BKKBN Sulsel Salurkan 3 Ribu Rak Telur Penuhi Kebutuhan Protein

MAKASSAR, RAZFM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus berupaya menekan angka kenaikan Stunting pada anak, salah satunya dengan menyalurkan makanan tinggi protein.
Melalui Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulsel Bekerja sama dengan PT Satwa Utama Raya (SUR) penyaluran menyasar 11 kecamatan di kota Makassar, dengan jumlah 3 ribu rak telur atau setara dengam 90 ribu butir telur.
Hal tersebut ditandai dengan hadirnya Sekretaris daerah provinsi Sulawesi Selatan Abdul Hayat Gani yang membuka kegiatan Soft Launching penyaluran pemberian makanan tinggi protein untuk percepatan penurunan stunting di aula kantor BKKBN Sulsel, Senin, 14/11/22.
Abdul Hayat Gani Mengatakan sumber protein tinggi bisa didapatkan salah satunya dari telur yang dapat memenuhi kebutuhan gizi manusia.
“Konsumsi dua butir telur sebagai sumber protein dqpat meningkatkan kekebalan tubuh sehingga baik untuk kesahatan,” ujarnya.
Abdul Hayat berharap kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta untuk penyaluran makanan tinggi protein ini, dapat terus berlanjut kedepannya dan diterapkan didaerah lain, sebagai upaya percepatan penurunan angka stunting.
Abdul Hayat Gani mengungkapkan angka staunting di Sulsel berada di angka 27,7 persen lebih tinggi dari tingkat nasional.
“Dari 24 kabupaten di Sulsel kasus stunting tertinggi di kabupaten jeneponto 37,9 persen dan terendah kasus stuntingnya di kota makassar 18,8 persen,” imbuhnya.
“Target penurunan stunting di angka 14 persen untuk tahun 2024 pemerintah sulsel,” lanjut Abdul Hayat.
Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Kadisnakeswan) Sulsel, Nurlina Saking menjelaskan, kerjasama pemerintah dengan PT Satma Utama Raya di awasi oleh disnakeswan sulsel guna memastikan kualitas telur yang akan disalurkan sehingga layak untuk di konsumsi masyarakat.
“Sebenarnya setelah kami melakukan pengawasan dari Dinkes kesehatan Sulsel terkait dengan penggunaan telur yang tidak ditetaskan tapi kami melakukan pemeriksaan hasilnya layak untuk di konsumsi jadi kami sarankan untuk di jadikan CSR karena tidak boleh di perjual belikan dipasar umum sehingga bermanfaat ke masyarakat utamanya yang terkena stunting,” ujarnya.
Lebih lanjut, kedepannya selain telur, Disnakeswan akan melakukan advokasi ke perusahaan yang memproduksi produk pangan asal ternak yang mengasikkan sumber protein hewani.
“Kedepan akan kami coba memberikan input kepada perusahaan yang memproduksi produk ternak yang menghasilkan sumber protein untuk di salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Nurlina.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Ritamariani menuturkan fokus utama pemenuhan asupan gizi mencegah stunting, tidak hanya pada anak namun juga terhadap orangtua bahkan mulai dari calon pengantin (Catin).
“Memang salah satu makanan yang tinggi protein nya adalah telur yang dikonsumsi oleh Catin, ibu hamil, Ibu Baduta, dan Balita itu sendiri dan kita fokus ke Baduta karena rentan terkena stunting,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengatakan pemeriksaan dokter yang rutin juga penting untuk mengetahui kondisi kesehatan sehingga mendapat penanganan yang tepat.
“Selain pemenuhan gizi harus juga dibarengi dengan pemeriksaan dokter dengan rutin mau di posyandu atau di fasiltas kesehatan,” kata Ritamariani.
BKKBN sendiri gencar melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mulai dari pengetahuan gizi, pola asuh anak, hingga pengaruh lingkungan dan perubahan perilaku buruk yang menjadi faktor terjadinya stunting.
“Tidak hanya gizi Kami BKKBN lebih banyak memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pola asuh serta perubahan lingkungan seperti perilaku buang air yang ingin di ubah dalam mencegah stunting,” imbuhnya.
Diharapkan penyaluran telur dapat memenuhi kebutuhan protein masyarkat sehingga menekan laju angka kenaikan stunting. (SB)



