Banner

Industri Pengolahan di Sulsel Diproyeksikan Turun pada Triwulan III 2025, BI Dorong Optimalisasi Sektor Pertanian

 Industri Pengolahan di Sulsel Diproyeksikan Turun pada Triwulan III 2025, BI Dorong Optimalisasi Sektor Pertanian
Banner
Banner

Makassar, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bahwa industri pengolahan di Sulawesi Selatan (Sulsel) akan mengalami penurunan pada triwulan ketiga tahun 2025. Hal ini disampaikan dalam acara Sulsel Talk 2025 yang digelar di Kantor Perwakilan BI Sulsel, Makassar, Selasa (12/8/2025), dengan tema “Mendorong Akselerasi Ekonomi Sulsel di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global.”

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa penurunan ini bukan hanya terjadi di Sulsel, melainkan juga di wilayah lain seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara, khususnya di sektor nikel.

“Kondisi industri pengolahan menurun akibat kelebihan suplai global yang menyebabkan harga turun, sementara biaya produksi tetap tinggi. Ini menyebabkan performa industri nikel melambat dan berdampak pada pemutusan hubungan kerja di sejumlah smelter,” ungkap Rizki.

Selain industri pengolahan, sektor pertanian juga mengalami penurunan setelah masa panen berakhir. Namun demikian, sektor ini tetap dianggap sebagai penopang utama ekonomi Sulsel.

Langkah Strategis: Tim Pinisi Sultan dan Promosi Investasi

Untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang pada triwulan kedua 2025 berada di angka 4,94%, BI bersama Pemerintah Provinsi Sulsel dan berbagai stakeholder membentuk Tim Pinisi Sultan. Tim ini bertugas mendorong masuknya investasi melalui promosi intensif kepada investor nasional dan internasional.

Salah satu langkah strategisnya adalah menggelar lomba investasi antar kabupaten/kota. Dari hasil seleksi, enam daerah dengan penawaran investasi terbaik akan dipromosikan secara resmi. Pada Oktober 2025, investor, termasuk perwakilan dagang seperti komjen dan duta besar, akan diundang ke Sulsel untuk melihat langsung potensi investasi.

“Mayoritas potensi investasi Sulsel ada di sektor pertanian. Jika ditarik lebih spesifik, subsektor perikanan merupakan yang terbesar, disusul perkebunan dan tanaman pangan. Ini yang harus terus dioptimalkan,” ujar Rizki.

Tantangan Inflasi dan Solusi Berbasis Komunitas

Selain tantangan industri, Sulsel juga menghadapi tekanan inflasi, terutama dari bahan pangan. Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi adalah beras, cabai, dan tomat.

Sebagai bentuk mitigasi, Rizki mendorong pemanfaatan lahan pekarangan oleh masyarakat untuk menanam cabai, tomat, dan merica, guna memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan menekan laju inflasi.

“Langkah-langkah ini penting agar tekanan inflasi bisa dikendalikan dari sisi suplai, dan masyarakat juga mendapatkan manfaat langsung dari ketahanan pangan lokal,” pungkasnya.(RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *