Banner

10 Daerah di Sulsel Jadi Prioritas Penanganan

 10 Daerah di Sulsel Jadi Prioritas Penanganan

Sulsel, Stunting, BKKBN Sulsel

Banner
Banner

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Angka stunting di Sulawesi Selatan mengalami penurunan signifikan dalam setahun terakhir, sejumlah wilayah masih menunjukkan tingkat prevalensi yang cukup tinggi.

Pemerintah Provinsi Sulsel bersama BKKBN menetapkan 10 kabupaten/kota sebagai prioritas penanganan stunting untuk menekan angka kejadian lebih lanjut.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Shodiqin menyebutkan, pada tahun 2023 angka stunting di provinsi ini mencapai 27,4 persen, dan berhasil ditekan menjadi 23,3 persen pada tahun 2024. Penurunan ini menjadi kabar baik, namun angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini tercatat 19,8 persen.

“Di Sulawesi Selatan, beberapa wilayah masih memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi. Yang tertinggi adalah Kabupaten Jeneponto, dengan angka mencapai sekitar 37 persen,” ungkapnya

Guna mempercepat penanganan, Gubernur Sulawesi Selatan telah menetapkan 10 kabupaten/kota dengan angka stunting tertinggi sebagai wilayah prioritas untuk mendapatkan bantuan dan penanganan khusus. Kata Shodiqin BKKBN sendiri turut mengarahkan berbagai mitra strategis untuk memperkuat intervensi di wilayah-wilayah tersebut.

Lanjut salah satu upaya unggulan yang dijalankan BKKBN adalah program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Program ini merupakan inisiatif nasional yang menargetkan 1 juta keluarga berisiko stunting, dengan 35 ribu di antaranya berada di Sulsel.

“Alhamdulillah hingga Agustus kemarin, capaian program GENTING di Sulawesi Selatan sudah mencapai 59 persen. Program ini juga didukung oleh berbagai mitra yang membantu baik dalam bentuk nutrisi maupun non-nutrisi,” ujarnya.

Tak hanya program pusat, sejumlah inovasi lokal juga turut mendorong percepatan penanganan stunting. Salah satunya adalah inisiatif dari Kabupaten Bulukumba, yang menggelar kegiatan “Malam Peduli Stunting”. Kegiatan ini mengundang BUMN, BUMD, serta pengusaha lokal untuk melakukan lelang amal, dengan hasil yang digunakan mendukung keluarga berisiko stunting.

“Dari kegiatan tersebut, terkumpul dana sekitar Rp500 juta, yang kemudian dikelola oleh Baznas dan disalurkan kepada 295 sasaran, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, baduta, dan balita,” jelasnya.

Bantuan yang diberikan mencakup makanan bergizi hingga fasilitas non-nutrisi seperti pembangunan jamban sehat. Proses penyaluran dilakukan melalui jaringan kader KB, Posyandu, dan penyuluh di lapangan.

Menurut BKKBN, kunci utama keberhasilan penurunan angka stunting adalah sinergi lintas sektor dan peran aktif masyarakat. BKKBN berkomitmen untuk terus menjembatani kolaborasi antara mitra dan keluarga berisiko stunting, guna menciptakan intervensi yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Kami hanya menjadi jembatan antara mitra dengan sasaran. Pelaksana di lapangan adalah para kader dan mitra yang sudah bekerja luar biasa. Harapan kita bersama, angka stunting di Sulsel bisa turun hingga di bawah rata-rata nasional,” tutupnya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *