Banner

HKTI Siap Maksimalkan Urban Farming Lorong Wisata Di Kota Makassar

 HKTI Siap Maksimalkan Urban Farming Lorong Wisata Di Kota Makassar
Banner
Banner
Wakil Walikota Makassar menyampaikan sambutan di kegiatan seminar Urban Farming yang diadakan HKTI Sulsel di Hotel Almadera Makassar Senin, (05/06).

MAKASSAR, RAZFM – Urban Farming menjadi salah satu program Lorong Wisata Makassar. Sebanyak 1.095 lorong pada tahun 2022 disulap jadi lorong produktif.

Program Urban Farming itu, sebagai pemenuhan kebutuhan pangan keluarga pada masa pandemi Covid 19.

Namun tanaman yang berada di lorong wisata dipandang tidak terkontrol. Masyarakat perlu pendampingan untuk keberlanjutan dan meningkatkan program.

Maka dari itu DPD Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar kegiatan seminar Urban Farming “Solusi Pertanian Perkotaan, Gaya Hidup dan Bisnis” di Hotel Amadera, Senin (05/06).

Melalui seminar ini DPD Pemuda Tani HKTI Sulsel ingin bekerjsama dengan pemerintah kota untuk turut andil dalam memaksimalkan program Urban Farming yang ada dilorong wisata.

Wakil Walikota Makassar Fatmawati Rusdi, menyambut baik kolaborasi ini. Ia mengatakan semangat pemuda dari HKTI semoga bisa membantu memaksimalkan program.

“Ini berkesesuaian dengan program pemerintah kota yakni seribu lorong wisata. Pemuda tani ini memang harusnya terlibat dalam program ini,” tukasnya.

Fatmawati menuturkan berharap kolaborasi bersama HKTI ini bisa mengawal program, dengan memberi arahan, edukasi, mengontrol tanaman masyarakat.

“Kami sangat senang HKTI mau berkolaborasi melalui program lorong wisata ini,” ujarnya.

Keterlibatan HKTI ini diharapakan bisa mengajak masyarakat untuk memaksimal lahan kosong yang ada dilorong jadi produktif.

Selain pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, sektor UMKM di lorong wisata bisa mengolah tanaman untuk dikemas menjadi produk, sehingga bernilai ekonomi.

“Tentu karena inikan penthahelix, keterlibatan semua sektor diperlukan, baik NGO, CSO, Akademisi, pemerintah termasuk HKTI yang berperan mengajak masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, ketua DPD Pemuda Tani HKTI Rachmat menerangkan program lorong wisata sudah sangat baik dan harus dijaga keberlanjutannya, melalui sistem kesinambungan.

“Pemerintah sudah memulainya, dengan ada penanaman di lorong wisata, memang perlu sistem sustainable kesinambungan jangan sampai program ini hebat diawal doang, tetapi tidak sustinble berlanjut,” jelasnya.

Ia menyatakan, HKTI ingin berperan menjaga program penanaman dilorong itu tetap berjalan dan maksimal.

“Disinalh kami mengambil peran untuk mengisi kekosongan itu, kami sudah meminta kepada pemerintah kota untuk beri kami peluang untuk bisa memberikan contoh kepada masyarakat minimal beberapa tempat (lorong) yang kami kerjakan,” tukas Rachmat.

Rachmat menambahkan, HKTI optimis bisa mewujudkan lorong wisata sebagai solusi pemenuhan pangan di perkotaan, dengan SDM yang dimilki.

“Kami di pemuda HKTI Sulsel itu berisi orang-orang yang betul-betul konsen dan juga expert, bukan Hanya di pertanian saja, karena kami ada akademisi ada praktisi pertanian,” lanjutnya.

Hal yang mendorong HKTI bergabung ke program lorong wisata, karena tidak adanya monitoring atau controling, sehingga program dinilai kurang maksimal.

“Kekurangan dari lorong wisata ini utamanya urban farming, tidak ada yang menjaga, monitoring, controling, nah kami ini nanti akan melakukan controling minimal dua tiga kali seminggu kita akan masuk sejauh mana program itu bisa maksimal,” tambahnya.

Rachmat menjelaskan pemaksimalan yang dimaksud ialah, bukan hanya pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, namun urban farming dilorong wisata bisa menembus pasar.

“Kalau kita mau meningkatkan nilai tambah dari lorong, nanti jenis tanamannya yang harus diganti, contoh pakcoy itu bisa dijual, banyak penjual burger atau street food itu butuh selada-selada air,” ujarnya.(SB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *