Di Tengah Polemik PSEL Makassar, PT SUS Gelar Dialog dan Kurban untuk Warga
Makassar, Radioalmarkaz.co.id- PT Sarana Utama Synergy (PT SUS) membuka dialog langsung bersama warga di sekitar lokasi pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Makassar di kawasan Tamalanrea, Jumat (29/5/2026).
Pertemuan yang berlangsung santai dan terbuka itu menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan berbagai kekhawatiran terkait proyek pengolahan sampah modern tersebut, mulai dari isu bau, pencemaran udara, dampak terhadap air tanah, hingga potensi banjir di sekitar lokasi.
Di tengah diskusi, PT SUS juga menggelar kegiatan sosial berupa pemotongan tiga ekor sapi kurban yang dagingnya dibagikan kepada sekitar 300 warga sekitar.
Dialog dipandu influencer Rijal Jamal dan menghadirkan sejumlah perwakilan perusahaan serta masyarakat setempat.
Perwakilan PT SUS, Richard selaku Electrical Engineering menjelaskan bahwa sistem PSEL Makassar menggunakan teknologi waste-to-energy modern yang telah diterapkan di berbagai negara.
Menurutnya, salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat terkait bau sampah sudah diantisipasi melalui sistem bunker tertutup bertekanan udara negatif.
“Udara dari luar masuk ke dalam bunker, bukan sebaliknya. Jadi bau dari sampah tidak keluar ke lingkungan karena langsung dialirkan ke ruang pembakaran,” jelas Richard.
Ia mengatakan, seluruh area penyimpanan sampah dibuat menggunakan lapisan beton untuk mencegah rembesan air lindi mencemari tanah maupun lingkungan sekitar.
Richard juga menegaskan proses pembakaran sampah dilakukan pada suhu lebih dari 1.000 derajat Celsius guna menekan terbentuknya zat berbahaya seperti dioksin dan furan.
Selain itu, emisi hasil pembakaran disebut tidak langsung dilepas ke udara, melainkan melewati beberapa tahap penyaringan menggunakan teknologi SCR, bag filter, dan karbon aktif dengan standar emisi Uni Eropa.
“Pengolahan emisinya berlapis dan menggunakan standar yang lebih ketat,” katanya.
Menjawab kekhawatiran warga soal penggunaan air tanah, PT SUS memastikan operasional pendinginan mesin tidak akan mengambil air dari sumur masyarakat.
Perusahaan mengaku menggunakan air dari Sungai Tallo yang telah melalui kajian teknis dan memperoleh izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Kami tidak memakai air tanah warga. Kebutuhan pendinginan menggunakan air Sungai Tallo dan sudah melalui riset termasuk saat musim kemarau,” ujar Richard.
Ia menjelaskan PT SUS merupakan bagian dari SUS Environment, perusahaan asal Tiongkok yang telah mengembangkan berbagai proyek waste-to-energy di sejumlah negara seperti China, Thailand, Vietnam, hingga Jepang.
Menurutnya, banyak fasilitas pengolahan sampah modern di negara maju justru dibangun dekat kawasan permukiman sehingga pengendalian emisi menjadi perhatian utama.
“Karena dekat permukiman, pengelolaan polusi dan emisinya harus benar-benar diperhatikan. Itu yang menjadi komitmen kami,” katanya.
Dalam dialog tersebut, PT SUS juga menjawab kritik terkait minimnya pelibatan masyarakat dalam proyek PSEL Makassar.
Richard menyebut warga telah dilibatkan dalam proses penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Bahkan beberapa tokoh masyarakat disebut pernah diajak langsung ke China untuk melihat operasional fasilitas waste-to-energy milik SUS Environment.
Salah seorang warga, H Arman, mengaku melihat langsung pengelolaan fasilitas tersebut saat berkunjung ke China bersama rombongan warga lainnya.
“Saya lihat sendiri di sana, tidak ada bau dan tidak ada suara bising. Kami sekitar 22 orang yang berangkat dan menilai teknologi ini layak diterapkan di Makassar,” ujarnya.
Menurut Arman, warga sebelumnya memang sempat khawatir karena lokasi proyek berada dekat permukiman penduduk di Tamalanrea.
Namun ia menyebut perusahaan telah memberikan penjelasan mengenai sistem pengelolaan lingkungan, termasuk rencana membantu penanganan drainase untuk mengurangi banjir di wilayah sekitar.
“Yang kami khawatirkan itu banjir dan drainase. Tapi PT SUS menyampaikan akan ikut membantu penanganannya,” katanya.
Ia juga mengaku sejumlah program sosial perusahaan mulai dirasakan masyarakat meski proyek belum sepenuhnya beroperasi.
“CSR-nya sudah mulai terasa sekarang. Kegiatan masyarakat sering dibantu. Apalagi nanti kalau proyek ini sudah berjalan penuh,” tuturnya.
Melalui dialog tersebut, PT SUS berharap masyarakat dapat memperoleh pemahaman lebih utuh mengenai teknologi PSEL yang akan dibangun sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka dengan warga sekitar proyek. (RB)



