Konsul Jenderal Australia Ajak Delegasi Muslim Kunjungi Al Markaz Makassar
Makassar, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, bersama delegasi Muslimah Australia, mengunjungi Masjid Al Markaz Al Islami pada Senin (22/9).
Kunjungan ini menjadi bagian dari program pertukaran Muslim Australia-Indonesia yang dikelola oleh Kementerian Luar Negeri Australia.
Kunjungan ini terasa istimewa karena turut disertai oleh tujuh tokoh Muslim terkemuka dari Australia, yang mewakili berbagai latar belakang etnis dan budaya seperti Eropa, Afrika, Malaysia, dan Turki. Rombongan disambut hangat oleh Ketua Yayasan Islamic Center (YIC) Al Markaz Prof. Hamid Awaluddin, didampingi Anggota Dewan Pembina Andi Heri Iskandar, Ketua Harian YIC Prof. Mustari Mustafa, dan Sekjen YIC Arman Arfah.
Dalam sambutannya, Todd Dias menyatakan kebahagiaannya bisa kembali berkunjung ke Al Markaz Al Islami setelah sebelumnya hadir saat bulan Ramadan tahun ini.
“Saat kunjungan pertama di bulan Ramadan, saya menyampaikan harapan agar suatu saat ada delegasi Muslim dari Australia yang bisa datang ke sini. Hari ini, harapan itu terwujud. Ini sebuah kehormatan besar bagi saya dan para delegasi,” ujar Todd Dias.
Menurutnya, keberagaman dalam rombongan ini mencerminkan karakter multikultural masyarakat Australia. Ia menyebut Al Markaz sebagai tempat yang bukan hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga pusat kehidupan masyarakat.
“Kunjungan ini menjadi kesempatan besar bagi para delegasi untuk belajar dan mengambil inspirasi dari Al Markaz, khususnya dalam hal bagaimana sebuah masjid dapat berperan lebih dari sekadar tempat ibadah,” tambahnya.
Al Markaz Sebagai Model Masjid Multidimensi
Masjid Al Markaz Al Islami dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keislaman terbesar di Indonesia Timur. Kompleks ini tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi umat. Fasilitas di dalamnya meliputi taman kanak-kanak, perpustakaan, area perdagangan, hingga ruang terbuka untuk masyarakat.
Todd Dias mengaku sangat terkesan sejak pertama kali menginjakkan kaki di masjid ini. Ia bahkan merekomendasikan Al Markaz kepada para tamunya, mengungguli destinasi ikonik lainnya di Makassar.
“Masjid ini sangat besar dan arsitekturnya luar biasa. Ada yang menyarankan tamu kami ke Masjid 99 Kubah, tapi saya bilang: lebih baik ke Al Markaz. Ini bukan hanya masjid, tapi pusat kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga berharap kunjungan ini dapat menginspirasi komunitas Muslim di Australia dalam mengembangkan fungsi masjid di negaranya, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
“Walaupun tidak sebesar Al Markaz, masjid-masjid di Australia tetap bisa mencontoh konsep yang diterapkan di sini—seperti menyediakan ruang bermain, tempat usaha kecil, atau area olahraga bagi masyarakat,” tutupnya.
Ketua Harian YIC, Prof. Mustari Mustafa, menyampaikan apresiasinya atas kunjungan Konsul Jenderal Australia dan para delegasi. Ia menilai bahwa pemilihan Al Markaz sebagai lokasi kunjungan bukanlah hal yang kebetulan.
“Pilihan ini didasarkan pada referensi yang kuat. Bahkan saya mendapat kabar langsung dari Ibu Ulfa tentang bagaimana Al Markaz direkomendasikan di kalangan internasional,” ungkap Prof. Mustari.
Ia menegaskan bahwa visi Al Markaz sebagai masjid multidimensi—bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, sosial, dakwah, dan pengembangan peradaban telah diakui secara luas.
Sementqra Prof. Hamid Awaluddin, Ketua YIC, juga turut menjelaskan kepada para tamu mengenai kegiatan dan peran Al Markaz, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga program-program sosial lainnya.
“Kami tidak berpegang pada satu mazhab tertentu. Al Markaz terbuka untuk semua mazhab Islam, dan kami mendorong kolaborasi dari semua pihak,” jelas Prof. Hamid.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara komunitas Muslim di Indonesia dan Australia. Lebih dari sekadar kunjungan simbolis, momen ini menjadi jembatan kerja sama antarbangsa dalam bidang keagamaan dan sosial budaya. (RB)



