Empat Dekade Ketulusan ; Rahmi Saleh dan Jejaknya di Dunia Pendidikan
Makassar, RADIOALMARKAZ.CO.ID – Di balik peringatan Hari Guru Nasional, kisah seorang pendidik senior Sekolah Islam Athirah menarik perhatian. Rahmi Saleh, guru kelas satu yang telah mengabdikan dirinya selama empat dekade, menjadi potret keteladanan yang lahir dari keikhlasan dan komitmen.
Rahmi tak pernah merencanakan menjadi guru. Ia mengenang masa mudanya ketika memilih masuk SPG hanya karena mayoritas keluarganya berprofesi sama. Namun siapa sangka, keputusan sederhana itu membawanya menapaki perjalanan panjang yang membuatnya menjadi bagian penting dalam sejarah Athirah.
“Saya sebenarnya tidak bercita-cita jadi guru,” ucapnya sambil tersenyum.
Dari awal mengajar di Athirah, jumlah guru dari TK hingga SMA tak lebih dari 30 orang. Gaji pertamanya pun hanya Rp25.000. Namun menurutnya, nilai menjadi guru tidak pernah diukur dari materi, melainkan dari kebersamaan, kasih sayang, dan ruh keikhlasan yang ia rasakan di lingkungan sekolah itu.
Menjadi guru kelas satu membuat Rahmi memahami betapa pentingnya peran pendidik pada masa-masa awal kehidupan anak. Mereka datang dengan karakter polos yang sering kali tak terduga.
“Biasa ada siswa yang tiba-tiba buang air di kelas. Ya kami yang bersihkan sendiri,” tuturnya mengenang. Tidak ada keluhan, karena baginya, mendampingi tumbuh kembang anak berarti menerima seluruh prosesnya. “Kunci jadi guru itu keikhlasan.”
Setiap hari ia berangkat dari rumahnya di Sudiang dan memastikan tiba sebelum pukul 06.30. Disiplin, menurutnya, adalah teladan utama. “Guru harus lebih dulu memperlihatkan kedisiplinan. Anak akan meniru apa yang mereka lihat.”
Meski beberapa kali mendapat tawaran jabatan strategis seperti kepala sekolah maupun pengawas, Rahmi memilih tetap menjadi guru di kelas awal. Alasannya sederhana namun menyentuh.
“Karena saya cinta Athirah. Sebelum menikah saya sudah di sini. Terlalu banyak cerita dan kenangan.”
Rahmi telah menyaksikan perubahan besar di Athirah, mulai dari fasilitas, kurikulum, hingga generasi murid yang silih berganti. Kini, sebagian murid pertamanya bahkan kembali mempercayakan anak mereka untuk ia didik kembali — sebuah lingkaran kehidupan yang membuatnya terharu.
Menjelang masa purna tugasnya beberapa bulan lagi, Rahmi mulai meresapi pergantian babak baru dalam hidupnya. Ada sedih yang ia simpan, ada bangga yang ia biarkan tumbuh diam-diam.
“Ini masa-masa terakhir saya di Athirah,” ucapnya lirih.
Empat puluh tahun bukan waktu singkat. Dari tangan Rahmi Saleh, ribuan anak pernah memulai perjalanan belajar mereka. Dan meski masa pengabdiannya segera memasuki akhir secara formal, ketulusan, kesabaran, dan cinta yang ia tanamkan akan terus hidup di ruang-ruang kelas yang pernah ia isi. (*)



