Harga Emas Melonjak, Ekonomi Sulsel Melaju Tipis
Makassar, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan menggelar Bincang Bareng Media di Café Good Fields, Jalan Botolempangan Makassar, pada Senin (17/11/2025).
Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda, dalam penjelasaannya menuturkan perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Sejumlah indikator seperti Geopolitical Risk Index, Trade Policy Uncertainty, dan Economic Policy Uncertainty menunjukkan tren peningkatan sepanjang tahun, menekan stabilitas pasar keuangan internasional.
Rizki menuturkan Bank Indonesia mencatat proyeksi pertumbuhan global 2025 sedikit membaik dari 3 persen menjadi 3,1 persen, didorong pemulihan ekonomi Tiongkok pada triwulan III berkat stimulus fiskal.
“Negara-negara maju seperti Jepang, kawasan Eropa, dan India masih mencatatkan pertumbuhan yang belum kuat. Di Amerika Serikat, perlambatan ekonomi semakin terasa akibat pelemahan pasar tenaga kerja dan kenaikan angka pengangguran. Kondisi ini membuat bank sentral AS kembali menurunkan suku bunga kebijakan, yang terlihat dari penurunan Fed Fund Futures serta yield Treasury AS, tuturnya.
Ketidakpastian global berdampak langsung pada negara berkembang. Kata Rizki, Aliran modal ke emerging markets menurun, nilai dolar AS melemah ke level indeks 98,6 persen, dan harga emas melonjak sebagai aset aman. Kenaikan harga emas inilah yang juga memberi efek nyata pada inflasi regional, termasuk Sulawesi Selatan.
BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III sebesar 5,04 persen, sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,12 persen. Meski begitu, secara tren ekonomi nasional bergerak stabil di kisaran 4,9–5,1 persen dalam beberapa triwulan terakhir.
Sementara Ekonomi Sulawesi Selatan mencatat peningkatan tipis pada triwulan III, dari 4,94 persen menjadi 5,01 persen. Meski meningkat, Bank Indonesia menilai kenaikannya masih sangat marginal. Sulsel berada di peringkat ke-19 secara nasional.
Lanjut Rizki, secara struktur, pertumbuhan Sulsel paling banyak ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, meski keduanya naik tidak signifikan. Dari sisi lapangan usaha, pertanian menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, disusul jasa pendidikan.
Inflasi Sulsel pada Oktober tercatat 0,1 persen, dengan inflasi tahunan 2,98 persen—masih aman di bawah target 3,5 persen. Dua bulan terakhir, inflasi berada pada zona stabil setelah sempat “merah” pada April hingga Agustus.
Rizki, menuturkan BI menyebut emas sebagai penyumbang inflasi terbesar di Sulawesi Selatan sepanjang Januari–Oktober. Harga emas yang naik hampir 50 persen membuat komoditas ini konsisten menempati posisi pertama penyumbang inflasi setiap bulannya.
“Emas tidak bisa kita intervensi. yang bisa dikendalikan adalah komoditas pangan seperti beras,” jelas Bank Indonesia. Penyaluran beras SPHP yang sebelumnya masih di bawah target kini mulai dipercepat, dan hasilnya harga beras mulai menunjukkan penurunan. (RB)



