Banner

Danny Sebut Banjir di Kota Makassar Karena Kesalahan Tata Ruang

 Danny Sebut Banjir di Kota Makassar Karena Kesalahan Tata Ruang
Banner
Banner

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 1 Gubernur dan Wakil Gubernur Moh Ramadhan Pomanto-Azhar Arsyad (Danny-Azhar) menyebutkan persoalan banjir di Kota Makassar disebabkan karena kesalahan tat ruang oleh pemerintahan sebelumnya.

Dimana, Kata Danny, daerah yang mestinya menjadi daerah serapan air dibangun perumahan.

Hal ini diungkapkan ketika Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut 2 Andi Sudirman Sulaiman-Fatamawati Rusdi, melontarkan pertanyaan terkait masalah penanganan banjir di perkotaan.

Paslon nomor urut 2 Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi yang melontarkan pertanyaan maslah banjir yang ada di Sulsel.

Danny menjelaskan, ada tiga wilayah di Makassar menjadi langganan banjrnsetiap tahunnya.

“Bencana hidrometeorologi tentunya kita harus melakukan dua hal, (yaitu) yang namanya mitigasi dan adaptasi. Di Makassar ada tiga kantong yang menjadi banjir tahunan, pertama jalan Swadaya, kemudian Kodam Tiga, dan di Antang blom 10 dan blok 8,” ungkapnya.

Kata dia, tiga wilayah tersebut dulunya merupakan daerah serapan banjir.

“Apa yang sebenarnya terjadi disitu? Sebenarnya bukan bencana tetapi sesungguhnya adalah kesalahan tata ruang dimana daerah air dibanguni real estate, walaupun bukan pada jaman saya, sejak itu saya langsung mengkampanyekan jangan beli rumah di tempat air agar supaya pangsa pasar tanah yang begitu tinggi di kota Makassar menurun ditempat air,” tuturnya.

Ia pun memberi solusi terkait masalah banjir ini ialah mitigasi dan adaptasi.

“Maka dari itu yang kita lakukan adalah mitigasi dan adaptasi. Yang pertama mempersiapkan seluruh masyarakat didaerah bencana. Jadi sebenarnya ini bukan bencana karena orang yang datangi tempat air, tapi ini dari dulu tempat air dibangun pada saat kering ditinggali, kemudian air datang kembali. Begitu riwayatnya banjir kronis di kota Makassar,” bebernya.

Kata Danny banjir ini sudah menjadi masalah dunia, salah satu picunya ialah akibat perubahan iklim.

“Hari ini di seluruh dunia mengalami hal yang sama akibat perubahan iklim, kemarin Valencia banjir, Jepang juga banjir, jadi ini persoalan kita Jadi Low Carbon jawaban dari itu,” sebutnya.

Sudirman pun menanggapi jawaban Danny. Kata dia, persoalan banjir yang berada di perkotaan memang harus menjadi atensi khusus.

“Makanya kenapa kebijakan nasional mewajibkan seluruh wilayah untuk membuat Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) karena lokasi tempat seperti rumah, lokasi untuk genangan air itu termaktub dalam sana (RDTR). RTRW tidak bisa karena global karena memang dia skopnya provinsi nanti diturunkan menjadi RDTR baru detail bermain RTRW, sehingga disinilah baru (diketahui) daerah genangan,” ungkapnya.

Kemudian kedua kata Sudirman, harus ada intervensi. Ia mencontohkan di Samarinda, kanal itu dibongkar, dari kanal ke kanal tembus
sehingga air yang dulunya terperangkap bisa mengalir.

“Kemudian sistem persampahan sudah wajib tidak boleh berada di saluran, ini intervensi, baru kemudian bagaimana masuk ekonomi hijaunya, pendekatannya adalah jangan mengubah daerah yang sudah menjadi resapan air,” terangnya.

Danny menanggapi dari penjelasan Sudirman. Ia menyampaikan RDTR Makassar terkait Maslah banjir ini tidak dibuat sebab karena menunggu RTRW dari Provinsi.

“Mestinya kota dulu bikin baru provinsi, provinsi hanya koordinator, provinsi tidak punya wilayah, kalau kita mengerti RT RW, begitu mestinya,” tuturnya.

Danny mengaku bingung mengapa RTRW Pemerintah Provinsi disahkan terlebih dahulu ketimbang RTRW Pemerintah Kota.

“Anehnya provinsi duluan disahkan baru kota, tidak boleh terjadi begitu. Akhirnya korbanlah Makassar New Port, karena tidak terakomodir oleh RT RW provinsi, banyak persoalan yang tidak dimengerti oleh provinsi, tapi Insya Allah kalau kami menjadi gubernur kami ini orang tata ruang, kami akan benarkan itu, kami akan luruskan itu semua,” ujarnya.

Kata Danny, dirinya sangat paham betul pentingnya RDTR, untuk mengatasi masalah banjir ini.

“Kalau RDTR Saya mengerti sekali, kami pernah membuat 12 langsung RDTR dari kawasan kita,” imbuhya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *