Jenewa-UNICEF Edukasi Media Dalam Pencengahan Stunting

MAKASSAR, RAZFM – Yayasan Jenewa Madani Indonesia berkolaborasi dengan Unicef Indonesia dalam upaya pencegahan stunting. Dalam pencengahan yang dilakukan, pihanya ikut melibatkan media yang punya peran untuk menyebarluaskan informasi dan edukasi bernilai positif.
Surahmansah Said selaku Direktur Yayasan Jenewa Madani Indonesia mengemukakan, program stunting menjadi program nasional, dan menjadi perhatian besar hingga saat ini. Unicef Indonesia sejak 2021 telah menghadirkan dukungan untuk penguatan program gizi di Indonesia. Bentuk Upaya yang dilakukannya yakni dengan bekerjasama beberapa lembaga yang konsentrasi pada isu kesehatan.
“Saat membuka kegiatan Orientasi Media “Upaya Pencegahan Stunting Melalui Peningkatan Kapasitas Media di Provinsi Sulawesi Selatan”, di Best Western Makassar, Kamis (20/10/22).
Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Sulawesi dan Maluku, Henky Widjaja, mengatakan, kegiatan yang melibatkan media sudah sering dilaksanakan. Menurut dia, media memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat terkait isu pencegahan stunting.
“Prevelensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Makanya dibutuhkan peran media dalam memberikan informasi kepada masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan Orientasi Media “Upaya Pencegahan Stunting Melalui Peningkatan Kapasitas Media di Provinsi Sulawesi Selatan”, di Best Western Makassar, Kamis (20/10/22).
Kondisi prevalensi stunting di Sulawesi Selatan dinilai mengalami kemajuan. Pasalnya, pada 2019 lalu, Sulsel dinilai berhasil menekan prevalensi stunting dari 35 persen menjadi 30.
Henky menuturkan, penurunan prevalensi stunting di masing-masing daerah tidak hanya lewat angka, stunting menjadi bagian dari satu masalah yang krusial dan perlu diperhatiankan.
Sementara dr. Djunaidi M Dachlan dari TGUPP Provinsi Sulsel, menilai pemberian edukasi bukan menjadi solusi tanpa pendampingan sebab dapat menimbulkan kegagalan,.
“Ibu hamil harus di dampingi itulah kegagalan kita selama ini, kita larang mereka datang sendiri, ibu hamil perlu di jaga supaya ibu hamil mahu datang, ke pos yandu. Sebab pola edukasi yang kita lakukan sekarang ini lambat, penyuluh kita tidak bergerak sekitar 50-60% ibu hamil kita tidak ke pos yandu Jadi pilihannya kalau bahasa kebijakannya sedikit memaksa, ” ujar dr Djunaidi.
Lanjut dr Djunaidi, stunting sulit untuk kita nol- kan, karena stunting persoalan panjang yang terbelakang. Bukan karena mentargetkan tapi karena pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat dan itu hanya bisa di perbaiki sampai dua tahun setelah dua tahun cuman di pelihara.
“Persoalan stunting bukan pendeknya saja yang jadi persoalan besar, tapi yang jadi persoalan besar adalah perkembangan otaknya, perkembangan metabolismenya, organ-organnya yang menjadi persoalan jadi selebihnya kita jaga saja persoalan-persoalan itu tidak muncul. Tapi kalau kita memperbaiki kita harus selamatkan 1000 hari pertama dan jika sudah lewat sudah tidak bisa di selamatkan, kita tinggal jaga agar berfungsi baik yang memang sudah ada, “tuturya.
Djunaidi berharap, keterlibatan media, dapat menjadi jembatan untuk kemajuan bersama dan ini bisa ditingkatkan sehingga kita dapat memastikan bahwa isu stunting bisa dituntaskan atau diturunkan,”tutupnya.
Kegiatan orientasi media ini berlangsung satu hari. para peserta dibekali beberapa materi terkait isu pencegahan stunting dan teknik-teknik dasar membuat liputan seputar isu stunting yang dipaparkan Nurdin Amir s salah satu wartawan senior di Sulawesi Selatan. (RB)



