Banner

Hadapi Perubahan Iklim, Sulsel Perkuat Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan

 Hadapi Perubahan Iklim, Sulsel Perkuat Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id – Upaya memperkuat ketahanan pangan Sulawesi Selatan di tengah perubahan iklim menjadi perhatian dalam konferensi ilmiah sistem pangan berkelanjutan Simpul Pangan Nusantara yang digelar di UNHAS Hotel and Convention, Makassar, Rabu (7/10/2026).

Acara dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Sulsel, Dr. M. Ishaq Iskandar.
Ishaq

M. Ishaq Iskandar, mengatakan sektor pertanian membutuhkan kerja sama multipihak agar ketahanan pangan daerah dapat terus diperkuat.

Menurutnya, tantangan perubahan iklim, termasuk kondisi musim kering dan fenomena El Nino, menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi dalam menjaga produksi pangan.

“Untuk pertanian, untuk ketahanan pangan itu memang membutuhkan kolaborasi dengan multipihak, termasuk dengan para peneliti dan para ilmuwan yang tentu akan menambah ilmu bagaimana supaya ketahanan pangan kita semakin baik,” kata Ishaq.

Ia mengapresiasi dukungan dan kolaborasi dengan pihak Kanada serta ICRAF dalam pengembangan ketahanan pangan dan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim di Sulawesi Selatan.

Ishaq mengatakan Pemprov Sulsel sendiri telah menjalankan sejumlah program strategis untuk mendukung sektor pertanian. Di antaranya proyek multiyears pembangunan irigasi, pembagian sumur bor dan pompanisasi untuk lahan pertanian.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan varietas unggul serta mendapatkan dukungan pemerintah pusat berupa alat dan mesin pertanian, benih hingga pupuk.

“Banyak sekali diversifikasi. Apalagi juga dari pemerintah pusat, dari Pak Mentan, banyak membantu untuk alat-alat pertanian, bibit, pupuk, dan seterusnya. Saya kira itu sangat membantu masyarakat kita,” ujarnya.

Ishaq menyebut Sulawesi Selatan memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Karena itu, pengembangan pangan tidak hanya diarahkan pada komoditas padi dan jagung, tetapi juga pangan lokal lainnya.

Menurutnya, sagu, ubi dan talas menjadi bagian dari komoditas yang dapat dikembangkan untuk memperkuat diversifikasi pangan daerah.

Sementara itu, Kepala Kerja Sama Pembangunan Kanada, Global Affairs Canada, Alice Birnbaum, mengatakan Kanada memberikan dukungan pendanaan terhadap program tersebut karena ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas kerja sama Kanada dengan Indonesia.

Selain ketahanan pangan, dukungan tersebut juga diarahkan pada penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim serta kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Ia mengatakan dukungan terhadap sektor pangan diberikan karena isu tersebut menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sulawesi Selatan.

“Bagi Kanada, penting bahwa inisiatif yang kami dukung dapat berkelanjutan. Ketahanan pangan merupakan isu penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Dukungan tersebut diharapkan dapat mempertemukan pengetahuan dan hasil penelitian dari berbagai pihak untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof. Rismaneswati, mengatakan hasil riset akademisi perlu dihilirisasi agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah agroforestri, yakni sistem yang mengombinasikan pepohonan dengan tanaman pangan maupun komoditas lainnya.

“Temuan-temuan hasil penelitian dari ahli-ahli kami itu harus dihilirisasi. Hasil riset harus diterapkan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, pengembangan pertanian juga perlu diarahkan pada sistem yang terintegrasi dan tidak hanya bergantung pada satu komoditas.

Selain tanaman pangan dan perkebunan, sistem tersebut dapat mengintegrasikan peternakan, perikanan dan kehutanan.

Ia menilai Sulawesi Selatan memiliki sumber daya alam yang mendukung pengembangan berbagai komoditas dari wilayah utara hingga selatan.

Karena itu, konsep pertanian berkelanjutan perlu diperkuat melalui kebijakan pemerintah, termasuk regulasi dan perencanaan pembangunan.

“Dengan konsep seperti ini kita tetap bisa menjaga keberlanjutan. Itu yang kita butuhkan dengan kolaborasi ini, bahwa semuanya saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

 

 

 

Konferensi tersebut mempertemukan peneliti, dosen, mahasiswa, pemerintah daerah hingga pegiat pangan untuk membahas berbagai strategi membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sebanyak 43 makalah dan 19 poster ilmiah dipresentasikan dalam kegiatan tersebut. Topik yang dibahas mencakup berbagai isu, mulai dari pemanfaatan kebun pekarangan rumah tangga, pengembangan komoditas pangan, hingga tata kelola daerah aliran sungai dan kebijakan pangan di tingkat provinsi.

Kegiatan ini diselenggarakan ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance, bersama Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan dan Universitas Hasanuddin.

 

(RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *