Cegah Stunting di Sulsel, Gerakan GENTING Diperluas hingga Mitra Pentahelix
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai Terbaik Pertama Regional II dalam Pekan GENTING 2026.
Capaian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam membantu keluarga berisiko stunting di Sulawesi Selatan.
Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Kemitraan GENTING bersama Mitra Pentahelix di Provinsi Sulawesi Selatan, yang digelar di Claro Hotel Makassar, Kamis (8/10/2026).
Ketua Tim Kerja Penggerakan Masyarakat dan Pengelolaan Lini Lapangan Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Sulsel, Siti Sulfiani, mengatakan sarasehan tersebut digelar untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui GENTING.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur, baik pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, komunitas maupun masyarakat secara individu, menjadi bagian penting dalam keberlanjutan gerakan tersebut.
Sarasehan juga menjadi wadah untuk bertukar informasi, berbagi pengalaman dan praktik baik, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala dalam pelaksanaan GENTING di daerah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan
Sementarq, Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Yuni Hastini, mengatakan capaian GENTING secara nasional masih perlu terus ditingkatkan.
Berdasarkan pemantauan laporan dari seluruh provinsi, nilai bantuan yang telah terkumpul hingga saat ini baru sekitar Rp80 miliar. Angka tersebut masih jauh dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang diperkirakan mencapai Rp290 miliar.
“Kalau tahun lalu kita estimasikan bantuan itu sampai di angka Rp290 miliar, sekarang ini masih baru merangkak ke Rp80 miliar,” kata Yuni.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Tim Pengendali GENTING di tingkat pusat maupun daerah untuk terus memperluas partisipasi masyarakat.
Yuni menegaskan, dukungan terhadap GENTING tidak harus selalu berasal dari perusahaan melalui program CSR. Masyarakat secara individu juga dapat berkontribusi sesuai kemampuan.
“Bahkan dengan koin Rp1.000, Rp2.000 tentu saja kita bisa membantu masyarakat lain yang membutuhkan, terutama untuk menyelamatkan generasi Indonesia ini,” ujarnya.
Fokus Intervensi Langsung
Yuni menjelaskan, Kemendukbangga/BKKBN berfokus pada intervensi sensitif dalam upaya pencegahan stunting.
Intervensi tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan keluarga di lapangan, kemudian menghubungkannya dengan dukungan dari para mitra.
Bentuk bantuan dapat berupa pemenuhan pangan bergizi, akses air bersih hingga perbaikan atau pembangunan rumah layak bagi keluarga yang membutuhkan.
“Pak Menteri selalu menekankan kita untuk selalu action. Jadi tidak banyak rapat-rapat, tidak banyak dari pertemuan ke pertemuan, tetapi langsung turun ke lapangan,” katanya.
Ia menyebut, bantuan GENTING yang telah dihimpun secara nasional hampir Rp80 miliar tersebut berasal dari kontribusi mitra pentahelix dan bukan bersumber dari APBN maupun APBD.
Sulsel Dinilai Cepat Menutup Kebutuhan
Yuni juga menilai Sulsel layak meraih predikat terbaik Regional II karena dinilai mampu menghubungkan hasil pendataan dengan kebutuhan intervensi di lapangan.
Ketika ditemukan keluarga yang membutuhkan bantuan nutrisi maupun edukasi, kebutuhan tersebut dapat segera dihubungkan dengan mitra yang mampu memberikan dukungan.
“Gerakannya cepat. Makanya Sulawesi Selatan ini mendapat terbaik untuk Regional II karena bisa melakukan pendampingan sekaligus bisa menutup kebutuhan intervensinya,” ujar Yuni.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat keluarga yang membutuhkan bantuan dan kemungkinan belum seluruhnya teridentifikasi.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, serta berbagai unsur masyarakat perlu terus diperkuat.
“Ini tidak hanya untuk satu dinas saja. Sebenarnya kita bergotong royong, harusnya kita menjadi teamwork yang bagus untuk pencegahan ini,” katanya.
Tana Toraja Masih Jadi Perhatian
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Sulsel, A. Nur Sinda, mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong aksi bersama dalam penanganan stunting.
Berdasarkan data yang dibahas dalam rapat sebelumnya, Tana Toraja tercatat memiliki angka stunting sekitar 29 persen, disusul Jeneponto.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah provinsi untuk memperkuat aksi di daerah dengan angka stunting yang masih tinggi.
“Bu Wagub tetap menekankan aksi dua daerah,” kata Nur Sinda.
Melalui Sarasehan Kemitraan GENTING, pemerintah berharap praktik baik yang telah berjalan di Sulsel dapat terus dikembangkan dan direplikasi.
Keterlibatan dunia usaha, organisasi masyarakat, media, komunitas hingga individu sebagai orang tua asuh juga diharapkan semakin luas untuk membantu keluarga berisiko stunting. (RB)



