Rendahnya Realisasi Stok Beras Rendah di Sulsel

MAKASSAR, RAZFM – Stok beras di Wilayah Perum Bulog khususnya Sulawesi Selatan, baru mencapai 170 ribu ton atau sekitar 60 persen dari target tahunan sebanyak 230 ribu ton
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sulselbar, H Bahtiar mengungkapkan bahwa realisasinya saat ini memang cukup rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Sekarang cuman dapat 170 ribu ton berarti cuman hampir 60 persen lebih tetapi itu kan belum sampai akhir tahun. kita tetap optimis kalau Sulawesi Selatan targetnya cuman 230 ribu ton,” ujar Bahtiar, Senin (3/10/2022).
Ia menjelaskan bahwa penyebab rendahnya realisasi stok beras di Sulsel ini ada dua, yakni cuaca yang kurang baik dan pedagang dari luar Sulsel yang serbu harga beras dengan harga yang lebih di atas dari Rp8.800 per kilo.
“Pertama memang jelas panen tahun ini tidak sebesar tahun kemarin karena beberapa wilayah itu hujannya sehinga produksinya tidak sebesar yang tahun kemarin. Iye harga-harga itu diserbu oleh pedagang di luar Sulawesi Selatan umunya pedagang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan,” ucapnya.
“Hari ini realisasinya cukup rendah karena memang pedangang-pedagang yang datang masuk di Sulawesi itu membeli harga di atas yang sudah ditetapkan pemerintah sehingga Bulog sulit untuk menyerap lebih banyak,” tambah dia.
Olehnya itu, ia berharap kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera membuat formulasi yang bisa memenuhi stok beras cadangan di Bulog.
“Tetapi satu hal yang harus didorong mungkin dalam hal ini pemerintah daerah memberikan himbauan agar memprioritas untuk mengisi di wilayah itu, makanya nanti bisa ke dinas pertanian tanaman pangan langkah-langkah apa yang dilakukan sehingga beras di Sulsel ini tidak semua keluar,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Diskominfo Sulsel Sultan Rakib menjelaskan kendala saat ini adalah banyak petani lebih memilih menjual hasil panen ke para pedagang dibandingkan ke Bulog, karena proses pembayarannya yang lebih cepat.
“Terkadang masyarakat ingin cepat menghasilkan uang, misalnya saya sudah panen ada pedagang beli harga sekian walau rendah tapi uang begitu cepat diperoleh, dibanding dengan Bulog dan lain sebagainya yang terlalu ribet,” tuturnya.
Ia menambahkan perlu Intervensi dari Dinas Perdagangan bersama Bulog untuk melakukan koordinasi termasuk soal harga eceran gabah.
“Ini yang menjadi masalah dan perhatian dinas perdagangan untuk melakukan penetrasi dan upaya intervensi untuk bagaimana caranya berkolaborasi dengan Bulog supaya hal-hal itu tidak terjadi lagi termasuk misalnya HET Harga Eceran Tertinggi di tingkat gabahnya karena terus terang petani itu selalu dikorbankan dengan HET,” ujarnya.
“Dinas perdagangan harus melakukan intevensi supaya harga eceran tertinggi gabah, gabah kering dan lain sebagainya bisa diwujudkan di Masyarakat,” terangnya. (RIS)



