Banner

TPA Antang Disulap Jadi Kawasan Hijau, Ratusan Pohon Mulai Ditanam

 TPA Antang Disulap Jadi Kawasan Hijau, Ratusan Pohon Mulai Ditanam
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Pemerintah Kota Makassar bersama Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan mulai mendorong penghijauan kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang.

Sebanyak 285 bibit pohon ditanam di kawasan TPA Antang sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan Hari Ulang Tahun ke-3 Badan Karantina Indonesia.

Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Ir. Sitti Chadidjah mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Badan Karantina Indonesia dalam menjaga kelestarian sumber daya hayati dan lingkungan.

Menurutnya, tugas karantina tidak hanya berkaitan dengan pengawasan lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan di pintu masuk maupun keluar wilayah Indonesia.

“Ini bukan hanya bagaimana petugas karantina berada di pintu pemasukan, pintu pengeluaran, bandara, pelabuhan, kantor pos, ataupun pasar. Kami mempunyai tugas dan tanggung jawab moral yang besar yang diamanatkan undang-undang, yaitu menjaga kelestarian sumber daya lingkungan,” ujar Sitti.

Ia menjelaskan, penanaman pohon menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan tugas dan fungsi karantina dalam menjaga kelestarian sumber daya hayati.

Terlebih, karantina memiliki tugas mencegah penyebaran penyakit hewan, ikan, maupun organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).

“Melalui penanaman pohon ini, kita melestarikan tanaman sehingga bisa kita proteksi dari penyebaran penyakit dan menjaga kelestarian sumber daya alam, khususnya di Kota Makassar,” katanya.

Sitti menyebut, sebanyak 285 bibit telah disiapkan untuk ditanam di kawasan TPA Antang.

Bibit tersebut terdiri atas 100 tabebuya, 50 salam, 25 sirsak, 25 jeruk nipis, 25 trembesi, 10 nangka, 10 rambutan, 10 mangga, 10 sukun, 10 sawo, dan 10 kelengkeng.

Ia berharap penanaman tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dilanjutkan dengan perawatan sehingga seluruh bibit dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Kami sangat mengharapkan dengan penanaman pohon bibit yang ada di TPA Antang ini dapat menghadirkan wajah TPA yang semakin hijau,” ujarnya.

Sitti juga mendorong agar kawasan TPA Antang ke depan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan pengelolaan sampah, tetapi dapat berkembang menjadi ruang terbuka hijau baru bagi masyarakat Kota Makassar.

TPA Antang dalam Masa Transformasi

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyambut baik dukungan Balai Besar Karantina dalam penghijauan kawasan TPA Antang.

Munafri mengatakan, kawasan TPA Antang saat ini tengah memasuki proses transformasi besar-besaran dari sistem open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill.

“TPA ini sekarang dalam masa transformasi yang besar-besaran. Bagaimana proses peralihan dari TPA open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill yang kita maksimalkan,” kata Munafri.

Menurutnya, transformasi tersebut dilakukan agar tidak seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat berakhir di TPA. Sampah yang masuk ke kawasan tersebut ke depan diharapkan hanya berupa sampah residu.

Pemerintah Kota Makassar juga terus melakukan sosialisasi agar masyarakat mulai memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.

“Kalau tidak, TPA ini akan tumbuh dan cepat sekali bisa penuh,” ujarnya.

Munafri menyebut, perubahan sistem pengelolaan sampah tersebut mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan di sekitar TPA. Salah satunya dengan penggunaan cover soil untuk menutup area sampah sehingga bau dari TPA dapat dikurangi.

Selain persoalan sampah, Pemkot Makassar juga berupaya mengubah pola pemanfaatan kawasan TPA agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Salah satunya melalui penyediaan pakan ternak yang berasal dari sampah organik pasar.

Munafri mengatakan, langkah tersebut sekaligus untuk mengurangi risiko sapi yang selama ini mencari makanan di tumpukan sampah dan berpotensi mengonsumsi material berbahaya.

“Sapi-sapi yang selama ini bergaul dengan sampah-sampah yang ada di atas, makan dengan tercampur sampahnya, sehingga mikroplastik sangat memungkinkan untuk masuk menjadi bagian dari konsumsi mereka, lalu minum air lindi. Menurut saya ini hal yang sangat tidak sehat,” jelasnya.

Karena itu, sampah organik dari sejumlah pasar di Kota Makassar diarahkan untuk diolah dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Kalau saya enggak salah kurang lebih 30 sampai 40 ton setiap hari sampah-sampah organik ini masuk,” kata Munafri, (5/10)

Menurutnya, pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak dapat memberikan nilai tambah bagi peternak karena membantu menekan biaya pakan.

Ditargetkan Jadi Hutan Kota

Lebih jauh, Munafri mengatakan penghijauan menjadi bagian penting dari rencana besar penataan kawasan TPA Antang.

Ia menargetkan kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah dengan sistem yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga berkembang menjadi kawasan hutan kota.

“Kita berharap ini juga akan menjadi salah satu hutan kota. Sehingga memang dibutuhkan berbagai macam penataan untuk menanam pohon yang bisa kita tata dengan baik. Apakah itu pohon pelindung, apakah itu pohon buah, dan sebagainya,” tuturnya.

Munafri menyebut kawasan tersebut memiliki luas kurang lebih 21 hektare. Dengan penataan dan penghijauan yang berkelanjutan, kawasan TPA Antang diharapkan dapat menjadi kawasan konservasi baru sekaligus ruang hijau yang memberikan dampak positif bagi lingkungan Kota Makassar.

“Ini akan menjadi sebuah kawasan konservasi baru untuk memastikan kawasan yang kurang lebih terdiri dari 21 hektare ini akan menjadi salah satu hutan kota yang ada di Kota Makassar,” pungkasnya.(RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *