Mahasiswa KKN Unhas Bekali Siswa Pesantren Keterampilan Mengolah Sampah Plastik
Bantaeng – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menggelar pelatihan pembuatan ecobrick bagi siswa Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin, Desa Bonto-Bontoa, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Jumat (17/7).
Program kerja individu yang diinisiasi Rani Anggreni ini menyasar siswa baru kelas VII sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah plastik sejak dini. Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan siswa dalam mengolah sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat melalui metode ecobrick.
Pelatihan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai dampak sampah plastik dan konsep ecobrick. Selanjutnya, siswa menerima materi tentang bahaya sampah plastik bagi lingkungan, manfaat ecobrick, serta tahapan pembuatannya.
Setelah sesi materi, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengumpulkan sampah plastik di sekitar lingkungan pondok pesantren. Sampah yang terkumpul kemudian dipadatkan ke dalam botol plastik hingga memenuhi standar pembuatan ecobrick. Sebagai evaluasi, kegiatan ditutup dengan post-test guna mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti pelatihan.
Tak hanya memperoleh pengetahuan, para siswa juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung. Ecobrick yang berhasil dibuat kemudian dirangkai menjadi sebuah rak sederhana yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan di lingkungan Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk bernilai guna sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih.
Penanggung jawab program, Rani Anggreni, mengatakan pelatihan ini dirancang agar siswa memahami pentingnya pengelolaan sampah melalui praktik langsung.
“Awalnya kami melihat masih banyak siswa yang belum mengetahui bahwa sampah plastik sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali. Karena itu, kami memilih pelatihan ecobrick agar mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Alhamdulillah, antusiasme adik-adik sangat tinggi. Mereka aktif bertanya, bekerja sama saat membuat ecobrick, hingga akhirnya berhasil menyusun satu rak dari hasil karya mereka sendiri. Semoga pengalaman ini bisa menjadi kebiasaan baik yang terus mereka terapkan, baik di lingkungan pondok maupun di rumah,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari guru Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin, Nurrahmah Ma’shum. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi para siswa dalam mengelola sampah plastik.
“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kegiatan yang dibawa oleh mahasiswa KKN. Anak-anak terlihat bersemangat dari awal sampai akhir. Mereka jadi tahu bahwa sampah plastik tidak harus dibakar atau dibuang begitu saja, tetapi bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat. Kehadiran rak ecobrick ini juga menjadi bukti nyata hasil kerja mereka sendiri. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh hari ini tidak berhenti di kegiatan ini saja, tetapi bisa terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Tematik Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin berharap kebiasaan mengelola sampah plastik dapat terus diterapkan oleh para siswa dan menjadi contoh bagi masyarakat sekitar. Kolaborasi antara mahasiswa, pihak pondok pesantren, dan pemerintah desa diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan di Desa Bonto-Bontoa. (*)



