Banner

Peacetival Makassar Jadi Puncak Kegiatan United For Peace 2022

Banner
Banner

MAKASSARZ RAZFM – Kota Makassar dan dunia menghadapi tantangan intoleransi, extremisme kekerasan, dan kekerasan sexual. Saat ini Kota Makassar juga masih menghadapi tantangan tawuran antar kelompok dan kekerasan di ruang pendidikan.

Selama 3 bulan terakhir ini, United for Peace (UFP) 2022, Forum Barani, Aliansi Perdamaian, Harmoni Sulsel, serta jejaring perdamaian lainnya, telah melakukan beragam inisitiaf perdamaian dari menguatkan jejaring, peace camp, lokalatih perdamaian, konferensi perdamaian, peace campaign, hingga advokasi.

Syaiful Alim dari Forum Barani mengatakan Puncak kegiatan UFP 2022 ialah gelaran Peacetival Makassar dengan tema “End Violence Build Peace” dengan berbagai kegiatan menarik, diantaranya, Talkshow, Workshop khusus mengelolah sampah, Peace activity, dan Peace Performance atau penampilan lembaga, organisasi dan komunitas.

“jadi kegiatan ini adalah puncak kegiatan dalam rangka hari perdamaian dan hari toleransi internasional tahun 2022. Sebelumnya ada beberapa kegiatan seperti peace culture night, peace training, capacity building untuk komunitas atau jaringan-jaringan perdamaian utamanya komunitas-komunitas pemuda di Kota Makassar,” jelasnya.

Sayiful mengungkapakan terselenggaranya event ini merupakan hasil kolaborasi jaringan perdamaian yaitu Forum Barani, Aliansi Perdamaian dan Jalin Harmoni.

“Ada tiga jaringan besar di Makassar yaitu Forum Barani, Aliansi Perdamaian dan Jalin Harmoni itu berkolaborasi dalam mensukseskan acara hari perdamaian dan hari toleransi dengan tema UFP Tahun 2022,” Ujar Syaiful.

Syaiful menambahkan Peacetival terbuka secara umum. para peserta diberikan materi konflik perdamaian dan tawuran di Kota Makassar.

“Kegiatan Peacetival ini adalah bagaimana kita mendengarkan beberapa materi terkait dengan materi-materi konflik perdamaian dan tawuran di Kota Makassar. Program UFP 2022 menyasar pemuda untuk bagaimana mempromosikan toleransi perdamaian keberagaman yang inklusi,” imbuhnya.

Sementara itu, Therry Alghifary Direktur Bhinneka Tunggal Ika yang juga pemateri talk the peace kegiatan ini menjelaskan, bentuk konflik kekerasan antar kelompok yang dominan terjadi di Kota Makassar ialah Konflik kekerasan antar kelompok mahasiswa dan kekerasan antar kelompok suku atau identitas kedaerahan.

“Dalam data yang dikeluarkan oleh Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) (2015) periode September-Desember 2014 menunjukkan kekerasan antar kelompok khususnya konflik antar kampung paling sering terjadi Sulawesi Selatan secara berurutan yaitu di Kota Makassar, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten palopo, dan Kabupaten Luwu,” paparnya.

Therry menjelaskan kekerasan serta diskriminasi juga kerap terjadi di organisasi-organisasi mahasiswa.

“Terkadang budaya di organisasi mahasiswa itu terlebih saat pengkaderan ataupun menyelesaikan suatu masalah, masih menggunakan kekerasan dan diskriminasi yang berlebihan, nah inilah yang tidak dibolehkan,” terangnya.

Dirinya menyampaikan sistem senioritas dan junioritas jangan sampai dilakukan secara berlebihan bahkan melewati batas wajar.

“Jangan juga membuat terlalu ekstrem kita harus tau budaya kita yakni menghormati lebih tua, saling menghargai satu sama lain, jadi jangan terlalu berlebih-lebihan,” jelas Therry.

Therry menambahkan untuk menghilangkan kekerasan maka perlu merubah budaya kekerasan yang masih terjadi di kampus-kampus serta adnya sikap saling menghargai antar mahasiswa.

“Jadi yang perlu diperbaiki sebenarnya adalah budaya kampusnya kita, junior mengahrgai senior begitupun juga senior harus mengahrgai juniornya, boleh ada perbedaan budaya tapi prinsipnya jangan sampai ada kekerasan,” ujarnya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *