Makassar Menuju Kota Filantropi, BAZNAS Dorong Penguatan UPZ hingga Kelurahan
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia mendukung gagasan Pemerintah Kota Makassar menjadikan Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional.
Dukungan tersebut disampaikan salah satu pimpinan BAZNAS RI, Hj. Saidah Sakwan, saat bertemu Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu (23/9/2026).
Saidah mengatakan, gagasan tersebut perlu segera diterjemahkan dalam bentuk gerakan nyata yang melibatkan masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Menurutnya, BAZNAS Pusat bersama BAZNAS Kota Makassar telah melakukan pembahasan awal terkait pengembangan Makassar sebagai kota filantropi. Selanjutnya, konsep tersebut akan diarahkan menjadi sebuah gerakan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
“Kita saling mendukung gagasan, segera dieksekusi saja. Kita bikin Road to Philanthropy City. Rencananya akan di-launching November,” kata Saidah.
Ia menyebut Makassar berpeluang dikembangkan sebagai prototipe atau percontohan gerakan filantropi. Namun, gerakan tersebut tidak cukup hanya melalui kampanye atau seremoni.
Salah satu langkah yang didorong BAZNAS adalah memperkuat Unit Pengumpul Zakat (UPZ) hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Kita dorong BAZNAS Makassar untuk membuat institusi di tingkat kota, sampai tingkat kelurahan, yaitu UPZ. Di kecamatan dan kelurahan itu harus ada UPZ,” ujarnya.
Menurut Saidah, keberadaan UPZ di tingkat kelurahan akan menjadi bagian penting dalam menggerakkan program filantropi hingga tingkat masyarakat.
UPZ nantinya dapat menjadi wadah untuk menghimpun sekaligus mengelola zakat dan dana sosial masyarakat, kemudian mendukung program yang menyasar warga yang membutuhkan.
“UPZ inilah yang nanti akan mengeksekusi program-program gerakan Pak Wali yang diluncurkan. Jadi bisa dieksekusi di tingkat paling akar rumput, di tingkat masyarakat,” jelasnya.
Selain penguatan kelembagaan, Saidah mendorong filantropi dikembangkan sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. Salah satu caranya melalui penguatan literasi sejak usia sekolah.
Menurutnya, pelajar tidak hanya perlu mendapatkan pemahaman mengenai filantropi secara teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam kegiatan sosial.
Anak-anak sekolah, kata dia, dapat dikenalkan dengan zakat, amil dan mustahik sekaligus dilibatkan dalam proses penyaluran bantuan.
“Anak-anak sekolah harus diajarkan untuk mengembangkan filantropi. Mereka kita literasi, kita ajari bagaimana menjadi amil, bagaimana bertemu mustahik,” tuturnya.
BAZNAS Pusat juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan konsep Kota Filantropi Makassar. Saidah mengusulkan adanya konferensi atau forum intelektual yang melibatkan kampus-kampus di Makassar.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk memperkaya konsep sekaligus mengembangkan model Kota Filantropi yang sesuai dengan karakteristik Makassar.
“Saya minta bekerja sama dengan kampus untuk me-launching gagasan Pak Wali di tingkat perdebatan para intelektual,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan, Kota Filantropi harus dibangun sebagai gerakan bersama dan tidak hanya bergantung pada pemerintah maupun segelintir kelompok.
Menurut Appi, potensi masyarakat untuk membantu sesama cukup besar. Karena itu, dibutuhkan ekosistem yang dapat mempertemukan masyarakat yang ingin berbagi dengan warga yang membutuhkan bantuan.
“Gerakan filantropi tidak cukup jika hanya digerakkan oleh segelintir orang. Dibutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan potensi para dermawan dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan,” kata Appi.
Ia menilai BAZNAS memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara masyarakat yang ingin menyalurkan kepedulian dan masyarakat yang membutuhkan.
Melalui kelembagaan yang jelas, penyaluran bantuan diharapkan dapat dilakukan secara terarah, transparan dan akuntabel.
“Melalui kelembagaan BAZNAS untuk memberikan akses kepada para dermawan ini, kita mempersiapkan orang yang akan dibantu, mempertemukan orang yang membantu dan yang dibantu,” jelasnya.
Appi mengatakan, gagasan Kota Filantropi juga tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan dana sosial. Lebih jauh, konsep tersebut diharapkan dapat membangun budaya saling membantu di tengah masyarakat perkotaan.
Ia menyebut ukuran kemajuan sebuah kota tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kepedulian masyarakat terhadap kelompok yang membutuhkan.
“Kalau gagasan ini lahir, dikawal, serta dijalankan dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, maka Makassar tidak hanya akan menjadi barometer nasional dalam pengelolaan zakat dan filantropi, tetapi juga akan menjadi kota yang diberkahi,” tuturnya.
Rangkaian persiapan menuju gerakan tersebut ditargetkan mengarah pada peluncuran Makassar sebagai prototipe Kota Filantropi Nasional pada November 2026, bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Makassar.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua BAZNAS Makassar Dr. Usman Sofian, Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Andi Bukti Djufrie, serta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Makassar Mohammad Syarief. (*)



