Dukung Indonesia Emas 2045, PT Vale Tampilkan Inovasi Pengurangan Sampah dari Hulu ke Hilir
JAKARTA, Radioalmarkaz.co.id- PT Vale Indonesia Tbk membawa praktik pengelolaan sampah berkelanjutan yang dikembangkan di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, ke ajang Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026.
Pameran yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 11-13 Juni 2026 itu menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk menampilkan inovasi teknologi dan solusi lingkungan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, turut hadir dalam pembukaan pameran dan menyambut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, di booth pameran perusahaan.
Melalui booth bersama MIND ID dan anggota holding lainnya, PT Vale memperkenalkan sejumlah program pengelolaan sampah yang telah diterapkan di wilayah operasionalnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan membangun ekonomi sirkular dengan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Di tingkat rumah tangga, PT Vale mengembangkan program Emberisasi yang mendorong pemilahan sampah organik langsung dari rumah warga.
Program yang diluncurkan pada Desember 2024 itu diawali dengan melibatkan 100 rumah karyawan di Perumahan Pontada, Sorowako.
Melalui program tersebut, rata-rata 100 kilogram sampah organik berhasil dikumpulkan setiap hari untuk kemudian diolah lebih lanjut.
Sampah yang terkumpul diproses di fasilitas pemilahan atau Segregation Plant yang mampu menangani 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik per hari.
Sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF yang mampu mengurai limbah organik secara efektif.
Maggot yang telah tumbuh kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan, menciptakan rantai ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.
Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi seperti plastik, botol kaca, dan scrap besi disalurkan ke bank sampah dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tercatat, sekitar empat ton sampah terpilah didonasikan setiap tahun melalui skema tersebut.
Untuk mendukung keseluruhan sistem pengelolaan sampah itu, PT Vale mengalokasikan anggaran lebih dari Rp700 juta setiap tahun.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan apa yang ditampilkan perusahaan di Jakarta merupakan praktik nyata yang telah berjalan dan memberikan dampak di Sorowako.
“Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep. Ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah,” ujarnya.
Menurut Bernardus, perusahaan tambang memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sekitar.
“Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan, dan ini adalah bukti kami,” katanya.
Partisipasi PT Vale dalam Invirotech 2026 juga sejalan dengan agenda Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) serta visi Indonesia Emas 2045.
Perusahaan menargetkan tercapainya nol sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) pada tahun 2050 sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan jangka panjang. (*)



