Banner

12 Desa Menjadi Prioritas ICRAF di Sulsel

Banner
Banner

MAKASSAR, RAZFM – Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu sasaran International Center Research Agroforestry (ICRAF) untuk menjalankan proyek Sustainable Landscapes For Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia atau Land4Lives.

Prioritasnya adalah belasan desa yang berada di Daerah Aliran Sungai Walanae.

Sonya Dewi Direktur ICRAF Indonesia Sonya Dewi menyampaikan, lokus proyek ini adalah aksi adaptasi perubahan iklim pada kawasan daerah aliran sungai, dan Kabupaten Bone dinilai sangat pas untuk menjalankan proyek ini.

Ada Indikator utamanya yaitu, tingkat kemiskinan Kabupaten Bone yang cukup tinggi, berada pada urutan ketiga dari 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Selain itu, bentang lahannya juga sangat beragam.

“Bentang lahannya yang beragam dari hulu sampai ke hilir. Perlu kita ketahui di hulu masih banyak hutan, di daerah hilir ada kawasan nelayan sementara di tengah-tengah bercampur ada sawah ada perkebunan.

Ini yang menjadikan Kab Bone punya Keragaman, dalam hal biofisik dan keragaman masyarakat dalam memakai lahan itu,” katanya.

Lebih lanjut Sonya, proyek ini akan berlangsung selama lima tahun. Dan pihaknya saat ini masih berada dalam tahap awal untuk memetakan permasalahan, kendala, hingga kesempatan untuk perbaikan penghidupan agar masyarakat makin paham dengan perubahan iklim dan dampak bagi kehidupan mereka.

Dari hasil observasi di lapangan, pihaknya menemukan sejumlah persoalan. Misal di beberapa tempat ada yang cenderung kering, sementara di tempat lain justru kebanjiran.

“Dampaknya juga makin terasa, bisa gagal panen, longsor erosi, dan sebagainya. Dari kunjungan lapangan itu kami juga melihat komitmen pemerintah dan masyarakat untuk bisa mempertahankan penghidupannya agar lebih baik.

Mereka tetap mendapat penghasilan dari lahan pertanin, perkebunan, ternak, perikanan, tapi juga lingkungan tidak rusak,” jelasnya.

Sementara, Muhammad Syahrir Koordinator Provinsi Land4Lives untuk Sulawesi Selatan menuturkan, dalam penentuan desa dibutuhkan lebih 3-4 bulan dalam proyek ini dan akan berjalan di 12 desa yang tersebar di beberapa kecamatan.

Dalam menentukan desa itu perlu proses. konsultasi dengan Bappeda setempat, apakah desa ini sudah sesuai dengan target pembangunan mereka. Dari konfirmasi itu jadi masukan bagi kami untuk memilih 12 desa terpilih,” papar Syahrir.

Setelah 12 desa terpilih, pihaknya juga tak langsung terjun mengerjakan proyek. Mereka justru menemui langsung masyarakat di wilayah setempat untuk meminta persetujuan.

“Kami undang perwakilan perempuan, kelompok rentan, kelompok minoritas, kami sosialisasikan apa yang kami lakukan. Setelah diskusi, mereka paham dan membut kesepakatan bahwa mereka menerima proyek ini dengan baik,” jelasnya.

Peneliti senior ICRAF Indonesia yang juga bertindak selaku Koordinator Paket Kerja 2 Land4Lives, Suyanto menambahkan, pendekatan proyek yang akan dikerjakan berbeda-beda bergantung pada isu di masing-masing lokasi.

Setiap lokasi akan digolongkan ke dalam sub-sub das yang meliputi bagian hulu, tengah, dan hilir. Meski begitu, tetap ada integrasi satu sama lain.

“Jadi di hulu misalnya yang ada banyak perkebunan jagung, kami akan cari alternatif apakah ada alternatif bio forestry atau ada tekni konservasi untuk menurunkan sedimentasi, erosi, dan lain-lain. Nanti di hilir berbeda lagi strateginya. Misal bagaimana manajemen kepiting berkelanjutan,” urai Suyanto.

Tak berhenti sampai di proyek lapangan semata, ICRAF juga mendorong agar proyek ini bisa terintegrasi dengan kebijakan pemerintah daerah agar tetap berkelanjutan.

Seperti di bagian hulu yang rencananya akan melibatkan KPK dalam penyusunan rencana pengelolaan hutan jangka panjang atau RPHJP. Kemudian khusus untuk DAS, akan didorong penyusunan rencana pengelolaan DAS.

“Sehingga ketika proyek ini selesai bisa dilanjutkan oleh pemerintah supaya ada keberlanjutannya. Tolok ukur keberhasilan proyek ini adalah ketika ada perubahan perilaku masyarakat dari yang belum menerapkan praktik berkelanjutan, jadi menerapkan. Kemudian ada indikator kuantitatif berapa ribu petani yang akan dilatih,” tandasnya. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *