Kemenag Salurkan Dukungan Pendidikan dan Tunjangan Guru, Jutaan Masyarakat Terima Manfaat
JAKARTA Radioalmarkaz.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) memaparkan sejumlah capaian program selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berbagai program tersebut menjangkau jutaan masyarakat, mulai dari bantuan pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, pemenuhan gizi siswa dan santri, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, program-program tersebut merupakan bagian dari kontribusi Kemenag dalam mendukung Asta Cita, khususnya agenda ke-3, ke-4, ke-7, dan ke-8 yang berkaitan dengan tugas dan fungsi kementerian.
Dalam Konferensi Pers Capaian Dua Tahun Asta Cita, Senin (19/10/2026), Nasaruddin menegaskan bahwa berbagai kebijakan yang dijalankan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau ditanya apa yang ingin kami capai dari seluruh ikhtiar tersebut, jawabannya sederhana dan sekali lagi ini menjadi amanah Presiden Prabowo, yaitu kami ingin kehadiran negara melalui Kementerian Agama semakin dirasakan masyarakat,” ujar Menag.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pendidikan. Sepanjang 2025–2026, Program Indonesia Pintar (PIP) telah menjangkau 5.216.294 siswa madrasah serta sekolah pendidikan Kristen, Katolik, dan Hindu dengan anggaran mencapai Rp4,07 triliun.
Pada jenjang pendidikan tinggi, Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menjangkau 289.255 mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha dengan nilai bantuan Rp3,032 triliun.
Sementara itu, Beasiswa Indonesia Bangkit hasil kerja sama Kemenag dan LPDP menjangkau 3.659 penerima pada 2024–2025 dengan nilai Rp1,377 triliun.
“Di bidang pendidikan, perhatian utama kami adalah memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus kesempatan anak-anak Indonesia untuk belajar,” tegas Nasaruddin.
Penguatan akses pendidikan keagamaan juga dilakukan melalui pembangunan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Negeri (SETIAKIN) di Bangka Belitung.
Di sisi lain, pemerintah turut meningkatkan dukungan terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Pada 2025, sebanyak 452.796 guru madrasah dan guru pendidikan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha menerima tunjangan profesi senilai Rp19,148 triliun.
Jumlah penerima pada 2026 tercatat sebanyak 671.704 guru dengan alokasi anggaran Rp25,996 triliun.
6,3 Juta Siswa dan Santri Terjangkau Program MBG
Selain pendidikan, perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi generasi muda menjadi bagian dari program yang dipaparkan Kemenag.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri. Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menilai pemenuhan gizi dan layanan kesehatan merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan serta perkembangan kemampuan anak.
“Anak-anak yang sehat dan tercukupi kebutuhan gizinya tentu memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya,” kata Wamenag.
Ia menekankan bahwa pelaksanaan MBG di lingkungan pesantren perlu didukung pendataan santri yang akurat, distribusi tepat sasaran, serta kualitas makanan yang terjaga.
Menurutnya, pesantren juga berpeluang mengambil peran lebih besar dalam ekosistem program tersebut. Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya dirasakan melalui pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dapat mendorong aktivitas ekonomi pesantren dan masyarakat di sekitarnya.
“Pesantren yang kuat harus ditopang oleh santri yang sehat, berkualitas, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh,” tegasnya.
Pada sektor ekonomi, Kemenag turut mendorong pengelolaan dana sosial keagamaan agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin mengungkapkan, pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya tercatat mencapai Rp44,698 triliun dengan 149,954 juta catatan penerima manfaat.
Selain itu, aset wakaf uang mencapai Rp4,7 triliun dan telah menjangkau 750 ribu penerima manfaat. Pemanfaatannya antara lain dilakukan melalui beasiswa pendidikan dan inkubasi wakaf produktif.
“Bagi kami, yang penting bukan hanya berapa besar dana yang terkumpul, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat,” kata Kamaruddin.
Program pemberdayaan ekonomi juga dikembangkan melalui 267 Kampung Zakat, 287 titik pemberdayaan ekonomi berbasis Kantor Urusan Agama (KUA), serta pembentukan 25 Kota Wakaf.
Program pemberdayaan berbasis KUA tersebut tercatat menjangkau 2.141 penerima manfaat sepanjang 2025–2026.
Kemenag juga melaporkan pengelolaan dana umat melalui sejumlah lembaga keagamaan, yakni Rp6,16 miliar melalui Yayasan Kasih Persaudaraan Bangsa untuk umat Kristen, Rp3,17 miliar melalui Badan Dharma Dana Nasional untuk umat Hindu, dan Rp11 miliar melalui Dana Paramita untuk umat Buddha.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya terbantu hari ini, tetapi juga semakin berdaya untuk masa depan,” lanjutnya.
Selain pemberdayaan ekonomi, Kemenag melaporkan peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Angka tersebut melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 sebesar 76,77.
Penguatan Pesantren dan Kerukunan Beragama
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyebut berbagai kebijakan pemerintah dalam dua tahun terakhir turut menunjukkan perhatian terhadap kehidupan umat beragama.
Salah satu langkah yang disoroti adalah penguatan kelembagaan pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kemenag.
Menurutnya, penguatan kelembagaan tersebut bukan sekadar perubahan struktur organisasi, melainkan upaya meningkatkan perhatian terhadap pengembangan pesantren dan pelaksanaan tiga fungsi utamanya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
“Penguatan Ditjen Pesantren bukan sekadar penambahan struktur di Kementerian Agama.
Yang ingin kita perkuat adalah ekosistem pesantren dan manfaatnya bagi umat,” ujar Wamenag.
Ia menambahkan, ruang pengabdian Kemenag mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kualitas kehidupan beragama, pendidikan, pengembangan pesantren, hingga pelayanan kepada masyarakat.
Bakom Apresiasi Capaian Kementerian Agama
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, mengapresiasi berbagai program Kemenag yang dinilai berkontribusi terhadap penguatan persatuan nasional,
pembangunan integritas, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menyoroti peran agama dalam menjaga kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Dari Bakom, kami sangat mengapresiasi tiga hal yang saya catat tadi. Pertama, Bapak Menteri Agama dan jajarannya telah berhasil meningkatkan agama sebagai alat persatuan nasional,” ujar Syahganda.
Ia juga menyoroti peran nilai-nilai agama dalam membangun kesadaran antikorupsi serta mendorong masyarakat menjalankan kehidupan yang menjunjung tinggi integritas.
“Yang kedua, telah berhasil menjadikan agama sebagai alat pembebasan dari budaya korupsi,” ungkapnya.
Aspek ketiga yang mendapat perhatian adalah kontribusi Kemenag dalam pembangunan manusia melalui berbagai program pendidikan, termasuk beasiswa dan pembelajaran jarak jauh.
“Yang ketiga, agama itu ikut berperan serta dalam memajukan pembangunan manusia dan sumber daya manusia, seperti pembelajaran jarak jauh, beasiswa, dan lain-lain,” ujarnya.
Syahganda menegaskan bahwa penyampaian capaian dua tahun pemerintahan merupakan bagian dari pertanggungjawaban kepada masyarakat sekaligus bentuk keterbukaan informasi publik.
“Penyampaian keberhasilan ini adalah bagian dari pertanggungjawaban pemerintahan dan keterbukaan informasi publik,” tegasnya.
Ia juga berharap media massa dapat memberikan tanggapan serta menyampaikan persoalan yang masih membutuhkan perhatian pemerintah, termasuk berbagai kendala dalam pelaksanaan program dan pelayanan Kemenag.
“Respons dari teman-teman media adalah hal yang kami harapkan untuk kami sampaikan kepada Bapak Presiden dan pemerintah,” katanya.
Paparan capaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan program Kemenag selama dua tahun pemerintahan. Ke depan, berbagai program pendidikan, kesejahteraan pendidik, pemenuhan gizi, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kerukunan diharapkan terus memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)



