Ali Yafid Rancang Gerakan Ekoteologi Berbasis Kearifan Lokal Sulsel
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penguatan kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan ekoteologi yang berbasis pada kearifan lokal.
Gagasan tersebut diperkenalkan Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, melalui proyek perubahan bertajuk “Strategi Implementasi Ekoteologi di Sulawesi Selatan Berbasis Kearifan Lokal melalui Gerakan BARISAN SIPAKAINGE.”
Proyek perubahan itu dipresentasikan dalam Seminar Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026.
Melalui inovasi tersebut, Ali Yafid ingin agar kegiatan peduli lingkungan tidak hanya dilakukan secara sesaat atau dalam bentuk kegiatan tertentu, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem dan budaya organisasi.
Konsep yang ditawarkan juga dirancang agar penerapan ekoteologi memiliki indikator yang jelas, dapat dipantau, dievaluasi, serta dikembangkan di berbagai satuan kerja.
BARISAN merupakan akronim dari tujuh indikator lingkungan, yakni Bersih, Asri, Rindang, Indah, Sehat, Aman, dan Nyaman.
Sementara itu, SIPAKAINGE mengambil nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan yang mengandung semangat untuk saling mengingatkan. Nilai tersebut kemudian diterapkan dalam membangun norma, perilaku, dan budaya yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Ali Yafid menilai pendekatan berbasis kearifan lokal penting agar gerakan ekoteologi dapat lebih mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
“ Saya ingin mendorong Ekoteologi bergerak dari gagasan menjadi sistem, dari kegiatan menjadi budaya, dan dari komitmen menjadi dampak yang terukur dan berkelanjutan,” ungkap Ali Yafid.
Dalam rancangan tersebut, implementasi BARISAN SIPAKAINGE akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal dilakukan melalui penyusunan pedoman dan indikator, kemudian dilanjutkan dengan penerapan pada lokasi percontohan atau pilot project.
Hasil penerapan selanjutnya akan dievaluasi untuk melihat efektivitas model yang dikembangkan. Dari hasil evaluasi tersebut, konsep akan disempurnakan sebelum diterapkan pada satuan kerja lainnya.
Model ini disiapkan untuk menjawab sejumlah persoalan dalam penerapan ekoteologi yang selama ini dinilai masih berjalan secara sporadis. Selain itu, belum adanya standar dan indikator bersama serta sistem pemantauan yang terstruktur juga menjadi perhatian dalam proyek perubahan tersebut.
Ali Yafid berharap gerakan ini tidak hanya melibatkan aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag. Penguatan ekoteologi juga diharapkan melibatkan lembaga keagamaan, dunia pendidikan, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.
Dengan kolaborasi tersebut, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat berkembang menjadi budaya bersama dan tidak bergantung pada kegiatan tertentu.
Dalam penyusunan proyek perubahan ini, Ali Yafid mendapat pendampingan dari Mentor Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. dan Coach H. Achmad Nidjam, M.M. Sementara rancangan tersebut diuji dalam seminar oleh Prof. Dr. H. Arskal Salim GP, M.A.
Ke depan, BARISAN SIPAKAINGE diarahkan untuk dapat masuk ke dalam kebijakan, program, dan kinerja organisasi.
Dengan begitu, proyek perubahan yang lahir dari PKN Tingkat II tersebut diharapkan dapat terus berjalan setelah pelatihan selesai dan dikembangkan pada satuan kerja lainnya di lingkungan Kementerian Agama Sulawesi Selatan. (*)



