Banner

OJK Regional Sulampua, 71 UMKM Binaan Berdaya Saing, Maju, dan Go Internasional

Banner
Banner

MAKASSAR, RAZFM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional VI Wilayah Sulawesi,Maluku, Papua (Sulampua), menggelar kegiatan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Summit 2022 Region Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Mall PIPO Makassar Senin, 19/12/22.

Pada kegiatan tersebut dilakukan wisuda kepada 71 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Berdaya Saing, Maju, dan Go Internasional, binaan dari Bank BNI, bank BRI, bank Sulselbar dan ban mandiri.

Selain itu juga ada penyerahan penghargaan diberikan kepada tiga daerah sebagai TPAKD terbaik 2022 diantaranya Kab. Luwu Timur, Kab. Gowa, dan Kab. Polewali Mandar.

Turut hadir, Sarjito Deputi Komisioner Edukasi Dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan, Darwisman Kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, Mahendra Siregar
Ketua Dewan Komisioner OJK Republik Indonesia, Plh Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel Andi Aslam Patonangi, serta kepala daerah Se-Sulsel.

Pada kesempatan tersebut Kepala OJK Regional VI Wilayah Sulampua, Darwisman menyampaikan perkembangan Perbankan di Sulawesi Selatan posisi Oktober 2022 tumbuh positif, ditopang fungsi intermediasi yang tinggi dan disertai tingkat risiko yang tetap aman.

“Industri perbankan masih tumbuh positif dengan kinerja intermediasi perbankan yang tetap tinggi.

Total aset perbankan di Sulawesi Selatan posisi Oktober 2022 tumbuh 7,04% yoy dengan nominal mencapai Rp171,25 triliun, terdiri dari aset Bank Umum Rp168,07 triliun dan aset BPR Rp3,18 triliun,” papar Darwisman lewat sambutannya.

Darwisman mengungkapkan berdasarkan kegiatan bank, aset perbankan konvensional Rp159,21 triliun dan aset perbankan syariah Rp12,04 triliun. Kinerja intermediasi perbankan Sulsel terjaga pada level yang tinggi dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 116,52% dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level aman 3,17%.

“Industri perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan Aset perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan tinggi yakni 14,82% yoy dengan nominal Rp12,04 triliun dan pertumbuhan pembiayaan syariah mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 21,43% yoy lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit konvensional yang tumbuh sebesar 4,23% yoy,” terangnya.

Dirinya menerangkan penghimpunan DPK perbankan syariah mencatat pertumbuhan 7,99% yoy dengan nominal Rp8,05 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK perbankan konvensional 2,39% yoy dengan nominal Rp108,79 triliun.

Industri BPR tetap tumbuh berkelanjutan. Aset BPR tumbuh 2,19% yoy menjadi Rp3,18 triliun, dengan penghimpunan DPK yang tumbuh doub2le digit 30,54% yoy menjadi Rp2,19 triliun, dan dari sisi penyaluran kredit tumbuh 7,17% yoy menjadi Rp2,61 triliun,” jelas Darwisman.

Lanjut Darwisman, pertumbuhan kredit Bank tumbuh lebih tinggi dibandingkan Penghimpunan DPK Penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 7,80% yoy menjadi Rp137,26 triliun, terdiri dari kredit produktif Rp74,43 triliun dan kredit konsumsi Rp62,83 triliun.

“Berdasarkan sektor lapangan usaha, pertumbuhan kredit dengan share tertinggi yakni sektor perdagangan 26,66% (9,20% yoy), sektor petanian, perburuan dan kehutanan 7,48% (29,38% yoy), dan industri pengolahan 4,36% (15,21% yoy),” jelasnya.

Kredit usaha mikro terus tumbuh Realisasi kredit kepada UMKM di Sulsel tumbuh 19,81% yoy menjadi Rp53,84 triliun. Pertumbuhan tertinggi terdapat pada kredit usaha mikro 122,55% yoy menjadi Rp24,81 triliun. Adapun kredit usaha kecil tumbuh 3,33% yoy menjadi Rp19,08 triliun namun penyaluran kredit usaha mikro menengah 35,08% yoy menjadi 9,95 triliun. (SB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *