dapat menjadi pilot project laboratorium MBG untuk Indonesia Timur dan menjadi rujukan di tingkat nasional,” tambahnya.

Prof. Veny juga menilai Program MBG dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam upaya jangka panjang menekan angka stunting di Indonesia.

Menurutnya, stunting tidak hanya disebabkan kurangnya asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola asuh, pendidikan orang tua, akses pangan, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.

Karena itu, edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang kepada generasi muda menjadi investasi penting untuk masa depan.

“Jika anak-anak sejak sekarang memahami pola makan yang benar, ketika mereka menjadi orang tua nantinya, mereka akan lebih siap memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Dari situlah upaya pencegahan stunting dapat dimulai,” jelasnya.

Ia memperkirakan dampak nyata terhadap penurunan stunting membutuhkan waktu yang cukup panjang karena berkaitan dengan perubahan perilaku antargenerasi.

“Kalau melihat pengalaman berbagai negara, hasilnya bisa terlihat dalam 15 hingga 25 tahun. Ini adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan proses dan kesinambungan,” tutupnya. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *