Banner

BI Dorong Investasi Produktif di Sulampua, 98 Pertemuan

 BI Dorong Investasi Produktif di Sulampua, 98 Pertemuan
Banner
Banner

Makassar, Radioalmarkaz.co.id-Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) terus didorong menjadi tujuan investasi yang mampu menghasilkan nilai tambah dari potensi sumber daya alam.

Melalui Sulampua Investment and Business Forum (SiBF) 2026, sebanyak 43 proyek investasi potensial ditawarkan kepada investor domestik maupun internasional.

Forum yang berlangsung di Hotel Claro Makassar, 28–29 Oktober 2026, tersebut juga mencatatkan komitmen ekspor senilai Rp450 miliar dari kerja sama 31 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan 44 pembeli dari 20 negara.

Besarnya potensi sumber daya alam di kawasan Sulampua menjadi peluang untuk mengembangkan industri pengolahan, memperluas pasar perdagangan, serta memperkuat posisi komoditas unggulan daerah dalam rantai pasok global.

Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, mengatakan, Sulsel memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam, industri, dan konektivitas kawasan.

Menurutnya, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pengembangan hilirisasi agar komoditas unggulan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar internasional.

Sulsel, kata dia, merupakan produsen rumput laut terbesar secara nasional dengan produksi mencapai 4,01 juta ton. Sementara produksi perikanan tangkap mencapai 512.484 ton, menempatkan Sulsel pada posisi ketiga nasional.
Potensi lainnya berasal dari sektor perkebunan. Produksi kakao Sulsel tercatat mencapai 79,74 ribu ton, kelapa sawit sebesar 105,9 ribu ton pada 2025, serta kelapa mencapai 63,72 ribu ton.

Ketersediaan bahan baku tersebut dinilai membuka peluang pengembangan industri pengolahan, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan rantai pasok yang terintegrasi.

Since berharap SiBF 2026 dapat mempertemukan potensi daerah dengan kebutuhan pasar global. Untuk itu, pemerintah mendorong UMKM meningkatkan kualitas produk, memenuhi standardisasi, memperkuat kapasitas produksi, serta menjaga kesinambungan pasokan.

98 Pertemuan Bisnis Dijadwalkan
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan, SiBF 2026 dirancang untuk mempertemukan pemilik proyek investasi dengan calon investor sekaligus membuka peluang pembiayaan dan kerja sama bisnis.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 98 pertemuan bisnis secara langsung telah dijadwalkan dengan lebih dari 30 calon investor potensial, baik dari dalam maupun luar negeri.

Rizki mengatakan, forum tahun ini merupakan pengembangan dari Sulawesi Investment Forum (SIF) dan Anging Mammiri Business Fair (AMBF), yang sebelumnya berfokus di Sulawesi Selatan.

Perluasan cakupan menjadi kawasan Sulampua diharapkan mampu meningkatkan promosi potensi investasi dan perdagangan sekaligus memperkuat kemitraan bisnis lintas daerah dan negara.
Mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 350 peserta dari unsur pemerintah, investor, lembaga pembiayaan, pelaku usaha, dan mitra perdagangan.

Rizki menyebutkan, penguatan investasi dan ekspor menjadi perhatian penting karena kinerja ekonomi kawasan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Pertumbuhan ekonomi Sulampua tercatat sebesar 4,36 persen. Sementara itu, pertumbuhan investasi meningkat dari 6,7 persen menjadi 8,1 persen. Namun, pertumbuhan ekspor melambat dari 8,3 persen menjadi 4,3 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya mendorong investasi produktif sekaligus memperluas akses pasar agar potensi ekonomi kawasan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan berkelanjutan.

Komitmen Ekspor UMKM Capai Rp450 Miliar

Selain menawarkan proyek investasi, SiBF 2026 mencatatkan komitmen ekspor senilai Rp450 miliar yang melibatkan 31 UMKM dan 44 pembeli dari 20 negara.
Komitmen tersebut berasal dari empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum, komitmen ekspor untuk kelompok rempah-rempah serta makanan dan minuman mencapai Rp191,21 miliar. Sementara komoditas perikanan, perkebunan, dan kopi mencatatkan nilai Rp259,51 miliar.

Penguatan akses pasar UMKM juga dilakukan melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern. Hingga pelaksanaan forum, tujuh UMKM telah memperoleh perluasan akses pasar melalui kerja sama tersebut.

Di sisi lain, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah memperkuat fasilitasi investasi melalui pemetaan proyek potensial, penyusunan proposal investasi, dan pengembangan skema pembiayaan.

Upaya ini melibatkan sejumlah mitra strategis, di antaranya Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM,

Kementerian Keuangan, serta PT Sarana Multi Infrastruktur.

Rizki menegaskan, keberhasilan SiBF tidak cukup diukur dari besarnya komitmen investasi maupun perdagangan yang tercatat selama kegiatan.

Menurutnya, tindak lanjut setelah forum menjadi faktor penting untuk memastikan berbagai kesepakatan dapat diwujudkan menjadi investasi riil dan kegiatan ekspor yang berkelanjutan.

Melalui kolaborasi pemerintah, Bank Indonesia, investor, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha, SiBF 2026 diharapkan mampu mempercepat realisasi investasi, meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, serta memperluas penetrasi produk daerah ke pasar internasional. (*)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *