Banner

YIC Al-Markaz Al-Islami Gelar Diskusi Publik, Usung Tema
“Masjid Sebagai Lokomotif Peradaban”

 YIC Al-Markaz Al-Islami Gelar Diskusi Publik, Usung Tema“Masjid Sebagai Lokomotif Peradaban”
Banner
Banner
YIC Al-Markaz Al-Islami Gelar Diskusi Publik, Usung Tema
“Masjid Sebagai Lokomotif Peradaban”

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami menggealar Diskusi Publik bertema “Masjid Sebagai Lokomotif Peradaban” pada Jumat, 12/01/24.

Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Milad Ke-28 Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Diskusi Publik tersebut di pandu oleh Pahir Halim selaku moderator, dan menghadirkan dua narasumber yaitu, Dosen UIN Alauddin, Prof. Lomba Sultan, serta Pakar Hukum Ekonomi Syariah, Prof. M Arifin Hamid.

Kegiatan diawali dengan Keynote Speaker yang disampaikan Dewan Pembina YIC Al-Markaz Al-Islami, Ir. Andi Herry Iskandar. Ia mengatakan sesuai dengan tema, Masjid sebagai lokomotif peradaban sehingga masjid tak hanya tempat ibadah namun juga menjadi pusat pendidikan bahkan pusat ekonomi.

“Namanya lokomotif berarti menarik semuanya jadi harapan kita masjid itu sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan sebagai pusat ekonomi,” ungkapnya.

Herry menjelaskan pihak pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami telah melakukan berbagai kegiatan pendidikan dan aktifitas ekonomi di kawasan Masjid, contohnya pameran UMKM dan Travel Umroh di Milad Ke-28 ini.

“Semua sudah kita laksanakan semua pengurus juga kalau kita lihat ada pameran travel, mudah-mudahan ini gaungnya bisa lebih besar lagi,” paparnya.

Kata Herry, pengembangan ekonomi Masjid tidak sebatas konsep saja, namum diharapakan dapat dijalankan dengan serius. Pelibatan UMKM di Masjid Al-Markaz Al-Islami yang selama ini berjalan sangat membantu kemajuan ekonomi masyarakat.

“Mudah-mudahan masjid bukan hanya (sebuah) konsepsi pengembangan ekonomi, tapi kita memang eksekusi di sini. Kemarin saya diberi tahu oleh Wali kota Makassar bahwa dinas UMKM kota itu sangat senang dengan pelibatan kegiatan di sini mudah-mudahan dengan Al-Markaz Al-Islami ini kita bisa lebih meningkatkan perekonomian utamanya teman-teman di (sektor) UMKM,” tukasnya.

Dosen UIN Alauddin, Prof. Lomba Sultan mengemukakan sudah kewajiban masyarakat khusunya muslim untuk memakmurkan masjid.

“Yang memakmurkan masjid ini bukan hanya yang membangun tetapi juga orang yang melaksanakan ibadah sholat, banyak melakukan kajian-kajian atau studi Islam. Alhamdulillah masjid Al-Markaz ini sudah melakukan kegiatan memakmurkan masjid,” imbuhnya.

Ia menyebutkan, ketika Masjid sudah makmur maka hal yang perlu diperhatikan juga ialah memperhatikan kemakmuran jemaah Masjid itu sendiri.

“Tetapi memakmurkan masjid tidak cukup hanya fisik dan kegiatan-kegiatan keagamaan akan tetapi bagaimana masjid yang memiliki cukup banyak keuangan, lalu disekitar masjid tersebut ada orang fakir miskin, ada yang sedang sakit, putus pendidikan, orang yang terlilit utang, itu merupakan bagian dari memakmurkan jemaah,” ulasnya.

“Itulah yang dinamakan dengan memakmurkan masjid dan memakmurkan Jemaah,” singkat Prof. Lomba Sultan.

Sementara itu Pakar Hukum Ekonomi Syariah Prof. M Arifin Hamid menerangkan pengelolaan masjid harus bertransformasi ke pengelolaan Masjid berbasis ekonomi syariah.

“Pengelolaan masjid sampai saat ini alhamdulillah berjalan berdasarkan sumbangan jemaah, sampai kapan kita mempertahankan (pengelolaan) seperti ini?,” ungkapnya.

Ia menyebutkan saat ini telah dibuat konsep pengelolaan masjid berbasis ekonomi syariah dan telah diberikan ke Dewan Masjid Indonesia (DMI) agar dijadikan rujukan oleh seluruh pengurus Masjid.

“Karena itu pada kesempatan kali ini saya sudah tawarkan konsep ke DMI di mana pengelolaan masjid berbasis ekonomi syariah,” imbuhnya.

Konsep tersebut bernama klinik pengelolaan masjid berbasis ekonomi syariah, dengan tujuan menguatkan sumber keuangan Masjid.

“Banyak masjid yang memiliki lahan luas yang dibiarkan kosong melompong dan memiliki saldo yang sangat besar, saya menawarkan kita membuat program khusus klinik pengelolaan masjid berbasis ekonomi syariah jadi ke depan masjid tidak terlalu mengandalkan sumbangan sumbangan dari jemaah,” ujarnya.(Shahibul Firdaus)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *