Banner

Makassar Buktikan Komitmen Kota Inklusif, Penghargaan Internasional Ikut Diraih

 Makassar Buktikan Komitmen Kota Inklusif, Penghargaan Internasional Ikut Diraih
Banner
Banner

MAKASSAR,Radioalmarkaz.co.id- Upaya membangun Kota Makassar yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak.

Salah satunya diwujudkan melalui peresmian Tembok Setara, mural edukatif yang mengangkat pesan kesehatan mental dan kesetaraan, di Makassar, Sabtu (10/10/2026).

Peresmian tersebut menjadi bagian dari Festival Titik Koma 2.0 yang digagas Mentari Foundation bersama Lingkar Bertahan, sebuah inisiatif kesehatan mental di bawah naungan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin.

Festival ini digelar bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Kegiatannya menjadi ruang interaksi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental sekaligus mendorong terciptanya ruang publik yang ramah bagi semua orang, khususnya penyandang disabilitas psikososial.

Tembok Setara sendiri hadir sebagai media edukasi publik yang mengangkat aspirasi dan pengalaman warga muda Kota Makassar.

Melalui mural tersebut, pesan mengenai kesehatan mental, kesetaraan, dan pentingnya penerimaan terhadap keberagaman disampaikan melalui pendekatan visual yang dapat diakses masyarakat luas.

Staf Ahli Wali Kota Makassar Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik,  Akhmad Namsum, yang hadir mewakili Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, menekankan pentingnya perhatian bersama terhadap kesehatan mental.

Menurutnya, disabilitas mental atau psikososial kerap kurang mendapat perhatian karena kondisinya tidak selalu terlihat secara fisik.

“Kesehatan mental perlu menjadi perhatian kita bersama. Isu ini sering kali luput dari perhatian, terutama karena disabilitas mental tidak tampak secara fisik. Pemerintah Kota Makassar berkomitmen penuh untuk terus mewujudkan kota yang benar-benar inklusif dan setara bagi semua,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak, mulai dari organisasi penyandang disabilitas, kalangan akademisi, hingga masyarakat dalam membangun lingkungan perkotaan yang inklusif.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar penyandang disabilitas dan kelompok rentan memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial serta pembangunan kota.

Makassar Terima Pengakuan Internasional

Selain peresmian Tembok Setara, kegiatan tersebut juga menjadi momentum penyerahan simbolis penghargaan internasional kepada Pemerintah Kota Makassar melalui program Gerakan Kota Inklusif Makassar.

Penghargaan itu diberikan dalam ajang 20th International Observatory on Participatory Democracy (OIDP) Awards untuk kategori Best Practice in Citizen Participation, dengan penghargaan khusus pada kategori Gender and Care.

Penghargaan tersebut dianugerahkan pada 23 September 2026 di Krakow, Polandia, sebagai pengakuan terhadap praktik partisipasi warga dalam mendorong pembangunan yang lebih inklusif.

Fasilitator Senior Kota Kita, Fuad Jamil, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Makassar, organisasi penyandang disabilitas, Kota Kita, dan berbagai mitra lainnya.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi bagian penting dalam mendorong kebijakan yang memperhatikan kesetaraan dan kebutuhan kelompok rentan.

Ia berharap penghargaan internasional tersebut dapat menjadi penyemangat untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, termasuk dalam perumusan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan penyandang disabilitas.

Libatkan Penyandang Disabilitas dalam Pembangunan

Gerakan Kota Inklusif Makassar merupakan kemitraan jangka panjang antara Kota Kita, Pemerintah Kota Makassar, Ford Foundation, dan UNESCO yang dimulai pada 2025.

Program ini mendorong terciptanya lingkungan perkotaan yang inklusif bagi penyandang disabilitas melalui pendekatan co-design atau perancangan bersama, dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

Sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya penyusunan Profil Inklusif Disabilitas Kota Makassar, peningkatan kapasitas organisasi penyandang disabilitas melalui program Suara Inklusi, serta pelibatan penyandang disabilitas dan kelompok rentan dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah.

Gerakan ini juga mendorong penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Kelompok Rentan di Kota Makassar.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, penyandang disabilitas diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam menentukan arah kebijakan kota.

Rangkaian Festival Titik Koma 2.0 sekaligus mempertegas pentingnya membangun ruang publik yang aman, setara, dan dapat diakses semua orang.

Kolaborasi antara pemerintah, organisasi penyandang disabilitas, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan terus berkembang untuk mewujudkan Makassar sebagai kota yang memberikan kesempatan berpartisipasi secara adil bagi seluruh warganya. (*)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *