Pemkot Makassar Bangun 40 SPAM Baru hingga 2027
MAKASSAR, radioalmarkaz.co.id- Pemerintah Kota Makassar mulai menyiapkan solusi jangka panjang untuk menghadapi persoalan kekeringan dan keterbatasan akses air bersih.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU), Pemkot Makassar menyiapkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di sejumlah wilayah yang belum terlayani jaringan distribusi PDAM secara optimal.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah agar penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan saat krisis terjadi, seperti melalui distribusi air menggunakan mobil tangki.
Kepala Dinas PU Kota Makassar, Zuhaelsi Zubir, mengatakan ketersediaan dan distribusi air menjadi persoalan penting yang harus disiapkan pemerintah untuk jangka panjang.
“Persoalan kekeringan tanggung jawab kami Pemerintah untuk menyiapkan SPAM kebutuhan jangka panjang, sangat berkaitan dengan ketersediaan dan distribusi bagi warga Kota Makassar,” ujar Zuhaelsi, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, pembangunan SPAM terutama diarahkan ke wilayah yang belum mendapatkan layanan air secara optimal. Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Kecamatan Ujung Tanah, Tallo, Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, serta wilayah kepulauan.
Dalam rentang 2025 hingga 2027, Dinas PU merencanakan 40 pembangunan SPAM baru.
Rinciannya, 14 lokasi dibangun pada 2025, 10 lokasi pada 2026, dan 16 lokasi lainnya direncanakan pada 2027.
Selain pembangunan baru, pemerintah juga melakukan pemeliharaan, peningkatan kapasitas, dan perluasan jaringan SPAM.
Jika seluruh kegiatan tersebut dihitung, totalnya mencapai 65 lokasi kegiatan SPAM selama periode 2025 hingga 2027.
“Jika dihitung berdasarkan pembangunan SPAM baru, terdapat 40 lokasi pembangunan baru yang kita rencanakan dalam rentang 2025 hingga 2027,” jelas Zuhaelsi.
Pembangunan SPAM tersebut antara lain meliputi pengeboran sumur, pembangunan reservoir, bangunan pendukung, serta jaringan Sambungan Rumah (SR).
Setiap SPAM dirancang melayani sedikitnya 50 sambungan rumah. Pada lokasi tertentu, kapasitasnya dapat mencapai lebih dari 100 sambungan, tergantung kebutuhan masyarakat.
Zuhaelsi mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan dapat memberikan sumber air yang lebih dekat bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan PDAM.
“Memang kami alokasikan bahwa dengan pembangunan sumur bor ini memberikan ketersediaan air bersih untuk jangka panjang kepada warga Kota Makassar yang tidak terlayani oleh jaringan distribusi PDAM,” katanya.
Untuk wilayah kepulauan, pendekatan yang digunakan tidak selalu berupa sumur bor.
Di Pulau Lumu-Lumu dan Barrang Caddi, misalnya, Dinas PU menggunakan fasilitas Air Siap Minum (Arsinum). Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah air payau menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Di situ bukan sumur bor, tetapi kami menyediakan alat Arsinum. Jadi air payau diolah menjadi air siap minum,” bebernya.
Dinas PU juga melakukan pemeliharaan terhadap SPAM yang telah dibangun. Hal ini dilakukan untuk memastikan infrastruktur dan jaringan tetap berfungsi ketika masyarakat membutuhkannya.
Menurut Zuhaelsi, pembangunan infrastruktur air bersih merupakan bagian dari strategi menghadapi kekeringan secara lebih sistematis.
Pemerintah tidak hanya bergerak ketika musim kemarau menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air, tetapi juga menyiapkan sumber air dan jaringan distribusi untuk mengurangi dampak kekeringan.
“Secara rutin kami melakukan pemantauan kondisi infrastruktur dan jaringan yang terdistribusi untuk memastikan layanan dasar kepada masyarakat tetap ada dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan pada saat musim kemarau,” pungkasnya. (*)



