Banner

17 Tahun Menjadi Guru BK dengan Ijazah Perikanan, Ini Refleksi Zaid Buri

 17 Tahun Menjadi Guru BK dengan Ijazah Perikanan, Ini Refleksi Zaid Buri
Banner
Banner

Oleh: Zaid Buri Prahastyo

Guru BK SMK Darussalam Makassar

Radioalmarkaz.co.id- Ada guru yang ijazahnya berjalan lurus menuju ruang kelas. Ada pula yang jalannya berbelok, menyeberang disiplin, lalu menemukan dirinya di tempat yang mungkin tidak pernah direncanakan.

Saya termasuk yang kedua.

Selama 17 tahun menjadi guru Bimbingan dan Konseling (BK), saya membawa satu kenyataan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat tidak biasa: ijazah saya adalah Sarjana Perikanan.

Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin menjadi persoalan tentang linieritas. Bagi saya, ini adalah bagian dari perjalanan yang justru membentuk cara saya melihat pendidikan.

Saya tidak mengatakan bahwa linieritas tidak penting. Seorang guru tetap membutuhkan fondasi keilmuan dan kompetensi yang memadai. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: apakah seorang guru hanya boleh membawa apa yang tertulis di ijazahnya ke dalam ruang kelas?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Dalam praktik pembelajaran bersama murid Asisten Perawat, saya membawa sesuatu yang sekilas berada di luar dunia Bimbingan dan Konseling: ekosistem perairan.

Saya membawa laut, sungai, ikan, dan lingkungan perairan ke ruang BK.

Bukan untuk mengajarkan perikanan, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengalaman akademik seorang guru tidak harus kehilangan makna ketika ia memasuki ruang profesional yang berbeda.

Warna bukan pengganti fondasi. Tetapi fondasi juga tidak seharusnya menghapus warna.

Dalam pembelajaran tersebut, murid membaca kasus, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mempresentasikan gagasan, dan saling memberikan umpan balik.

Salah satu kesepakatan kelas yang muncul bahkan terdengar sederhana: “Tidak boleh baper.”

Namun, di balik kalimat sederhana itu, saya melihat sesuatu yang penting. Murid belajar menerima kritik, mendengarkan perspektif yang berbeda, sekaligus memperbaiki gagasan mereka.

Bahkan murid yang biasanya pasif mulai terlibat dalam proses memberikan umpan balik.

Pengalaman itu membuat saya berpikir bahwa persoalannya mungkin bukan semata-mata seberapa lurus latar belakang seorang guru dengan materi yang dibawanya.

Yang lebih penting adalah seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki seorang guru mampu membuat murid bergerak, berpikir, bertanya, dan berkembang.

Tentu, hal ini bukan berarti penguasaan keilmuan dapat diabaikan.

Guru yang mengajar di luar bidang keahliannya tetap membutuhkan kompetensi, pengalaman, dukungan profesional, serta kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, persoalannya tidak sesederhana linier berarti baik dan tidak linier berarti buruk.

Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas seorang guru.

Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang.

Saya melihat hal tersebut seperti ekosistem yang pernah saya pelajari dalam bidang perikanan.

Tidak ada satu unsur yang hidup sendirian.

Sungai memengaruhi laut. Lingkungan memengaruhi manusia. Dan manusia pada akhirnya kembali memengaruhi lingkungan.

Pendidikan pun demikian.

Seorang murid tidak pernah datang ke ruang kelas hanya membawa nilai rapor. Ia membawa keluarga, lingkungan, pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan bayangan tentang masa depannya.

Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Guru juga perlu membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan yang mereka hadapi.

Dunia mereka pun semakin kompleks.

Perubahan teknologi, lingkungan, kesehatan, hingga dunia kerja tidak selalu mengenal batas antar-mata pelajaran. Karena itu, pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi yang kuat sekaligus kemampuan untuk menghubungkan berbagai perspektif.

Bagi saya, PPG pada akhirnya bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh sertifikat pendidik.

PPG menjadi ruang untuk berdamai dengan perjalanan saya sendiri.

Saya tetap seorang guru BK. Namun, saya tidak perlu meninggalkan laut yang pernah membentuk saya.

Saya datang ke ruang kelas dengan seluruh pengalaman yang saya miliki.

Sebab pada akhirnya, guru bukan hanya ijazahnya.

Guru adalah apa yang dipelajarinya, apa yang dialaminya, apa yang direfleksikannya, dan bagaimana semua itu digunakan untuk membantu murid tumbuh. (*)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *