Usai Berhaji, Jemaah Bone Kenakan Busana Mewah sebagai Simbol Syukur
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Kedatangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan di Debarkasi Makassar selalu menghadirkan pemandangan yang khas.
Selain disambut keluarga, sebagian jemaah tampil mengenakan busana berhias manik-manik dan aksesoris berkilau atau yang populer disebut busana “blink-blink”.
Tradisi tersebut terlihat saat jemaah haji
Kelompok Terbang (Kloter) 3 asal Kabupaten Bone tiba di Wisma Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu (3/6/2026) pukul 14.49 WITA.
Sejumlah jemaah perempuan tampak tampil anggun dengan pakaian yang telah dipersiapkan khusus sebelum kembali ke Tanah Air.
Tradisi mengenakan busana “blink-blink” saat kepulangan haji hingga kini masih menjadi bagian dari budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Fenomena busana “blink-blink” yang dikenakan para jemaah haji asal Sulawesi Selatan juga menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat dalam menyambut kepulangan dari Tanah Suci.
Harga busana yang dikenakan para jemaah pun bervariasi, mulai dari Rp2 juta hingga mencapai Rp15 juta per set, tergantung bahan, model, serta aksesoris yang digunakan.
Bagi para jemaah, busana tersebut bukan sekadar penampilan, melainkan bentuk rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menunggu antrean keberangkatan.
Tidak sedikit jemaah yang rela mengeluarkan biaya cukup besar untuk mempersiapkan pakaian terbaik sebagai simbol kebahagiaan dan ungkapan syukur setelah menyelesaikan rukun Islam kelima
Kehadiran para jemaah dengan busana yang mencolok dan elegan tersebut selalu menarik perhatian.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone, mengenakan busana terbaik saat kepulangan dari Tanah Suci telah menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun. Selain sebagai bentuk rasa syukur setelah menunaikan ibadah haji, busana tersebut juga menjadi penanda identitas dan kebanggaan keluarga.
Salah seorang jemaah, Siti Rosmiati, mengaku busana yang dikenakannya dipersiapkan sekitar empat hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Kainnya dibeli di Sengkang, Kabupaten Wajo, kemudian dijahit di Bone.
“Kami ingin memiliki ciri khas tersendiri. Kami bertiga sepupu sehingga sengaja memakai busana yang seragam,” ujarnya.
Menurut Siti Rosmiati, biaya pembuatan satu set busana lengkap dengan aksesorinya mencapai sekitar Rp2 juta.
Jemaah asal Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone itu mengatakan pengalaman paling berkesan selama menjalankan ibadah haji terjadi saat wukuf di Arafah.
“Di Arafah saya teringat orang tua dan adik yang baru meninggal dunia,” tuturnya haru.
Hal senada disampaikan jemaah lainnya, Darmawati Kasau. Ia memilih mengenakan busana berwarna hitam dengan aksesoris merah karena warna tersebut merupakan favoritnya.
Busana yang dikenakannya dibeli di pasar di Kabupaten Bone dan dijahit secara khusus untuk menyambut kepulangan dari Tanah Suci.
Darmawati berangkat menunaikan ibadah haji bersama ibunya setelah menunggu antrean sekitar 15 tahun.
Ia bersyukur seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar dan kondisi kesehatannya tetap terjaga selama berada di Arab Saudi.
“Alhamdulillah, lancar-lancar dan sehat,” katanya.
Selain membawa pengalaman spiritual yang mendalam, para jemaah juga membawa berbagai oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman, seperti kurma dan cokelat khas Arab Saudi. (RB)



