Banner

Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi, DP3A Makassar Tingkatkan Upaya Pencegahan

 Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi, DP3A Makassar Tingkatkan Upaya Pencegahan
Banner
Banner
Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi DP3A Makassar Tingkatkan Upaya Pencegahan

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) mencatat sebanyak 600 kasus kekerasan perempuan dan anak yang terlapor per Desember ini.

Dari data tersebut jumlah kasus terlapor didominasi kekerasan pada anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Achi Soleman mengatakan tahun ini angka kekerasan Perempuan dan Anak menurun dibandingkan pada tahun 2022 lalu yang berada diangka 1.000 lebih kasus. 

Walaupun menurun dari tahun lalu, Achi menilai angka itu masih sangat tinggi sehingga menjadi tanggung jawab dari seluruh pihak, tak hanya dari DP3A.

“Ini artinya menjadikan alarm untuk kita sama-sama bergerak tidak hanya Dinas Pemberdayaan perempuan tapi seluruh komponen yang ada di kota Makassar ini baru sama-sama kita melakukan upaya pencegahan kekerasan,” ungkapnya di sela kegiatan Pertemuan  Koordinasi & Kerjasama Lintas Sektor

Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak/TPPO, Kamis, 7/12/23.

Achi mengaku kasus terbanyak berasal dari tindak kekerasan seksual pada anak. Hal ini terjadi akibat maraknya remaja perempuan yang menjajakan dirinya di media sosial.

Hal itu menjadi kekhawatiran dari seluruh pihak mengingat kontrol atau pengawasan praktek prostusi online yang cukup sulit.

“Kasus kekerasan seksual ya karena itu berdampak juga sangat berdampak untuk korbannya sendiri. Minggu lalu kita dikagetkan dengan kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak, memang akhir November kemarin kasus kekerasan seksual yang lebih banyak termasuk di dalamnya ada dalam Booking Online, (BO),” bebernya.

Melihat fenomena tersebut, Achi masih menganalisa mengapa banyak anak remaja perempuan yang masuk dunia prostitusi online.

“Itu pun juga memang kita mesti lihat dari banyak sisi ya termasuk faktor eksternal dan internal dari kasus tersebut,” cetusnya.

Menurutnya mesti ada upaya pencegahan yang kuat mulai dari tingkat masyarakat dengan membuat shleter warga.

“Upaya yang dilakukan tentunya harus dimulai dari bottom up ya dari masyarakat sendiri jadi masyarakat sebagai garda terdepan untuk melakukan upaya pencegahan kekerasan,” kata Achi.

“Terbentuknya shelter warga di 85 Kelurahan ini adalah salah satu upaya yang dilakukan karena kami beranggapan bahwa harus maksimal di masyarakat sendiri sebagai garda terdepan untuk pencegahannya,” imbuhnya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *