Banner

Sekda Makassar Minta Camat-Lurah Kawal Jadwal Pengangkutan Sampah

 Sekda Makassar Minta Camat-Lurah Kawal Jadwal Pengangkutan Sampah
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Pemerintah Kota Makassar terus membenahi sistem pengelolaan persampahan dari hulu hingga hilir. Selain memperkuat dukungan anggaran dan sarana pengangkutan, pemerintah juga mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Sekretaris Daerah Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, mengatakan Pemkot Makassar berkomitmen menyesuaikan porsi anggaran pengelolaan persampahan sebesar 3 persen sesuai arahan pemerintah pusat.

Namun, penyesuaian tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan struktur APBD yang telah berjalan.

“Kita akan jalankan sesuai arahan pusat, sekarang lagi mencoba untuk mengatur ini. Ada struktur rancangan APBD yang secara drastis tidak mungkin kita bisa langsung berubah, tetapi kita memaksimalkan sehingga proses progresnya itu bisa kita kejar,” ujar Zulkifly, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, peningkatan dukungan anggaran akan diarahkan untuk memperkuat pengelolaan persampahan secara menyeluruh. Salah satunya untuk kebutuhan operasional armada pengangkutan sampah, termasuk BBM.

Selain itu, Pemkot Makassar juga mendorong penguatan peran bank sampah umum (BSU) agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali.

“Jadi, ada beberapa item bisa kita maksimalkan. Penyusunan BBM itu sudah utamanya untuk alat transportasi pengangkutan sampah dan BSU juga penting,” jelasnya.

Pemkot Makassar juga menyiapkan penambahan sarana dan prasarana kebersihan, seperti motor sampah dan mobil pengangkut sampah.

Namun, Zulkifly menegaskan penambahan armada tidak dilakukan secara sembarangan. Kebutuhan setiap wilayah akan dikaji berdasarkan volume sampah dan kebutuhan pengangkutan di masing-masing kecamatan.

“Berapapun volume sampah yang kita angkut, nantinya akan dikaji kira-kira berapa kebutuhan dari setiap kecamatan dalam hal pengangkutan sampah,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah menilai pengurangan sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam menekan beban pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa.

Karena itu, sosialisasi pemilahan sampah dari rumah terus digencarkan. Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik, residu, serta bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Pemilahan kita lakukan dengan memisahkan sampah organik, anorganik, residu, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3),” jelas Zulkifly.

Sampah organik antara lain berupa sisa makanan, sayuran, buah-buahan, daun dan ranting yang mudah terurai. Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng, kertas, kardus dan kaca dapat dipilah untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

Adapun sampah residu merupakan sampah yang tidak dapat didaur ulang, seperti popok bayi, pembalut, tisu dan plastik saset. Sedangkan sampah B3 seperti baterai bekas, lampu, obat kedaluwarsa dan kemasan pestisida perlu dipisahkan karena berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan.

Menurut Zulkifly, pemilahan dari rumah akan mempermudah proses pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang pemanfaatan material yang masih memiliki nilai ekonomi.

“Lanjut dia, dengan adanya pemilahan sampah ini, mudah-mudahan bisa berkurang pengangkutan sampah yang dibutuhkan. Makanya, kita terus galakkan, sosialisasikan untuk pemilahan sampah supaya terjadi pengurangan sampah yang ada di TPA,” ujarnya.

Pembenahan di tingkat masyarakat tersebut berjalan beriringan dengan penataan TPA Tamangapa. Pemkot Makassar secara bertahap mengubah pola pengelolaan sampah dari praktik open dumping menuju controlled landfill dan mengarah pada sanitary landfill.

Sejumlah pembenahan juga dilakukan di kawasan TPA, mulai dari penguatan pengolahan air lindi menggunakan teknologi EcoTru, penambahan unit pengolahan, pemasangan pipa pengelolaan gas metana hingga penataan area ranch untuk melokalisasi sapi yang berada di sekitar kawasan TPA.

“Kita melakukan perubahan metode. Kita menuju ke sanitary landfill atau controlled landfill. Kita meninggalkan open dumping ini,” tegas Zulkifly.

Namun, menurutnya, pembenahan di hilir harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat di hulu. Sebab, sistem pengelolaan di TPA tidak akan optimal apabila sampah masih tercampur sejak dari rumah.

Karena itu, pemerintah terus mendorong gerakan pemilahan sampah sebagai bagian dari upaya mencapai target Makassar Bebas Sampah 2029.

“Semakin sedikit sampah yang masuk ke TPA, semakin ringan pula beban pengelolaan dan semakin besar peluang menciptakan sistem persampahan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

“Melalui gerakan bersama pemilahan sampah, kita Pemkot Makassar mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan yang lebih bersih dan sehat sebagai bagian dari target Makassar Bebas Sampah 2029,” tambahnya.

Selain mengajak masyarakat berperan aktif, Zulkifly meminta seluruh camat dan lurah memperkuat pengawasan kebersihan di wilayah masing-masing.

Camat dan lurah diminta memastikan sampah tidak hanya tertangani, tetapi juga diangkut sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pengawasan diperlukan untuk mencegah penumpukan sampah di kawasan permukiman maupun fasilitas umum.

“Camat dan lurah harus terus mengawal kebersihan di wilayahnya. Jangan sampai sampah berserakan dan tidak terangkut sesuai jadwal,” imbuh Zulkifly.

Ia menambahkan, koordinasi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, petugas kebersihan dan masyarakat perlu terus diperkuat agar persoalan persampahan dapat ditangani sejak dari lingkungan.

“Satu hal perlu diperhatikan, jadwal pengangkutan juga harus menjadi perhatian agar tidak terjadi penumpukan sampah di titik-titik permukiman maupun fasilitas umum,” tegasnya. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *