41 Pengelola TBM Belajar Bangun Komunitas Literasi yang Lebih Terarah
GOWA, Radioalmarka.co.id – Pengelolaan komunitas literasi tidak cukup hanya mengandalkan semangat relawan dan kegiatan membaca. Kemampuan mengelola administrasi, menyusun program, membangun jejaring hingga membuat proposal menjadi bagian penting agar gerakan literasi dapat terus berjalan dan berkembang.
Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang diperoleh peserta dalam Pelatihan Manajemen Komunitas Literasi yang digelar Gowa Menyala selama dua hari, 26-27 September 2026, di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Kabupaten Gowa.
Sebanyak 41 peserta dari 13 komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) mengikuti kegiatan tersebut. Pelatihan juga melibatkan Forum TBM Sulawesi Selatan, Forum TBM Kabupaten Gowa, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan serta relawan Gowa Menyala.
Ketua Forum TBM Sulawesi Selatan, Galang Pratama, yang menjadi salah satu peserta, menilai materi pelatihan menjawab kebutuhan pengelola TBM di lapangan.
Menurutnya, masih terdapat pengelola komunitas yang belum memahami pentingnya sistem administrasi dan struktur organisasi dalam menjalankan kegiatan.
“Pelatihan ini sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan oleh TBM, khususnya teman-teman yang mengikuti kegiatan selama dua hari ini. Ini sangat penting karena masih banyak teman-teman yang lalai dan kurang memahami sistem administrasi maupun struktur,” ujar Galang.
Ia mengatakan, meskipun komunitas banyak digerakkan secara sukarela, tata kelola tetap diperlukan agar organisasi dapat berjalan secara tertib.
“Berkomunitas pun kita harus tertib administrasi,” katanya.
Selain administrasi, kemampuan menyusun proposal juga dinilai penting bagi keberlanjutan komunitas. Galang menyebut berbagai peluang dukungan dan bantuan yang tersedia setiap tahun dapat dimanfaatkan komunitas apabila pengelolanya memiliki kemampuan menyiapkan proposal dengan baik.
“Kami harapkan kegiatan ini bisa berkelanjutan karena setiap tahun ada bantuan yang bisa menjadi peluang. Kami juga diajarkan cara pembuatan proposal,” ujarnya.
Peserta lainnya, Rifka Azisah Ibrahim dari TBM Umah Finger, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bekal awal bagi pengelola yang baru mulai mengembangkan komunitas.
“Saya sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Sebagai pemula, ini menjadi pondasi,” kata Rifka.
Ia mengaku mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai program yang dapat dikembangkan, manfaat kegiatan, serta bagaimana komunitas dapat menjaga keberlanjutannya.
“Melalui pelatihan ini kami bisa merancang beberapa program apa saja yang bisa kami lakukan. Kami juga mendapat gambaran masa depan seperti apa manfaat dan keberlanjutannya, serta bisa saling berjejaring satu sama lain,” ujarnya.
Pembina Gowa Menyala, Andi Bunga Tongeng, mengatakan penguatan tata kelola merupakan salah satu kebutuhan penting bagi komunitas literasi dan TBM.
Menurutnya, gerakan literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca buku, tetapi juga membutuhkan organisasi yang mampu merancang kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan mengukur dampaknya.
Karena itu, materi pelatihan tidak hanya membahas pengelolaan kelembagaan dan administrasi, tetapi juga penyusunan program literasi, pengelolaan koleksi, pengelolaan relawan, monitoring dan evaluasi, pembangunan kemitraan, penyusunan proposal hingga rencana pengembangan komunitas.
“Kita ingin komunitas memiliki kemampuan untuk mengelola organisasi dan programnya dengan lebih baik. Dengan begitu, kegiatan yang dilakukan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi bisa terus berkembang,” kata Andi Bunga.
Ia menjelaskan, Gowa Menyala sendiri telah bergerak dalam bidang literasi sejak terbentuk pada 7 Januari 2017 di Kabupaten Gowa.
Gerakan tersebut diawali antara lain melalui program Literasi Sekolah di SD Inpres Mawang pada 2017-2020. Pada masa pandemi, Gowa Menyala menjalankan program “Membaca di Rumah Saja”, kemudian melanjutkan kegiatan Literasi Sekolah di SD Inpres Balang Punia.
Gowa Menyala juga mengembangkan program “Ceritakan Bukumu” serta “Ruang Cerita Buku” sebagai ruang berbagi, berdiskusi dan belajar bersama.
Berbagai kegiatan pendukung juga dikembangkan, seperti talkshow literasi, Gowa Menyala Berbagi, lomba esai, pelatihan desain grafis, webinar mendongeng hingga Gowa Menyala Goes to Panti.
Andi Bunga mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi membutuhkan kerja bersama. Komunitas tidak dapat bergerak sendiri jika ingin memperluas akses dan menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.
“Kalau ingin dampaknya lebih luas, Gowa Menyala tidak bisa berjalan sendiri. Kita perlu membangun jejaring dan berkolaborasi dengan komunitas lain serta TBM yang ada di desa-desa,” ujarnya.
Pelatihan tersebut diharapkan menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus membangun jaringan antarpengelola komunitas literasi di Kabupaten Gowa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bantuan Fasilitasi Komunitas Literasi melalui kerja sama Gowa Menyala dengan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (RB)



