BI Sulsel Ungkap Tiga Prioritas Pengembangan Wisata Ramah Muslim
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id- Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim (PRM) di Sulawesi Selatan mulai diarahkan pada penguatan ekosistem, bukan hanya penyediaan fasilitas bagi wisatawan muslim.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memetakan sejumlah aspek yang perlu diperkuat melalui Forum Diskusi Kajian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 di Kantor BI Sulsel, Rabu (2/9/2026).
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Firman Hidayat, menyebut terdapat tiga area utama yang menjadi perhatian dalam pemetaan destinasi wisata di Sulsel.
Pertama, menyangkut kenyamanan dan aksesibilitas wisatawan. Aspek ini mencakup konektivitas menuju destinasi, kebersihan, keamanan, kemudahan memperoleh informasi hingga kelancaran transaksi digital.
Kedua, pengembangan standar layanan yang bersifat global dan universal. Fasilitas dan pelayanan wisata diharapkan mampu memenuhi kebutuhan wisatawan muslim sekaligus tetap nyaman bagi wisatawan dari berbagai latar belakang.
Aspek ketiga adalah integrasi potensi lokal atau linkage. Destinasi wisata didorong memiliki keterhubungan dengan sektor ekonomi daerah, khususnya UMKM dan industri kuliner khas Sulawesi Selatan.
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari kajian IMTI 2026 yang digunakan untuk melihat kesiapan ekosistem pariwisata ramah muslim di Sulawesi Selatan.
Kepala KPwBI Sulsel, Rezky Ernadi Wimanda, mengatakan kajian tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan posisi atau pemeringkatan destinasi.
Menurutnya, asesmen IMTI dapat menjadi instrumen untuk memetakan kondisi dan kebutuhan pengembangan ekosistem pariwisata ramah muslim di daerah.
“Pemetaan ini menjadi pijakan komprehensif bagi Sulawesi Selatan untuk mengukur kesiapan ekosistem pariwisata ramah muslim,” ujar Rezky.
Ia berharap hasil kajian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Sulawesi Selatan.
Dalam proses IMTI 2026, Sulawesi Selatan masuk dalam jajaran 15 besar tahap penentuan rating dan ranking Destinasi Wisata Halal Unggulan Indonesia 2026 dari 14 provinsi yang dinilai.
Forum tersebut turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan Andi Mirna, Ekonom Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Annisa Elma Nabila, serta Tim Kajian IMTI Pusat dari Enhai Halal Tourism Center (EHTC) Poltekpar NHI Bandung dan CrescentRating.
Penguatan pariwisata ramah muslim juga dikaitkan dengan pengembangan rantai nilai halal atau halal value chain. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri, UMKM dan asosiasi pariwisata dinilai menjadi bagian penting untuk memperluas dampak ekonomi dari sektor pariwisata.
Melalui penguatan akses, kualitas layanan dan keterhubungan dengan potensi ekonomi lokal, pengembangan PRM di Sulsel diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga membuka ruang bagi pertumbuhan UMKM dan sektor ekonomi daerah.
Hasil kajian IMTI 2026 selanjutnya diharapkan dapat menjadi salah satu dasar untuk memperkuat pengembangan (*) pariwisata ramah muslim dan ekosistem ekonomi syariah di Sulawesi Selatan.



