Bukan Sekadar Ijazah, Ini Pesan Rektor UMI kepada 2.866 Wisudawan
MAKASSAR – Universitas Muslim Indonesia (UMI) mewisuda sebanyak 2.866 lulusan dalam dua hari pelaksanaan wisuda di Hotel Claro Makassar, Kamis-Jumat (27-28/8/2026).
Pada pelaksanaan wisuda Jumat (28/8), sebanyak 1.292 wisudawan dan wisudawati resmi menyandang gelar akademik dari sejumlah fakultas dan program pascasarjana.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya peran lulusan perguruan tinggi agar tidak berhenti pada kemampuan memahami dan menjelaskan persoalan, tetapi mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Pesan tersebut dirangkum dalam identitas yang ingin ditanamkan UMI kepada para lulusannya, yakni “Sarjana Sebagai Jalan Keluar.”
“Jangan hanya mampu menjelaskan masalah, tetapi mari kita sama-sama ikut menyelesaikan masalah itu,” tegas Prof. Hambali di hadapan para wisudawan dan keluarga.
Menurutnya, perubahan membutuhkan manusia yang mau bergerak dan mengambil peran. Karena itu, para lulusan UMI diharapkan mampu menggunakan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prof. Hambali juga mengingatkan pesan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan yang harus dimulai dari diri sendiri. Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai keutamaan membantu sesama.
UMI Terus Bertransformasi
Pesan perubahan, kata Prof. Hambali, tidak hanya ditujukan kepada para lulusan. UMI juga harus terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Saat ini, UMI memiliki 71 program studi. Lima program studi baru telah dibuka, yakni Pendidikan Profesi Guru Agama, Magister Kenotariatan, Doktor Teknik Kimia, Doktor Teknik Sipil, dan Magister Ilmu Biomedis.
Selain itu, empat program studi UMI memperoleh akreditasi unggul, yakni Teknik Informatika, Sistem Informasi, Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta Pendidikan Bahasa Arab.
Pengembangan akademik tersebut ditopang sekitar 1.034 dosen dan 117 guru besar.
Dari sektor riset, UMI memiliki 1.216 dokumen terindeks Scopus dan 41 jurnal terakreditasi SINTA. Total dana riset mencapai Rp21,14 miliar.
Khusus hibah Kemendikbudristek 2026, UMI memperoleh Rp5,7 miliar untuk 54 judul penelitian. Mahasiswa UMI juga telah menghasilkan 94 purwarupa karya riset dan teknologi.
Prof. Hambali menegaskan, capaian tersebut tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan institusi.
“Riset yang baik harus semakin dekat dengan persoalan yang perlu diselesaikan,” ujarnya.
UMI Menuju Universitas Preventif
Transformasi UMI juga dilakukan melalui pengembangan UMI Connection, yang mengintegrasikan satu akses, satu data, satu proses dan satu dashboard eksekutif berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Prof. Hambali, pemanfaatan teknologi tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan kecanggihan kampus. Sistem tersebut diarahkan untuk mempercepat pelayanan, meningkatkan akurasi data, memperbaiki pengambilan keputusan dan mendeteksi persoalan mahasiswa sejak dini.
Arah tersebut disebutnya sebagai konsep UMI sebagai Universitas Preventif.
Prof. Hambali mencontohkan kebijakan UMI memberikan beasiswa afirmasi penyelesaian studi senilai Rp1,599 miliar kepada 120 mahasiswa yang hampir menyelesaikan pendidikan namun menghadapi kendala biaya.
Para mahasiswa tersebut menghadapi berbagai persoalan, mulai dari orang tua meninggal dunia, kehilangan pekerjaan, penurunan usaha keluarga, penyakit, perceraian hingga tekanan ekonomi.
“Administrasi hanya melihat ada masalah penyelesaian studi, tetapi universitas yang peduli bertanya: apa yang terjadi pada manusianya?” katanya.
Lulusan Diminta Adaptif di Era AI
Prof. Hambali juga meminta para wisudawan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat, termasuk perkembangan kecerdasan buatan.
Menurutnya, para alumni kemungkinan akan bekerja pada profesi yang saat ini bahkan belum dikenal.
Karena itu, ia meminta lulusan tidak hanya membawa ijazah ketika meninggalkan kampus.
“Bawalah lebih dari ijazah. Bawalah kemampuan belajar kembali, keberanian beradaptasi dan mengambil keputusan dengan integritas, serta iman yang menjaga arah kehidupan,” pesannya.
Prof. Hambali menegaskan, AI bukan tujuan akhir pendidikan.
“Manusia tetap tujuan kita,” ujarnya.
Teknologi harus digunakan untuk memperbaiki pelayanan, data untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat, sementara AI harus membantu pembelajaran dan pekerjaan. Namun seluruhnya tetap harus dikendalikan oleh iman, adab, integritas dan tanggung jawab.
UMI Ingin Jadi Mitra Solusi Negara
Dengan 24.424 mahasiswa, 117 guru besar, lebih dari 1.000 dosen, rumah sakit, laboratorium penelitian, teknologi serta jejaring alumni, Prof. Hambali menilai UMI memiliki potensi besar untuk menjadi mitra solusi bagi negara.
“Perguruan tinggi tidak cukup dikenal karena apa yang dimilikinya. Perguruan tinggi harus dipercaya karena persoalan yang mampu ikut diselesaikannya,” tegasnya.
Karena itu, para lulusan UMI diharapkan membawa semangat tersebut ketika kembali ke tengah masyarakat.
Ilmu yang diperoleh di kampus tidak hanya menjadi bekal mencari pekerjaan, tetapi juga menjadi kemampuan membaca persoalan, melihat peluang, menciptakan solusi dan menghadirkan manfaat.
Menutup sambutannya, Prof. Hambali mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan orang tua yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan mereka.
Di balik berbagai capaian akademik, teknologi dan prestasi kampus, terdapat harapan sederhana dari orang tua agar anak-anak mereka menjadi pribadi yang baik, berintegritas dan bermanfaat bagi sesama.



