Airlangga: B50 Pangkas Impor Solar, Devisa Negara Hemat Rp17 Triliun
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan implementasi program Biodiesel 50 (B50) akan memberikan dampak besar terhadap ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar.
Hal itu disampaikan Airlangga usai menghadiri Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO 2026 di Makassar, Selasa (4/8/2026).
Menurut Airlangga, penerapan B50 memungkinkan Indonesia tidak lagi melakukan impor solar sehingga mampu menghemat devisa negara dalam jumlah besar.
“B50 menentukan bahwa kita tidak perlu impor solar lagi. Dengan Biodiesel 50, penghematan devisanya bisa mencapai Rp17 triliun,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, kondisi harga minyak dunia yang masih berada di bawah asumsi pemerintah memberikan ruang bagi keberlanjutan kebijakan energi hingga akhir tahun.
“Rata-rata harga minyak yang kita beli masih di bawah US$90 per barel. Dengan kondisi tersebut, jika harga minyak berada di kisaran US$100 per barel, maka program Biosolar B50 dan Pertalite relatif masih aman hingga akhir tahun,” kata Airlangga.
Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong implementasi program B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, serta meningkatkan pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri.
Jika dipublikasikan sebagai berita online, naskah ini sudah berfokus pada isu B50 dengan menonjolkan manfaat penghematan devisa dan pengurangan impor solar. (RB)



