Banner

Inflasi Capai 6,35% Di Sulsel, Pasca Kenaikan BBM

Banner
Banner

MAKASSAR, RAZFM – Perkembangan inflasi tahunan 2004-2021, cenderung naik tinggi saat pemerintah memberlakukan penyesuaian harga BBM, Untuk Sulawesi Selatan, berdasarkan data historis, implementasi kenaikan harga BBM di tahun 2013-2014 menyebabkan tingkat inflasi naik dari 6,22% menjadi 8,61%.

Hal tersebut disampaikan oleh kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan Suntono saat konferensi pers kinerja APBN, kondisi sosial ekonomi, dan perkembangan ekonomi regional Sulawesi selatan periode September 2022 bertempat di Gedung Keuangan Negara II Makassar, Selasa, (01/11/22.)

“Kenaikan harga BBM di tahun 2013 berdampak pada tingkat kemiskinan yang meningkat menjadi 10,32%. Hal ini wajar karena kenaikan harga tersebut tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan masyarakat. Namun, setelah tahun 2015, tingkat inflasi cenderung turun, dan di tahun 2022 ini kembali naik pasca penyesuaian harga BBM mecapai 6,35% per September 2022,” paparnya.

Suntono menjelaskan;setelah kenaikan harga BBM, inflasi terjadi pada bulan pertama dan meningkat lebih tinggi pada bulan kedua secara (yoy)

Adapun sektor yang terdampak akibat kenaikan harga BBM adalah transportasi, komunikasi, jasa keuangan, bahan makanan, perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.

“Inflasi Sulsel pada September 2022 berada di angka 6,35% (yoy), lebih tinggi dibanding inflasi Sulampua dan Nasional. Inflasi Sulsel dikontribusi oleh komoditas Administered Prices, khususnya Kelompok Transportasi,” ujar Suntono

Lebih jauh, Suntono mengungkapkan berdasarkan komoditas, penyumbang inflasi tahunan tertinggi di Sulsel adalah bensin, angkutan udara, dan minyak goreng.

“Inflasi lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada komoditas Volatile Food. Berdasarkan komoditas, komoditas cumi-cumi, emas perhiasan, dan pisang memberi andil deflasi terdalam.,” Ujarnya.

Secara bulanan, Sulsel mencatatkan inflasi 1,12% (m-to-m), sejalan dengan tren Nasional dan Sulampua. Pengalihan subsidi BBM pada awal September 2022 mendorong inflasi bulanan Kelompok Transportasi dengan andil 1,15% (andil m-to-m).

Seluruh pimpinan daerah, terutama Gubernur Sulsel, Walikota/Bupati 13 daerah, Wakil Walikota/Bupati 4 daerah, dan perwakilan 6 daerah lainnya di Sulsel. Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, anggota TPID Sulsel, serta BUMN dan pelaku usaha terkait berpartisipasi dan menyampaikan komitmen terkait rencana pengendalian inflasi ke depan, “tutup Suntono.

Turut hadir, Fadjar Majardi, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Syaiful Kepala Kanwil DJPB Provinsi Sulawesi Selatan, Soebagio Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, Kanwil DJP Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara, Zaeni Rakhman Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi, Sudirman Kanwil DJKN Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat, Sudirman.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *