Sinergi Unicef dan Pemprov Sulsel Tangani Anak Putus Sekolah

MAKASSAR, RAZFM – Dalam evaluasi pelaksanaan evaluasi Pelaksanaan Rencana Aksi Daerah Percepatan Penanganan Anak Tidak Sekolah (RAD-PPATS) sebagai upaya penguatan remaja dimana yang menjadi perhatian terhadap anak putus sekolah dan perkawinan dini anak serta masalah Kesehatan reproduksi.
Data terkait anak putus sekolah di Sulawesi Selatan, saat ini masih ada 159 ribu anak yang didominasi remaja perempuan, kemudian angka perkawinan anak mengalami kenaikan di tahun 2023 sebanyak 9,33 persen dibandingkan nasional sekitar 8 persen.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Andi Darmawan Bintang mengatakan evaluasi ada beberapa yang menjadi perhatian, tentunya diharapkan tindakan yang diambil mewakili apa yang menjadi persoalan di daerah.
“Kegiatan ini di evaluasi, bagaimana persoalan anak putus sekolah, kesehatan reproduksi, kemudian berkaitan dengan perkawinan dini, dengan rencana aksi itu kita harapkan bahwa tindakan yang kita ambil itu betul mewakili apa yang menjadi persoalan di daerah,” tukasnya usai membuka kegiatan, di Hotel Remcy Makassar Rabu (05/07/23).
Terkait Perkawinan anak Darmawan menilai diperlukan pendekatan khusus karena ini terkait dengan budaya yang saling berkaitan antar remaja kemudian kepada orang tua menjadi sangat penting.
“Tidak selamanya perkawinan dini itu positif, bahkan memperburuk terutama berkaitan dengan pengetahuan reproduksi anak yang masih remaja itu,” ujar Andi Darmawan.
“Kemudian yang kedua anaknya juga bisa terpengaruh kalau misalnya lahir di mana perlakuan selama kehamilan menjadi sangat tidak terurus,” sambungnya.
Sementara itu Sitti Eliza Mufti Spesialias Bidang Pendidikan Unicef Sulawesi dan Maluku menjelaskan banyak faktor yang menjadi penyebab putus sekolah dan juga perkawinan anak dimana saling berkaitan.
“Banyak faktor misalnya dari perekonomian, juga kemampuan mereka harus bekerja sendiri, harus bekerja membantu orang tua tapi juga banyak isu-isu lain terkait dengan perkawinan anak,” imbuhnya.
Ia mengemukakan bahwa banyak anak yang sulit kembali bersekolah karena sudah nyaman dengan dunia barunya.
“Keinginan untuk kembali itu sulit karena mereka sudah terbiasa, jadi memang butuh motivasi. Kami di program pada saat sudah kita temukan sekolah kita memberikan penguatan melalui kegiatan lingkaran lainnya ini untuk memberi motivasi agar kembali ke sekolah,” kata Sitti Eliza.
Sitti Eliza berharap dengan rencana aksi ini maka bisa mengembalikan mereka ke sekolah dan menekan angka perkawinan anak. UNICEF sendiri berharap bisa membantu melalui program bekerjasama dengan Pemerintah Daerah. (SB)



