Sepanjang Tahun 2022, Tekanan Inflasi Terjadi di Sulsel

MAKASSAR, RAZFM – Tren inflasi bulanan Sulawesi Selatan (Sulsel) selama tahun 2022 lebih fluktuatif dibandingkan tren tahun 2021.
Hal itu disamapaikan Oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Sulsel Supendi, saat siaran pers Kinerja APBN Anging Mamiri Triwulan IV 2022 di Starsa Restoran, Jln. Bawakaraeng Makassar, Kamis, 27/01/23.
Supendi memaparkan sepanjang tahun 2022, tekanan inflasi Sulsel terjadi beberapa kali.
“Terkait dengan inflasi Alhamdulillah masih tetap terjaga walaupun terjadi pergolakan, khususnya di tahun 2022 ini bulan April yang di dorong oleh imbasnya tensi geopolitik Rusia-Ukraina.
Kemudian di bulan Juli dipicu dengan kelangkaan minyak goreng dan menurut pemberitaan yang ada, mulai langka lagi minyak goreng curah ini semoga tidak lama,” ungkapnya.
Tekanan inflasi Sulsel kata Supendi terjadi pada beberapa bulan mendorong tren inflasi tahunan melaju hingga keluar jalur target inflasi yang diharapkan terjaga pada rentang 1±3%. Inflasi tahunan Sulsel paling tinggi terjadi pada September yang dipicu oleh penyesuaian harga BBM.
“Kalau secara kelompok harganya memang di Tahun 2022 ini masalah yang terkait dengan yang merupakan kebijakan penyesuaian harga BBM ini memberikan pengaruh yang kuat terkait dengan inflasi,” jelas Supendi.
Supendi menyebut terdapat tiga kota inflasi di Sulsel yang tercatat mengalami inflasi lebih tinggi dibandingkan nasional sehingga menyebabkan inflasi gabungan Sulsel lebih tinggi dibandingkan nasional.
“Kalau kita lihat secara lima kota yang diukur di Sulawesi Selatan yakni Parepare, Makassar dan Watampone itu melampaui dari inflasi nasional itu karena inflasi nasional di 5, 51 nah sementara di Sulawesi Selatan sendiri di 5,77,” ujarnya.
“Hanya dua kota yang lebih rendah dari nasional yaitu Palopo dan Bulukumba itu di angka 5,13 dan 4,12,” lanjut Supendi,” tambahnya.
Inflasi tahunan di Watampone, Palopo, dan Bulukumba, disumbang oleh kelompok Makanan Minuman dan Tembakau. Sementara inflasi di Kota Makassar, disumbang oleh kelompok Transportasi. Adapun Kota Parepare adalah tarif air minum kontributor terbesar terhadap inflasi.
“Inflasi di Watampone dan Palopo ini paling besar disumbang oleh kelompok makanan minuman dan tembakau, sementara di Makassar disumbang oleh kelompok transportasi dengan kontribusi terbesarnya, sedangkan di pare-pare adalah kenaikan tarif dari air minum,” pungkasnya. (SB)



