Alumni Timur Tengah di ICATT Siap Bangun Narasi Islam Moderat di Era Digital
MAKASSAR,Radioalmarkaz.co.id- Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) menegaskan komitmennya membangun gerakan intelektual yang fokus pada penguatan narasi Islam moderat dan pencegahan radikalisme di ruang digital maupun lingkungan pendidikan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP ICATT, Mallingkai Ilyas usai pelantikan dan rapat kerja ICATT Periode 2026–2029 di Hotel Vasaka Makassar, Kamis (14/05)
Menurut Mallingkai, pelantikan tersebut dirangkaikan dengan dialog interaktif untuk menggali potensi organisasi sekaligus memperkuat kolaborasi lintas elemen masyarakat.
“Alhamdulillah kegiatan ini dihadiri sekitar 150 peserta, mulai dari tokoh agama, lintas agama, pimpinan ormas, hingga organisasi kepemudaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ICATT sebagai organisasi alumni Timur Tengah akan lebih aktif membangun narasi positif di tengah berkembangnya konten intoleransi dan provokasi di media sosial.
“ICATT ini gerakan intelektual. Kami ingin menjelaskan Islam rahmatan lil alamin, Islam moderat, prinsip tawassuth dan i’tidal atau keadilan dalam beragama,” katanya.
Menurutnya, narasi yang dibangun ICATT akan merujuk pada sumber-sumber ajaran Islam yang otentik serta pendekatan pemahaman keagamaan yang moderat dan relevan dengan perkembangan zaman.
Usai pelantikan, ICATT juga langsung menggelar rapat kerja untuk menyusun program organisasi selama tiga tahun ke depan. Dalam struktur kepengurusan baru, terdapat delapan bidang dan tiga lembaga otonom yang disiapkan untuk memperkuat kontribusi organisasi terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan.
Salah satu bidang baru yang dibentuk adalah bidang pencegahan terorisme, radikalisme, dan ekstremisme.
“Ini tantangan kebangsaan hari ini karena banyak narasi provokatif dan intoleransi berkembang di ruang digital. Karena itu ICATT akan masuk membangun kolaborasi lintas organisasi,” ujarnya.
Mallingkai mengungkapkan, ICATT telah melakukan audiensi dengan Densus 88 AT Polri Wilayah Sulawesi Selatan dan sejumlah lembaga moderasi untuk membangun gerakan pencegahan bersama.
Hasil koordinasi tersebut salah satunya akan diwujudkan melalui kampanye anti-radikalisme di sekolah dan madrasah dengan memberikan edukasi mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme kepada pelajar.
“Kami ingin masuk ke dunia pendidikan karena anak-anak sekarang sangat dekat dengan gadget dan informasi digital. Kalau tidak diberikan pemahaman yang baik, mereka bisa terpengaruh narasi negatif,” jelasnya.
Ia menyebut kelompok radikal saat ini banyak membangun jaringan melalui ruang digital sehingga pendekatan dakwah juga harus menyesuaikan perkembangan zaman.
“Bukan hanya dakwah di mimbar, tapi bagaimana membangun narasi positif di ruang-ruang digital,” tambahnya.
Selain itu, ICATT juga berupaya memperkuat identitasnya sebagai organisasi intelektual melalui pengembangan jurnal ilmiah, forum kajian, serta penguatan opini publik.
Menurut Mallingkai, meski baru memasuki kepengurusan baru, ICATT telah berhasil menerbitkan jurnal organisasi sebagai bagian dari penguatan tradisi akademik dan kontribusi pemikiran bagi agama, bangsa, dan negara.
“Kalau dulu fokus pembangunan fisik organisasi, sekarang kami ingin memperkuat pembangunan nonfisik melalui penguatan sumber daya manusia dan gerakan intelektual,” pungkasnya.(RB)



