Melalui Program “STRONGER” KPI Sulsel Mendorong Integrasi Konten Dan Materi Pencengahan Perkawinan Anak

MAKASSAR, RAZFM – Koalisi Perempuan Indonesia dengan dukungan Oxfam Indonesia melalui program STRONGER: “Sustainable intervention, Greater Voices, and Change the Barrier on Violence Against Women and Girls” adalah upaya lebih lanjut untuk mengkonsolidasikan hasil intervensi dan memperkuat pencapaian.
Sebelumnya, Creating Spaces bersama LBH Apik Makassar, telah memperluas Gerakan dalam upaya mencegahan perkawinan anak dilingkup Satuan Pendidikan dan pengadilan Agama di 3 Wilayah sasaran di Provinsi Sulawesi selatan (Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Pangkep).
Sekretaris Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia, menuturkan KPI, telah mendorong integrasi konten atau materi tentang pencegahan perkawinan anak dengan isu hak kesehatan seksual dan reproduksi untuk di ajarkan kepada anak-anak di sekolah bagi yang formal dan non formal.
“Kemudian intervensi berikutnya, bagaimana kita masuk pada wilayah pengajuan dispensasi kawin itu teman-teman bergerak di sana dalam upaya pencegahannya di mulai di akar rumput karena sesuai dengan Perma nomor 5 bahwa Hakim di minta sedapat mungkin meminta pendapat dari hasil pemeriksaan dinas kesehatan rekomendasi, DP3A dan konseling.
Bentuk kerja sama yang tengah berjalan saat ini melalui akar rumput kemarin, kata Alex, sapaan akrab Ramlawati telah menggelar MOU dengan Pengadilan Agama Gowa dengan Pangkep maupun Kota Makassar
Selain itu menggelar diskusi reguler jaringan Penguatan Jaringan sebagai upaya pencegahan perkawinan anak di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan bentuk kolaborasi untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR).
Ditempat yang sama Dr.Fadiah Mahmud, Selaku Ketua LPA Sulawesi Selatan, mengatakan
Dari beberapa kapasitas SDM yang sudah ada dari beberapa gerakan yang sudah di lakukan oleh kawan-kawan secara massif di berbagai jenjang itu karena mandat strada bukan hanya di Provinsi, Kabupaten Kota tapi itu sampai ke desa kelurahan RT/ RW.
” Mungkin penting kita beda Strada itu seberapa persen mi kah yang sudah terealisasi, yah karena penting juga kita harus mengevaluasi itu dengan semangat, komitmen di mai dari regulasi SDMnya, kemudian komitmennya kita, lalu kemudian gerakan-gerakan massif di tingkat masyarakat hasilnya signifikan kawan-kawan, kita bisa lihat 2018 itu 14,1% dan Ahamdulilah 2021 itu sekarang kita masuk di posisi 9,25% yang tadinya Sulsel urutan 12 sekarang kita menjadi urutan 7 dengan gerakan yang teman-teman lakukan dan berbagai cara, berbagai penjuru, berbagai jenjang yang di lakukan, baik pemerintah, NGO, teman-teman mitra pembangunan dan masyarakat sendiri melakukan itu dan hasilnya menurut saya signifikan, ” Ujar Fadiah.
Lebih lanjut Kata Fadiah Strada penting menjadi rujukan kita dengan 5, strategi yang pertama adalah optimalisasi kapasitas anak, dukung sepenuhnya anak-anak kita di forum anak penting menjadi pelopor dan pelapor yang kedua, Lingkungan yang mendukung PPA, kemudian yang ketiga aksesibilitas di perluasan layanan ke empat perlunya regulasi dan kelembagaan dan penguatan koordinasi pemangku kepentingan, strategi inilah menjadi penting dan rujukan kita dalam pencengahan perkawinan anak di akar rumpu, “Tutup Fadiah.
Diskusi yang digelar selama dua hari (30-31 Agustus 2023)di Hotel M-Remcy, menghadirkan beberapa nara sumber, diantaranya Emma Ramayanti dari LBH Apik Sulsel, Andi Fajar Pengadilan Agama Makassar dan Fadhlilah Nur dari Pengadilan Agama Pangkep. (Ruby Sudikio).



