Banner

Peningkatan Literasi Bencana, Kunci Minimalisir Dampak Resiko Bencana  

 Peningkatan Literasi Bencana, Kunci Minimalisir Dampak Resiko Bencana  
Banner
Banner

MAKASSAR, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Indonesia merupakan salah satu negara yang kerap terjadi bencana alam. Ini disebabkan karena Indonesia letak geografisnya berada di tiga lempeng besar bumi yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik yang dapat menimbulkan gempa. 

Faktor terjadinya bencana juga disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri yang merusak lingkungan sehingga terjadi bencana hidrometerologi, seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor.

Bencana dapat dimitigasi melalui peningkatan literasi bencana kepada masyrakat serta kebijakan pemerintah.

Mitigasi bencana ini dibahas tuntas pada kegiatan Ngobras (Ngobrol Keummatan dan Kebangsaan Al-Markaz) yang diadakan oleh Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami dengan menghadirkan dua narasumber dari Pakar Ekologi Islam Univeristas Islam Makassar (UIM) Prof. Dr. Mir Alam Beddu, dan Pakar Geologi sekaligus  Warek IV Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Eng.  Adi Maulana, dengan tema “Mitigasi Bencana : Membangun Kesadaran Kolektif” yang berlangsung di taman baca Masjid Al-Markaz Al-islami, Ahad pagi, 15 September 2024.

Pakar Ekologi Islam UIM Prof. Mir Alam Beddu mengatakan seluruh elemen masyarakat terlibat dalam persoalan mitigasi bencana.

“Mitigasi berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana, setelah saya telusuri kita juga terlibat bagaimana dalam mencari akar masalahnya itu bencana dan meminimalkan bencana,” terangnya.

Prof. Alam menuturkan, dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 41 telah disebutkan bahwa perilaku manusia juga yang menjadi faktor utama terjadinya bencana alam.

“Tuhan yang meciptakan segalanya untuk kepentingan ummat manusia, tapi manusia itu sendiri yang cenderung merusak, ini dijawab juga oleh Allah SWT, terjadinya kerusakan di darat dan di laut akibat ulahnya manusia,” jelasnya.

Menurut Prof. Alam ada 3 faktor timbulnya bencana. Diantaranya perilaku manusia, kebijakan pemerintah, dan penarapan ilmu yang keliru.

“Pertama tangan manusia, yang suka menebang pohon, buang sampah sembarangan dan lain sebagainya. Ada yang mengatakan bencana hadir karena perilaku kolektif, perilaku kolektif hadir karena kesadaran kolektif, kesadaran keliru terbangun karena pemahaman yang keliru, itulah yang mengantar perilaku yang keliru,” imbuhnya.

Kemudian kebijakan pemerintah yang kurang tepat yang hanya mengedepankan kepentingan tertentu, yang ujungnya merusak alam.

“Kedua adalah kebijakan (Pemerintah) yang tidak berpihak pada lingkungan. Kebijakan normatif sudah bagus, tapi kenyataanya ketika ada unsur kepentingan kita berusaha bagaimana daerah Survlus satu juta ton padi misalnya,” katanya.

“Pendekatannya menggunakan bahan kimia yang menafikan alam itu tidak benar, lari dari frame payung pembangunan, kita dapat hasil yang baik pada periode itu tetapi setelah itu akan terjadi degradasi tanah dan sulit untuk kembali lagi,” ulasnya.

Ketiga adalah ilmu yang dirakit menafikan. Tetap memperhatikan produksi, aspek kearifan lingkungan, dan aspek kesehatan. 

“Contoh, tidak ada saya bimbing Mahasiswa bagaimana pengaruh pemberian pupuk terhadap peningkatan produksi, tetapi saya bimbing mengurangi penggunaan bahan kimia pada tanaman. Tanaman memang tumbuh subur, tapi jika dikonsumsi akan berbahaya untuk kesehatan. Jadi cukup banyak produk pertanian yang menggunakan bahan kimia,” sebutnya.

Sementara itu, Pakar Geologi Unhas Prof. Dr.Eng.q Adi Maulana,  mengungkapkan, Indonesia menjadi salah satu negara rawan bencana.

“Indonesia saya istilahkan negara supermarket bencana, karena hampir bencana alam ada di Indonesia.

Secara geografis kita terletak di tiga lempeng besar bumi. Bumi ini tersusun dengan 16 lempeng besar. Lempeng-lempeng ini jika bergerak satu sama lain maka disebut gempa, dibawah bumi ini ada arus konveksi membuat lempeng-lempeng ini berputar cuman kita tidak rasakan,” terangnya.

Selain itu, ada 512 gunung api aktif di seluruh dunia, 129 diantaranya berada di Indonesia. 

“Bagaimana kalau Allah bilang 129 meletus bersamaan selesai kita. Makanya saya mengatakan Indonesia ini adalah negara supermarket bencana, belum lagi bencana hidrometriologi, bencana yang diakibatkan oleh dinamika bumi, jadi itu bukan berarti bumi itu jahat, tapi memang sunatullah,” pungkasnya.

Maka dari itu kata Prof. Adi Maulana, mitigasi bencana perlu dilakukan, agar dapat meminimalisir resiko ataupun jatuhnya korban jiwa.

Wakil Rektor IV Unhas ini juga memaparkan sistem mitigasi bencana Jepang yang sangat baik terutama dalam mengatasi gempa dan tsunami. Sistem ini yang perlu diterapkan juga di Indonesia.

“Di Jepang itu negara yang sering gempa dan tsunami, tetapi mereka berhasil membuat sistem mitigasi sehingga bencana yang terjadi di Mamuju dengan skala 6,4 Magnitudo sementara bencana di Jepang dengan skala 7,2 Magnitudo itu korbannya di Jepang itu 15, sedangkan di mamuju hampir 1000 lebih, nah itu kan kita sudah diperlihatkan itu bahwa, hai manusia gunakan akal dan pikiranmu,” paparnya.

Pemerintah Jepang juga memetakan wilayah yang rawan gempa, sehingga saat membangun infrastruktur atau bangunan telah diperhitungkan tahan gempa. 

“Saya sangat sepakat bahwa manusia itu harus ada karena kalau kita sudah tahu bahwa disitu jalur patahan, maka rencana tata ulang wilayah kita harus menjauhi jalur-jalur patahan, nah ini yang dilakukan Jepang, mereka tau dimana jalur patahan di wilayahnya, kalaupun ada jalur patahan, maka ada regulasi dalam membangun bangunan terutama bagunan publik,” kata Prof. Adi Maulana.

“Sama dengan banjir, kalau kita sudah tahu bahwa ini adalah zona banjir, jangan tinggal di situ, pemerintah harusnya mengatakan bahwa ini daerah sempadan sungai dia harus bebas dari pemukiman,” tambahnya.

Dalam hal mitigasi bencana, bagian terpentingnya ialah literasi bencana.

Kata Prof. Adi Maulana, salah satu literasi yang paling kurang di Indonesia itu adalah literasi bencana dari 5 jenis literasi.

“Apa maksudnya literasi bencana, yaitu pengetahuan tentang bencana. ada 4 tingkatan literasi bencana yang pertama literasi paling dasar itu adalah kita tahu tentang definisi, Kemudian yang kedua kita tahu tentang definisi dan kita bisa menyelamatkan diri, yang ketiga kita tahu definisi bisa menyelamatkan diri dan bisa menyelamatkan orang. yang keempat kita tahu semua ini ditambah kita mampu untuk kemudian membuat atau mempengaruhi kebijakan supaya berpihak terhadap pengurangan risiko terhadap bencana,” ulasnya.

Literasi bencana masyarakat Indonesia baru di tahap satu. Kata Prof. Adi Maulana banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka tinggal di daerah dengan potensi gempa bumi yang sangat besar sekali. 

Tidak ada satupun teknologi di dunia yang bisa menghentikan ketika gempa mau terjadi sampai sekarang. Manusia lah yang kemudian harus mencoba untuk beradaptasi.

“Kita harus tahu ketika gempa terjadi kemana kita harus pergi, ke mana harus evakuasi, ke mana kemudian bangunan-bangunan yang ada harus diperbaiki kualitasnya supaya tahan gempa, kemudian kita tanam mangrove untuk menahan tsunami dan sebagainya, kemudian kita simulasi, kita tes dengan alarm untuk memperlihatkan Bagaimana kesiapsiagaaan,” sebutnya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *