Banner

Kemarau Panjang, Warga Tallo Sehari Habiskan 8 Jeriken Air

 Kemarau Panjang, Warga Tallo Sehari Habiskan 8 Jeriken Air
Banner
Banner

9MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id– Kemarau panjang membuat warga di kawasan utara Kota Makassar harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Salah satunya dirasakan Sukma, warga Jalan Daeng Tantu, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo. Ia mengaku harus membeli air setiap hari untuk kebutuhan memasak dan mandi.

Dalam sehari, Sukma membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan jeriken air. Dengan harga Rp1.000 per jeriken, pengeluaran untuk air bersih mencapai sekitar Rp7.000 hingga Rp8.000 per hari.

“Setiap hari kami harus membeli air. Satu jeriken Rp1.000, sehari bisa tujuh sampai delapan jeriken untuk memasak dan mandi,” keluh Sukma, Selasa (2/9/2026).

Menurutnya, kondisi kesulitan mendapatkan air bersih bukan baru terjadi tahun ini. Warga di kawasan utara Makassar, kata dia, kerap menghadapi persoalan serupa ketika musim kemarau tiba.

Sukma mengatakan, warga sangat berharap pada pasokan air dari PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pasalnya, air dari sumur bor di sekitar permukiman warga belum dapat digunakan karena kualitas air dinilai tidak layak.

“Kami berharap penuh dari PDAM karena air sumur bor tidak bisa digunakan. Kondisinya berbau dan kotor,” ujarnya.

Keluhan tersebut menjadi gambaran bagaimana dampak kemarau dirasakan langsung masyarakat. Ketika sumber air menurun, kebutuhan yang biasanya mudah diperoleh harus dibeli dengan biaya tambahan setiap hari.

Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki menjadi salah satu bantuan yang dinantikan warga

 

.Keluhan serupa disampaikan Kartini, warga Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo. Ia mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sudah dirasakan sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak dirinya masih kecil.

Menurut Kartini, setiap memasuki musim kemarau, ia kembali harus membeli air menggunakan jeriken untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak jarang, ia harus mengambil sendiri air tersebut menggunakan gerobak karena tidak ada penjual yang datang mengantarkan ke permukiman warga.

“Dari saya masih kecil sudah seperti ini. Kalau musim kemarau, kami susah air. Hampir setiap saat harus membeli air pakai jeriken,” ujar Kartini.

Ia menuturkan, untuk mendapatkan air, dirinya harus membawa gerobak dan mengambil sendiri air yang telah dibeli. Kondisi itu menjadi rutinitas warga ketika sumber air di sekitar permukiman tidak dapat diandalkan.

“Tidak ada orang atau penjual yang datang menawarkan, jadi kami sendiri yang ambil pakai gerobak,” katanya.

Bagi warga seperti Sukma dan Kartini, persoalan air bersih bukan hanya soal kemarau tahun ini. Keterbatasan akses air bersih telah menjadi persoalan yang mereka hadapi berulang kali dari tahun ke tahun.

Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan warga.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat meninjau lokasi penyaluran air bersih di Kecamatan Tallo mengatakan pemerintah akan terus melakukan intervensi untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

“Pemerintah harus hadir di setiap persoalan-persoalan masyarakat,” tegas Munafri.

Pemkot Makassar saat ini memperkuat penanganan krisis air melalui distribusi mobil tangki PDAM, pembangunan SPAM, sumur bor serta penyediaan tandon air di sejumlah lokasi terdampak kekeringan. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *