Kick Off PQN 2026 di Al-Markaz, BI Tekankan Kemudahan dan Keamanan Transaksi QRIS
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami bersama Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan menggelar Kick Off Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, Senin (11/8/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema edukasi sistem pembayaran digital dan penyerahan kotak amal berbasis QRIS tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai kemudahan, manfaat, serta keamanan transaksi digital menggunakan QRIS.
Kegiatan diawali dengan salat Zuhur berjamaah dan turut dihadiri Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami Prof. Dr. KH Muammar Bakry serta Sekretaris Jenderal Masjid Al-Markaz Al-Islami Arman Arfah.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. KH Muammar Bakry menyampaikan bahwa penggunaan QRIS memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk dalam menyalurkan sedekah dan infak di masjid.
Menurutnya, masyarakat kini lebih sering membawa telepon seluler dibandingkan uang tunai di dalam dompet. Kondisi tersebut membuat pembayaran digital melalui QRIS menjadi alternatif yang praktis.
“Misalnya bersedekah di masjid. Kita lebih mudah ketika bersedekah dengan QRIS. Karena kadang isi dompet atau isi kantong kita tidak terlalu banyak. Sementara HP kita simpel dibawa dan bisa mengakses isi rekening,” ujar Muammar Bakry.
Ia menilai keberadaan kotak amal berbasis QRIS juga dapat memperluas kemudahan masyarakat dalam beramal. Jamaah tidak lagi harus selalu menyediakan uang tunai ketika ingin bersedekah.
“Pada kesempatan ini, kita berinteraksi dengan QRIS, termasuk yang ada di kotak amal. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah,” katanya.
Sementara itu, Deputy Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bayu Martanto menjelaskan bahwa QRIS merupakan standar pembayaran yang dibuat untuk menyatukan berbagai sistem pembayaran digital.
Ia mengibaratkan QRIS seperti bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pemersatu di tengah keberagaman suku dan bahasa di Indonesia.
“QRIS itu sebenarnya menyatukan bahasa. Dalam sistem perbankan dan sistem pembayaran, kalau tidak disatukan tentu berbeda-beda. Karena sistemnya berbeda, dibutuhkan satu bahasa, maka dibuat standar,” jelas Bayu.
Bayu menekankan bahwa masyarakat perlu memahami cara membaca QRIS dengan benar sekaligus memahami manfaat dan keamanan penggunaannya.
Menurutnya, QRIS memberikan kemudahan karena masyarakat cukup membawa telepon seluler untuk melakukan transaksi. Bahkan ketika seseorang tidak membawa dompet atau uang tunai, transaksi tetap dapat dilakukan selama memiliki fasilitas pembayaran digital.
“Kadang kita mampir salat Jumat di masjid, lupa tidak bawa dompet, tidak masalah. Ada handphone, tinggal scan. Tinggal ikhlasnya berapa, punya berapa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bayu mengatakan tantangan Bank Indonesia saat ini bukan hanya membuat QRIS dikenal masyarakat, tetapi memastikan QRIS benar-benar digunakan secara luas.
Karena itu, BI menggelar Pekan QRIS Nasional yang berlangsung pada 11-17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan penggunaan QRIS sekaligus memperkuat literasi masyarakat mengenai sistem pembayaran digital.
“Intinya bagaimana QRIS yang sudah diluncurkan sejak 17 Agustus 2019 ini tidak hanya dikenal, tetapi digunakan. Semakin banyak digunakan, transaksinya juga semakin banyak,” katanya.
Bayu menambahkan, edukasi mengenai QRIS tidak hanya berkaitan dengan kemudahan transaksi, tetapi juga pemahaman mengenai keamanan dalam bertransaksi secara digital.
Dalam rangkaian PQN 2026, BI mendorong berbagai kegiatan edukasi, onboarding atau pendaftaran merchant, showcase QRIS, perlombaan, hingga kegiatan yang memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat dalam menggunakan inovasi sistem pembayaran digital.
“Setelah mengalami langsung, biasanya masyarakat akan memahami. Kalau hanya melihat dari jauh, mungkin bertanya apa manfaatnya. Tetapi ketika langsung digunakan dan dirasakan, mereka akan tahu kemudahannya,” jelasnya.
QRIS sendiri dapat digunakan melalui berbagai aplikasi pembayaran yang telah mendukung standar tersebut, baik melalui mobile banking maupun dompet digital.
Menurut Bayu, PQN juga menjadi ruang kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, industri sistem pembayaran, pelaku usaha, UMKM, akademisi, komunitas, hingga masyarakat luas.
“Khususnya UMKM, akademisi, komunitas dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk jamaah masjid, untuk semakin memperluas penggunaan QRIS di berbagai sektor dan segmen masyarakat,” pungkasnya.
Melalui Kick Off PQN 2026 di Masjid Al-Markaz Al-Islami, edukasi QRIS diharapkan tidak hanya mendorong masyarakat mengenal transaksi digital, tetapi juga semakin terbiasa menggunakannya secara mudah, aman dan bertanggung jawab. (RB)



