Terapi Pencegahan TBC Makassar Baru 0,7 Persen, Dinkes Perkuat Tracing
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Pemerintah Kota Makassar menggelar gerakan serentak tracing tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan tersebut menyasar seluruh kecamatan, 153 kelurahan, dan seluruh puskesmas di Kota Makassar.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar dr. Nursaidah Sirajuddin mengatakan, gerakan tracing TBC tersebut akan berlangsung mulai Agustus hingga November 2026.
Menurutnya, terdapat 339 titik yang menjadi target pelaksanaan screening TBC. Setiap titik ditargetkan dapat menjaring sekitar 100 masyarakat untuk menjalani pemeriksaan.
“Target kita itu titiknya 339 se-Kota Makassar, yang dilaksanakan di seluruh kecamatan, di seluruh kelurahan 153, dan di semua puskesmas secara serentak,” ujar Nursaidah saat ditemui dalam kegiatan gerakan serentak tracing TBC di Puskesmas Antang Raya, Kecamatan Manggala, Selasa (11/8/2026).
Ia mengatakan, seluruh wilayah kelurahan di Makassar telah bergerak melakukan screening untuk mengejar target 339 titik hingga November mendatang.
Nursaidah mengungkapkan, target penemuan kasus TBC di Kota Makassar pada tahun ini berada di kisaran 9.800 kasus.
Ia menyebut capaian screening TBC di Makassar selama ini relatif baik dan bahkan berada di atas target nasional. Namun, persoalan yang masih menjadi perhatian adalah rendahnya cakupan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah pasien TBC.
“Yang rendah di Kota Makassar itu adalah pemberian terapi pencegahan tuberkulosis. Itu baru 0,7 persen,” ungkapnya.
Menurut Nursaidah, rendahnya cakupan TPT disebabkan masih adanya anggota keluarga pasien TBC yang enggan mengonsumsi obat pencegahan karena merasa dirinya sehat.
Padahal, kata dia, setiap orang yang menjadi kontak serumah pasien TBC perlu mendapatkan terapi pencegahan untuk mengurangi risiko penularan.
“Begitu kita dapatkan masyarakat yang terdiagnosa TBC, otomatis berapa pun orang di rumahnya itu harus kita terapi dengan pencegahan,” jelasnya.
Ia menilai edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu hal yang harus diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa terapi pencegahan diberikan untuk mencegah munculnya penyakit, bukan karena seseorang sudah dinyatakan menderita TBC.
Kecamatan Tallo Disebut Memiliki Kasus Tinggi
Nursaidah menyebut kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi menjadi wilayah yang lebih berisiko terhadap penularan TBC.
Ia menyebut Kecamatan Tallo sebagai salah satu wilayah yang memiliki kasus TBC tinggi, meski data rinci per kecamatan masih akan disampaikan lebih lanjut.
Menurutnya, kondisi hunian yang padat, tidak sehat, serta minim ventilasi dapat mempercepat penularan TBC.
“Penularan ini lebih cepat pada perumahan-perumahan yang tidak sehat dan padat penduduk. Yang tidak sehat itu yang tidak memiliki penghawaan atau ventilasi yang cukup,” katanya.
Untuk mendukung pencegahan penularan, Pemkot Makassar juga telah melakukan intervensi terhadap kondisi tempat tinggal pasien TBC.
Nursaidah mengatakan sejumlah rumah penderita TBC telah mendapatkan bantuan renovasi melalui kolaborasi pemerintah kota, Kementerian, dan Baznas.
Ia berharap kolaborasi lintas sektor tersebut terus diperkuat sehingga target penurunan kasus TBC dapat tercapai.
Upaya tersebut juga disebut sejalan dengan target pemerintah dalam penanggulangan TBC secara nasional, termasuk target penurunan kasus secara signifikan hingga 2029.
“Kita sama-sama berkolaborasi terkait dengan capaian program TBC dengan CKG di Kota Makassar,” pungkasnya. (RB)



