Banner

Bone Disiapkan Jadi Model Pertanian Tangguh Perubahan Iklim

 Bone Disiapkan Jadi Model Pertanian Tangguh Perubahan Iklim
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Kabupaten Bone didorong menjadi percontohan pengembangan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim di Sulawesi Selatan.

Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Sulsel, akademisi dan ICRAF Indonesia yang telah berjalan sekitar lima tahun.

Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bappelitbangda Sulsel, Inyo, mengatakan kerja sama tersebut telah melibatkan berbagai pihak sejak tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan.

Menurutnya, salah satu hasil penting dari kolaborasi tersebut adalah penguatan perencanaan pembangunan berbasis data dan riset.

“Perencanaan kita itu berbasis pada data, berbasis pada bukti. Salah satu faktor utama untuk menentukan berhasil tidaknya perencanaan adalah memastikan seluruh data berbasis riset dan seluruh kebijakan juga harus berbasis riset,” kata Inyo saat menghadiri Simpul Pangan Nusantara yang digelar di UNHAS Hotel and Convention, Makassar, Rabu (7/10/2026).

Ia mengatakan ICRAF menjadi salah satu lembaga yang membantu pemerintah mulai dari proses perencanaan, analisis data hingga penerapan program di lapangan.

Dari pemantauan Bappelitbangda Sulsel, terdapat perubahan yang cukup signifikan setelah berbagai inovasi diterapkan, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap sektor kesehatan, ekonomi dan sosial.

Di Kabupaten Bone, salah satu perubahan terlihat pada kemampuan petani memilih dan menanam komoditas yang lebih adaptif terhadap kondisi perubahan iklim.

“Kami melihat ada perubahan yang cukup signifikan sebelum dan sesudah inovasi yang dikerjakan oleh ICRAF, terutama terkait perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut Inyo, program di Bone tidak hanya diarahkan pada satu jenis komoditas. Pengembangannya mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan hingga peternakan.

Beberapa komoditas yang dikembangkan di antaranya kakao, padi dan jagung. Sektor peternakan juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan tersebut.

Karena itu, Pemprov Sulsel berharap pengalaman dari Bone dapat direplikasi oleh kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

“Harapan kami adalah Bone ini menjadi ikon, menjadi pilot yang bisa dicontoh oleh kabupaten yang lain,” katanya.

Inyo menegaskan keberlanjutan menjadi salah satu hal penting setelah program selesai. Menurutnya, berakhirnya periode program tidak boleh berarti berhentinya dampak dan praktik baik yang telah dibangun.

“Berakhirnya program ini bukan berarti berakhir apa yang telah dikerjakan, berakhir dampaknya. Yang paling penting adalah keberlanjutan dari sebuah program,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof. Rismaneswati, menilai pengembangan pertanian di Sulsel perlu meninggalkan pola monokultur dan mulai memperkuat sistem pertanian terpadu.

Menurutnya, pengembangan komoditas dapat dilakukan dengan mengombinasikan tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

“Bukan hanya satu komoditas saja, tetapi kita akan kembangkan integrated farming system. Bukan saja pertanian, tetapi juga ada peternakan, perikanan dan kehutanan dengan konsep agroforestri,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi biofisik Sulawesi Selatan memungkinkan pengembangan berbagai komoditas. Wilayah utara dinilai memiliki potensi besar untuk perkebunan, seperti kakao dan kelapa sawit, sementara wilayah selatan dapat diarahkan pada tanaman pangan yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam di Sulawesi Selatan. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *